<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052</id><updated>2011-12-15T03:38:26.163-08:00</updated><category term='grenengan'/><category term='rerasan'/><category term='lirik cantik'/><category term='suara suara'/><category term='tulisan lama'/><category term='dolanan banyu'/><category term='dari Aksara'/><category term='raung oh raung'/><title type='text'>tulis dan baca</title><subtitle type='html'>membuat kata dan makna</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>49</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-5684225602143483297</id><published>2011-12-15T03:36:00.000-08:00</published><updated>2011-12-15T03:38:26.189-08:00</updated><title type='text'>Tong Sampah Yang Terlalu Bagus : Catatan Untuk B.S. Wirawan</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Chairil Anwar dalam surat-suratnya kepada Yamin pernah berujar bahwa ada beberapa karya yang harus dibuang di tempat sampah. Proses penciptaan puisi yang dia gambarkan sebagai proses berhari-hari yang baru kemudian karya itu layak dianggap sebagai puisi. Proses, adalah hal yang akan kita amini sebagai bagian penting dalam segala hal.  Karena tak banyak dari kita yang bisa membuat sesuatu hal secara ajaib dengan proses singkat macam kisah Bandung Bondowoso atau Sangkuriang – yang terbukti gagal, maka kita sudah diajari dari dulu bahwa semua butuh proses, dan tak jarang butuh proses yang lama untuk mewujudkan sesuatu. Sayang, kita tidak memiliki waktu tidak memiliki apa-apa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Saya hanya ingin bercerita tentang cerita sebuah rumah tangga, Ibu, Ayah dan Andi. Ayah dan Ibu adalah gambaran kelas pekerja era belakangan yang menyematkan nama kelas eksekutif untuk membohongi kenyataan bahwa dirinya hanyalah kelas pekerja.  Ayah dan Ibu sibuk bekerja, dan Andi sang anak yang butuh kasih sayang sebagai bagian dari kebutuhan perkembangan seorang anak harus terkorbankan. Maka tumbuh kembang Andi menjadi sosok yang memberontak sosok yang tidak mau diatur mengembara sepanjang cerita. Ibu yang keras, yang lebih sering mengumbar amarah berbanding dengan sang Ayah yang melepas anak mempercayai anaknya akan tumbuh kembang menjadi dewasa. Tapi sang Ayah jua terjebak pada pakem lokal feodal, istri bertanggung jawab pada anak, yang seharusnya merawat anak, padahal sang Ibu adalah sosok wanita eksekutif pengejar karir. Hasilnya adalah Andi lari dari rumah, dan Ayah dan Ibu lalu meratapi kepergian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Inilah bagian dari proses dan hasil. Proses pendidikan anak yang tidak berjalan dengan asupan kasih sayang yang cukup. Menjelaskan kepada kita bahwa manusia tidak sekedar butuh asupan gizi untuk berkembang. Potret keluarga modern, eksekutif professional sukses dalam karir tapi tak sukses dengan keluarga. Wajah keluarga dalam sistem kelas pekerja, yang butuh urusan perut terpenuhi di jaman yang serba susah. Proses dan hasil dari pengelolaan negara yang tidak berhasil menjamin kemakmuran warganya, menghasilkan keserakahan dalam memenuhi kebutuhan. Toleransi, bahkan untuk keluarga sendiri menurun. Luntur seperti celana jins murahan ketika dicuci pertama kali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Hanya Saja&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Itu tadi hanya sebuah lakon yang dimainkan KRST Fak. Psikologi UGM dalam ajang kesenian Etnika Fest 2011 yang dihelat oleh mahasiswa Fak. Ilmu Budaya UGM. Apresiasi yang luar biasa untuk kerja keras teman-teman dari tetangga sebelah ini,  yang sudah membangun sebuah ajang pertunjukkan kesenian. Sebuah hiburan di tengah hiruk pikuk politik kampus yang panas akhir-akhir ini karena gairah Pemira. Sebuah oase yang semoga menyegarkan setelah gunung Merapi menghilang dari jalan Sosio Humaniora, berganti gunung 7 lantai berwarna biru. Setidaknya, acara kesenian yang menghibur dan menggugah seperti ini harus dilestarikan, meski sang Presiden Mahasiswa berujar  “ kegiatan mahasiswa jangan hanya FUN saja, kalo Cuma FUN betapa menyedihkan” . Bagi saya anda yang menyedihkan, tragis dan butuh onani. Mungkin sejenak anda perlu menyaksikan acara kesenian semacam Etnika Fest, untuk mengerti bahwa kegiatan mahasiswa yang berbau FUN pun bisa berdaya guna, orang-orang yang nampak FUN pun bisa memberi kontribusi dan karya nyata bagi bangsa. Sehingga kita bisa memakai kacamata yang lebih optimistik dan tidak patethic.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Terlepas dari itu, oase kesenian ini memang menyegarkan. Rangkain acara bertajuk Kebudayaan semakin menegaskan peran dan fungsi mahasiswa sebagai agen kebudayaan, khusus untuk mahasiswa FIB sebagai titik pijak untuk berkarya sebagai seorang budayawan dan menegaskan kembali bahwa FIB masih ada dan berbudaya. Alhasil pun serangkaian kegiatan ilmiah berupa seminar dan kegiatan kesenian pun dihelat. KRST unjuk bagian dengan memainkan naskah karya B.S. Wirawan yang disturadarai jua langsung oleh si penulis naskah. Cerita naskah sudah seperti saya ceritakan di atas, dengan pemain sebagai Ayah adalah Anggra, Ibu adalah Mentari, dan Andi adalah si Bandoro. Ketiganya adalah aktor baru, dengan dipandu oleh Hendy Kukuh sebagai aktor senior di KRST mereke mengadakan latihan. Balutan musik piano oleh Vikra seorang junior juga dibantu oleh besutan gitar oleh Abit. Hasilnya sebuah pertunjukkan, dengan setting sofa warna merah, lampu panggung yang bloking, dan pentas yang seadanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Boleh Jadi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Sebuah pentas teater bergerak dari adanya naskah, sebagai sebuah elemen vital selain proses artistik dari pertunjukkan itu sendiri. Orang-orang keren dalam dunia Sastra semacam Rendra dan Putu Wijaya adalah juga seorang aktor, mereka mengolah naskah mereka dan lalu memainkan naskah itu. Mereka sastrawan yang mampu mengelola naskah, dan juga aktor yang bisa memainkan sama baiknya dengan membuat naskah. Untuk pertunjukkan kali ini, sarkasme terbesar saya ada di naskah. Naskah yang mengusung kisah yang sangat biasa dalam rumah tangga. Diikemas dalam kisah-kisah dan tragedi-tragedi yang biasa dan setting yang itu-itu saja juga. Jika boleh membandingkan dengan naskah dari teman-teman FIB yang pentas sesudah KRST, yang sebenarnya adalah sebuah kisah yang sederhana dari sebuah rumah tangga, namun bisa demikian menggugah dan sarat pesan. Wahyu Budi Utomo atau lebih dikenal dengan Kobe berhasil mengolah pertunjukkan tentang keluarga dalam sebuah kisah tentang bahtera rumah tangga dengan naskah berjudul Pring, oleh Teater Vrhatnala. Tapi B.S. Wirawan tampak kurang hati-hati dan tergesa-gesa mengolah naskah tentang keluarga broken home dan pelarian seorang anak, kurang hati-hati atau bahkan saya bilang gagal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Boleh jadi saya yang kurang adil membandingkan karya seorang mahasiswa Psikologi dengan karya seorang mahasiswa Sastra. Akan tetapi, bukankah seorang mahasiswa Psikologi itu mempelajari perilaku manusia, yang seyogyanya dapat menuliskan sebuah cerita tentang manusia dengan menarik. Apalagi kisah yang diangkat adalah kisah yang cukup psikologis semacam keluarga broken home. Tapi itu tidak muncul di naskah yang ditulis oleh salah seorang aktor kawakan di KRST ini.  Boleh jadi memang mahasiswa dari ilmu Sastra akan lebih ahli menulis naskah yang memiliki nilai sastra tinggi, tapi belum tentu dapat dimainkan dengan baik tetap saja ada variabel tergantung di sini. Tetapi naskah dari teman-teman FIB kemarin sungguh memiliki unsur sastra dan juga diperankan dengan baik. Berbeda sekali dengan yang dimainkan oleh teman-teman KRST. Boleh jadi, saya menduga-duga proses penggarapan dan permenungan naskah oleh si pembuat naskah dari teman-teman FIB dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan dalam waktu yang lama, lalu pun proses latihan untuk pertunjukkan pun melibatkan waktu yang efektif. Indikatornya proses lama, munculnya perlambang-perlambang semacam bahtera, beras, mainan anak-anak, kurungan, kipas badai, dan adegan-adegan yang merujuk kepada sebuah kisah yang penuh dengan &lt;em&gt;sanepa &lt;/em&gt;atau perlambang, indikator lainnya adalah komposisi musik yang dibuat ternyata tidak main-main. Sementara itu, boleh jadi pula saya menduga-duga proses pembuatan dan permenungan naskah dari teman-teman KRST tidak maximal, tergesa-gesa dan mengejar sesuatu yang terpaksa, lalu dikemas dalam proses latihan kejar target yang padat dan tergesa-gesa juga. Indikatornya hasil yang seadanya. Meskipun kesimpulan saya adalah, mau dilatih sebagaimanapun naskah ini tidak menjanjikan suatu drama yang menarik. Tetap begitu saja, biasa saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Tong Sampah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; color: rgb(51, 51, 51); background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Maka ada beberapa hal yang memang perlu masuk tong sampah, sejujurnya untuk orang sekelas B.S. Wirawan bisa sedikit memilih dan memilah dan memperpanjang perenungan soal naskah dengan lebih bijaksana. Meskipun demikian memang ini adalah sudut pandang dan kata-kata seorang manusia jua, bisa salah. Stephanie Meyer dengan kisah cinta ambigu dalam kisah Vampire Twillight pun dicerca banyak orang, tapi dia juga dicintai dan terus berkarya. Seorang Linus A.G dengan prosa liris Pengakuan Pariyem yang demikian terkenal itu pun juga tak lahir dengan begitu saja tanpa cerca. Atau bahkan Chairil Anwar yang jadi icon sastra Indonesia, itu pun tidak menghasilkan karya hanya dengan tidur tapi berani berproses. Kali ini mungkin mari kita masukan saja naskahnya ke tong sampah. Lalu kita buka lembaran baru lagi dan menulis kisah baru yang menjadi karya yang akan dikenang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-5684225602143483297?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/5684225602143483297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/12/tong-sampah-yang-terlalu-bagus-catatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/5684225602143483297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/5684225602143483297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/12/tong-sampah-yang-terlalu-bagus-catatan.html' title='Tong Sampah Yang Terlalu Bagus : Catatan Untuk B.S. Wirawan'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-8726907282749658647</id><published>2011-12-04T22:55:00.000-08:00</published><updated>2011-12-04T23:03:54.959-08:00</updated><title type='text'>Yogyakarta Istimewa, Just The Way They Are ( II)</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; text-align: -webkit-auto; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Bagi saya tidak masalah  pemerintah mengatur bagaimana kuasa istimewa itu seperti apa, tetapi yang paling utama adalah apa yang terkandung dalam istimewa itu yang jangan hilang atau dihilangkan. Memang harus teramat berhati-hati, dalam menyikapi isu keistimewaan ini karena akan melibatkan faktor sejarah dan kebudayaan, sementara di Yogyakarta yang beragam dan juga tumbuh kampus-kampus pusat pergerakan menyebabkan  pemaknaan akan keistimewaan ini mekar dan beragam, bahkan pro dan kontra. Hal yang tak dapat ditolak, tapi jika gegabah bisa bubrah dan memancing amarah. Maka karena saya ini orang Yogyakarta yang terkenal sabar sumarah dan ramah, maka saya mencoba mengajak untuk menjadi istimewa tidak di mulut saja, karena orang Jawa yang tidak kehilangan "Jawa"-nya adalah pribadi yang &lt;em&gt;ngelmu&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;laku&lt;/em&gt;, karena &lt;em&gt;ilmu kelakone kanthi laku. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; text-align: -webkit-auto; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; text-align: -webkit-auto; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Wah-wah, seru sekali, padahal saya pengen mbahas soal jalan Mangkubumi dan kompleksnya tapi merembet jauh sampai isu istimewa. Wokey, karena saya sudah memproklamirkan sikap saya soal keistimewaan itu sendiri maka jelas demarkasi saya soal hal tersebut, Yogya istimewa itu segenap isinya : Kraton, Pura Paku Alaman, Kota, Kabupaten, Provinsi dan segenap warganya semua istimewa tak terkecuali. Jadi, begitu jugalah sikap dan pandangan saya terhadap kompleks jalan Mangkubumi ini. Ini jalan Legenda yang istimewa bung!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; text-align: -webkit-auto; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; text-align: -webkit-auto; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Membentang dari Tugu Yogyakarta sampai depan teteg sepur stasiun Tugu, jalan ini sudah jadi sejarah dan berevolusi ikut siklus hidup dari kota Yogyakarta. Hanya saja daerah ini tidak nampak sebagai kompleks kota tua, atau pecinan seperti ditemui di Semarang atau Muntilan. Wajah kompleks ini, seperti pula Malioboro sebagai pusat kota telah berdandan dan melepas sandangan masa lalu kemudian menjadi sebuah daerah bisnis yang cukup prestisius. Memang daerah ini terkenal sebagai daerah bisnis, sedikit catatan tentang kegiatan kebudayaan di daerah ini. Tidak seperti Malioboro dimana sebagai daerah "tujuan", kawasan kompleks Mangkubumi berikut lalu sekalian di dalamnya itu ada daerah Kranggan lebih kondang sebagai area " transit " ibaratnya adalah regol masuk ke dalam kompleks utama yakni Malioboro. Tapi sebenarnya jika di amati lebih lanjut pola kedua kompleks Mangkubumi dan Malioboro ini sama perkembangannya : didorong oleh adanya pasar tradisional. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; text-align: -webkit-auto; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; text-align: -webkit-auto; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Jelas Malioboro bergerak berdetak dulunya karena adanya pasar Gedhe Beringharjo, baru kemudian toko Ramai yang telah menjelma menjadi Ramai Mall menjadi pemain-pemain genre baru yang seperti Beringharjo yang terkenal sentra pakaian, maka daerah ini kemudian mekar menjadi kompleks jualan sandangan. Tak jauh beda dengan Kompleks Mangkubumi,  pasar Kranggan yang biasanya jadi "transit" pedagang-pedagang dari Utara sebelum masuk ke Beringharjo, pun menggerakan kawasan ini hingga akhirnya ada dua jenis usaha yang tumbuh di samping kanan dan kiri pasar Kranggan ini : usaha alat tukang dan listrik serta belakangan marak aksesoris telepon genggam. Bahkan harus dicatat bahwa pasar Klitikan yang sekarang berada di Kuncen Wirobrajan itu dulunya tumbuh berkembang dari daerah kawasan Mangkubumi ini. Tumbuhnya pedagang yang bagai jamur, tumbuh makmur, karena tanahnya subur tapi ternyata mengganggu, meskipun unik sebenarnya akan tetapi kemudian usaha ini mau dipindah ke lokasi baru tanpa banyak perlawanan dan akhirnya di lokasi baru pun mereka hidup dan tambah sukses. Sekarang wajah kompleks Mangkubumi dan kawasan sekitaran Tugu banyak dimanfaatkan untuk sesi foto-foto. Sesuatu hal yang teramat jarang, terjadi ketika saya umur SD dan SMP. Maklum saja waktu itu belum banyak kamera digital, dan juga Yogya belum terlalu banyak pendatang seperti sekarang. Saya warga aseli Yogya, tiap hari saya lihat Tugu sehingga rasanya gairah untuk foto itu tidak terlalu besar, tidak sebesar warga pendatang tentunya, asumsi saya sih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; text-align: -webkit-auto; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; text-align: -webkit-auto; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Sekarang ini di dunia yang serba digital, dimana manusia dengan teknologi visual yang semakin canggih bahkan mungkin telah bisa membuat manusia orgasme tanpa harus senggama. Lalu lintas di sekitaran Tugu yang juga turut beranjak ramai tidak membuat surut para penggila foto di Tugu. Entah yang memang serius belajar fotografi, atau hanya sekedar euforia semata untuk profile picture atau avatar berbagai social media, dan mungkin datang ke sini mencari sesuatu wangsit atau sekedar refreshing ya ini juga biasa aja sih. Yang jarang malah datang ke sana untuk mencari sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang tak bisa dilihat hanya dengan panca indera tapi harus mengelola segenap olah jiwa olah raga untuk dapat mendapatkannya. Tapi ya ini jarang sih, apalagi pengunjung Tugu yang mayoritas adalah anak muda saya yakin jarang yang punya kemampuan di atas normal seperti yang saya sebutkan tadi. Kalo yang punya kemampuan untuk menghancurkan Tugu, ala serombongan ormas di Purwakarta kemarin, saya rasa ada banyak sih kalo di Yogyakarta. Cuma ga berani aja ngerobohin, soalnya landmark Kota. Padahal daripada patung wayang di Purwakarta itu, Tugu Yogya ini jutsru benar-benar aseli produk Barat, produk kolonial Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; text-align: -webkit-auto; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; text-align: -webkit-auto; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Ya Tugu Yogya sekarang yang berwarna putih ini adalah buatan Belanda sebagai Tugu pengganti dari Tugu Golong Gilig, yang runtuh akibat gempa besar pada tanggal 10 Juni 1867. Tinggi semula tugu yang berbentuk, &lt;em&gt;gilig &lt;/em&gt;atau silinder bulat emanjang dan juga dengan puncak yang berbentuk &lt;em&gt;golong &lt;/em&gt;atau bola, ini adalah 25 meter. Menjadi &lt;em&gt;landmark&lt;/em&gt; filosofis dari Kasultanan Yogyakarta, &lt;em&gt;golong gilig &lt;/em&gt;merupakan simbol kebulatan tekat dan kesatuan dengan semesta dan Tuhan yang maha esa. Erat dikaitkan dengan konsep &lt;em&gt;manunggaling kawulo lan Gusti&lt;/em&gt;. Akan tetapi setelah runtuh, sebenarnya makna falsafahi dari bentukan &lt;em&gt;golong gilig &lt;/em&gt; memang menjadi hilang. karena bangunan baru bentukan Belanda yang disebut tugu Pal Putih itu sendiri memang memiliki bentuk yang demikian baru. Tetapi, jika ditelah lebih dalam sebenarnya, adanya tugu tetap merupakan simbol untuk pepeling bahwa manusia ini memiliki hubungan yang vertikal di antara yang horizontal. Entahlah terlepas dari apa itu artinya, bahwa sejarah sudah tercipta dan bukan semata-mata untuk jadi artefak yang dibuang, tapi kita baca dengan perenungan, karena ilmu adalah pencerahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-8726907282749658647?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/8726907282749658647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/12/yogyakarta-istimewa-just-way-they-are.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8726907282749658647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8726907282749658647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/12/yogyakarta-istimewa-just-way-they-are.html' title='Yogyakarta Istimewa, Just The Way They Are ( II)'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-6424453651985783939</id><published>2011-12-01T05:17:00.001-08:00</published><updated>2011-12-01T05:20:49.952-08:00</updated><title type='text'>Yogyakarta Istimewa, Just The Way They Are ( I)</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Kami duduk di angkringan di teras trotoar kantor surat kabar harian &lt;em&gt;Kedaulatan Rakyat. &lt;/em&gt;Harian ini adalah yang tertua di Yogya, sudah ada sejak jaman empat lima, maka sangat wajar ketika kini harian ini menjadi legenda. Salah satu jargon yang diusung harian ini adalah  &lt;em&gt;'migunani tumraping liyan" &lt;/em&gt;, artinya adalah bermanfaat dan berdaya guna untuk sesama  mungkin karena itulah maka angkringan boleh berjualan di depan kantor di waktu malam hingga dini hari menjelma nanti. Sungguh kebijaksanaan yang demikian berbeda dengan kantor-kantor pada umumnya, kantor harian ini sudi menemerima kehadiran pengusaha kecil ini untuk berkelana menembus malam mengumpulkan jejak rejeki yang tertinggal di antara jejak langkah malam. Maka kehadiran angkringan ini menjadi sebuah pelita yang meliuk-liuk bersama temaram jingga lampu kota yang menyala di kompleks jalan Mangkubumi yang sederhana, dan seperti cerita tentang harian &lt;em&gt;Kedaulatan Rakyat&lt;/em&gt;, jalan ini pun salah satu legenda hidup di Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Diambil dari nama muda Sultan Hamengkubuwono I, Mangkubumi adalah seorang pemberontak yang melawan ayahnya sendiri Pakubuwono yang bertahta di Surakarta karena keblinger dan membela Belanda. Perlawanan dan pemberontakan ini, sekaligus jua usaha perlawananan terhadap kolonialis Belanda yang sudah mencoba merusak tatanan kehidupan orang Jawa. Dari perang ini lalu lahir perjanjian Giyanti, ternyata perlawanan ini pun dimanfaatkan Belanda untuk memecah belah kuasa raja Jawa. Maka lalu kekuasaan raja Jawa dibagi menjadi dua : Kasunanan Surakartahadiningrat dan Kasultananan Ngayogyakartahadiningrat. Mangkubumi, yang memberontak itu kemudian memerintah di Ngayogyakartahadiningrat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Kerajaan baru ini pun berbenah, untuk menyiapkan pusat kekuasaan maka lalu dibangunlah Kraton Ngayogyakartahadingrat. Konon pemilihan lokasi kraton itu melalui pertimbangan filosofis, geologis, geografis, dan estetika seni yang mendalam.  Lihat saja, lokasinya bisa ditarik garis lurus dengan Merapi dan laut Selatan. Jika boleh dimaknai maka sebenarnya banyak makna yang terdapat di dalamnya, terkait fungsi kraton dan tata nilai kehidupan Jawa.  Tata nilai yang kalaulah saya tulis di sini panjang lebar tak akan bisa tergambar, tapi tentunya ada perdamaian meskipun dengan penyerdehanaan, maka nilai itu akan merujuk pada harmoni. Harmoni, bahwa ada dua titik yang harus seimbang, maka Kraton harus menyeimbangkan dan mengayomi. Bahwa ada hubungan yang tak lepas antara yang naik dan sesama, maka Kraton menjadi pengerat dan penguat, merajut jadi kuat dan meraut jadi tajam ilmu dan makna. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; line-height: 16px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Sehingga jelas bukan sebuah kebetulan tentunya, jika kemudian cikal bakal perkembangan dari Kota Yogyakarta berkembang dari lingkaran Kraton Yogyakarta. Bahkan di kemudian hari HUT Kota Yogyakarta ditetapkan pada tanggal 7 Oktober, serupa dengan tanggal berdirinya kraton Ngayogyakarta 7 Oktober 1756.  Sudah sebuah bukti sahih pula bahwa Sultan Hamengkubuwono pun sudah menerapkan dasar-dasar pengembangan kota melalui Kraton yang dibangun. Selanjutnya pun pergerakan sejarah Yogyakarta kemudian hari tak lepas dari Kraton, termasuk perjuangan melawan kolonialis Belanda dan lalu pun turut berperan dalam masa-masa clash II di Perang Kemerdekaan di mana Kota Yogyakarta jadi Ibu Kota Republik dan melindungi bayi Republik Indonesia dari serangan Belanda. Maka selain karena keinginan bergabung dengan Republik Indonesia dengan semangat kebangsaan yang tinggi, sejarah pun telah membuktikan kota Yogyakarta sebagai kota yang meski tidak mendapat pengakuan istimewa sekalipun, fakta dan kondisi yang ada sudah menunjukkan bahwa Yogyakarta sudah Istimewa, &lt;em&gt;just the way they are. &lt;/em&gt; Istimewa, sebagaimana aselinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;( bersambung...)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-6424453651985783939?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/6424453651985783939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/12/yogyakarta-istimewa-just-way-they-are-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/6424453651985783939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/6424453651985783939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/12/yogyakarta-istimewa-just-way-they-are-i.html' title='Yogyakarta Istimewa, Just The Way They Are ( I)'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-8395930680839449758</id><published>2011-09-05T08:35:00.000-07:00</published><updated>2011-09-05T09:20:10.372-07:00</updated><title type='text'>Kaca Spion</title><content type='html'>Seseorang mengajakku bicara hari-hari belakangan ini&lt;p&gt;topik yang  dia buka dengan kata yang tak  lazim dan tak biasa&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dia bicara  tentang sebuah hari yang aku tak mengerti&lt;/p&gt;&lt;p&gt;hari-hari belakang yang  sudah sirna meski kekal tak fana&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;" aku mengajakmu melihat  ke belakang, tapi kau tak pernah sudi "&lt;/p&gt;&lt;p&gt;" aku mengajakmu melihat  ke depan, tapi kau benci misteri "&lt;/p&gt;&lt;p&gt;" untuk apakah kau bisa  melihat, jika kau tak mau mengerti "&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;lalu kami diam.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-8395930680839449758?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/8395930680839449758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/09/kaca-spio.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8395930680839449758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8395930680839449758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/09/kaca-spio.html' title='Kaca Spion'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-7262407454248672883</id><published>2011-05-23T00:22:00.000-07:00</published><updated>2011-05-26T17:55:38.790-07:00</updated><title type='text'>Haruku (I)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;mso-bidi-font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color:black"&gt;Pagi itu ribut-ribut sudah dimulai dari pagi. Che seperti biasa menjadi yang paling pertama bangun, dan Intan kemudian selalu menjadi yang terakhir.  Pagi itu menjelang keberangkatan menuju ke Pulau Haruku. Kami harus berpindah tempat hari ini, setelelah dua hari kami bertiga berkeliling kota Masohi, Makariki, dan Waipia di kecamatan Telu Nila Sarua dan kami merasa tidak ada lokasi di sini yang cocok dengan apa yang kami rencanakan.  Beberapa kali kami bertiga berdiskusi, akhirnya memang kami mencapai kesepakatan, kami akan pindah lokasi ke pulau Haruku. Perpindahan ke Haruku pun bukan urusan mudah, dan bukan jaminan pula kami bisa mendapatkan apa yang kami inginkan.  Perjalanan ke Haruku, seperti halnya perjalanan ke Maluku adalah perjudian yang belum tentu kami menangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;Jam 7 teman-teman dari mess taman Nasional sudah berangkat ke kantor untuk mempersiapkan segala sesuatu di kantor taman Nasional yang berjarak kurang lebih sekitar 3 kilometer dari Mess. Semalam kami sudah pamit untuk berangkat menuju ke Haruku, beberapa rekan Taman Nasional tampak berat melepas kami pergi, karena memang menurut mereka perjalanan ke Haruku dan kondisi di sana sangat jauh dari kota. Meskipun mereka tetap percaya bahwa segala sesuatunya akan berlangsung dengan aman di sana, lalu kami pun mencoba menjelaskan kembali tujuan kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;Saya harus memacking barang-barang kembali, karena carrier yang saya pakai dipakai El untuk mendaki Binaiya. Kardus yang dipakai untuk membawa buku-buku yang akan disumbangkan untuk sekolah di Kariu terpaksa saya atur ulang. Untuk memasukkan barang-barang pribadi. Sangu peralatan snorkeling&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan kaki katak yang saya bawa dari Sekretariat pun turut diatur ulang. Akhirnya dengan teknik packing yang baik semua barang pribadi dan buku-buku itu bisa terpacking dalam satu kardus.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Kemudian melindungi isinya dengan plastik garbage. Sementara Intan dan Che tetap menggunakan carriernya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;Pagi yang ribut itu punt lupa kami tutup dengan sarapan. Tapi tidak apa-apa di perut kami masih tersisa makanan sisa semalam. Entah mengapa tapi kami rasa tadi teman-teman Mess mengajak kami makan enak, selain itu juga kami sempat diajak melihat kehidupan malam di Masohi, diajak minum semacam Jahe tapi kami rasa kami seperti minum kuah nasi padang saking kuatnya –rempah-rempah dalam minuman itu. Konon katanya minuman itu&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;berasal dari Sulawesi Selatan. Lalu kami nongkrong bersama, suasana yang mengingatkan pada tanah kelahiran tentunya. Sayangnya kemesraan dengan orang-orang Mess ini hanya sejenak saja karena memang kami hanya tiga hari tiga malam di sana. Pagi ini kami sudah harus berangkat menuju Haruku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;Kami menuju ke terminal Masohi dengan jalan kaki, agak sedikit ragu juga untuk menggunakan becak karena beberapa hari sebelumnya Intan yang dengan perawakan yang mirip dengan orang Ambon, sempat digoda oleh tukang becak Masohi. Sebuah cerita lucu tersendiri jika memang kejadian itu diingat-ingat karena tukang becak itu sangat ngebet bahkan sampai bilang ingin menikahi Intan. Maka dari itulah kami akhirnya tidak mau menggunakan becak dan memilih untuk jalan kaki, toh jalan kaki sudah menjadi menu kami sehari-hari sepanjang ekspedisi ini. Bahkan akan menjadi menu utama dari anak-anak pendaki Binaiya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;Terasalah ungkapan yang tertempel di dinding sekretariat Palapsi itu begitu mengena, A Thousand Miles of Journey is Begin With A Single Step. Tanpa berjalan, mustahil kami mencapai sesuatu. Beginilah pada akhirnya kami bertiga berjalan, saya memanggul kardus sebagai ‘carrier’&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sepanjang jalan nanti. Sampai di terminal memang kemudian mobil menuju Lestetu sudah ada, boleh dibilang agak kurang beruntung kami. Mobil ini adalah sebuah kijang tua tahun 90an berwarna putih, yang satu mobil nanti akan diisi dengan 8orang termasuk kernet dan sopir. Sementara sebetulnya di belakang mobil ini sebuah angkot lain yang lebih muda dan lebih segar sebuah Toyota Hilux juga menunggu. Sayangnya karena memang si kijang putih ini yang datang duluan maka si Hilux harus menghormati seniornya itu. Walhasil dengan sistem tunggu penumpang begitu full berangkat dari jam 9 kami ada di sana, baru jam 10 kami berangkat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;Dengan didampingi bang Ali dari Pecinta Alam Masohi, kami bernegosiasi. Bahkan kami sempat diajak makan dulu. Dibayari makan, hal yang sepertinya sudah biasa dilakukan oleh orang-orang daerah ini untuk menyambut tamu-tamu jauh seperti kami. Banyak orang baik, dan teramat baik di sini. Meskipun yang akan anda dengar bahwa orang Ambon itu banyak yang kasar dan menjadi preman-preman di terminal-terminal di Jawa. Tapi sungguh anda akan sangat tahu bahwa orang-orang ini memiliki hati yang luar biasa baik ketika anda pernah mengalami malam-malam bersama mereka. Akhirnya dengan dilepas bang Ali dan rekan-rekan Mess yang ikut melepas kami, kami berangkat menuju Haruku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;Pulau Haruku, adalah sebuah pulau yang terletak di Selat Seram. Sehingga artinya kami harus berpindah pulau kembali. Perjalanan menuju Lestetu si bagian barat Seram, memang bukan perjalanan yang pendek. Meskipun kondisi jalan secara umum memang masih cukup baik tidak banyak lubang di jalan raya lintas seram ini. Memang juga karena juga tidak banyak kendaran berat yang lewat jalur ini. Jalur yang membentang ini memang melintasi beberapa sungai, ada satu atau dua sungai besar, akan tetapi sesuai dengan informasi yang kami terima, sungai di sini memang tidak layak digunakan untuk kegiatan arung Jeram. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;Kembali membicarakan tentang jalan, yang jalan ini merupakan urat nadi penggerak perekonomian di Seram. Jalan utama yang menembus hutan dan membelah gunung, dan memotong beberapa sungai.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Ada beberapa jembatan yang sifatnya jembatan darurat. Tapi itulah jembatan utamanya, karena memang tidak ada tanda-tanda jembatan rusak. Sehingga jembatan utama di sini adalah jembatan darurat yang ditopang dengan besi dan kayu. Bahkan ada daerah jalan terpotong dan kami harus menyeberangi sungai untuk menembus jalan itu. Kijang tua ini harus susah payah memacu nafasnya menembus jalanan, dalam suasana hujan deras. Hujan yang berhasil masuk ke dalam mobil, karena beberapa bagian bocor. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;Akhirnya nafas mobil ini harus berhenti, setelah dengan sukses mampu menembus beberapa perbukitan dan menyeberangi sungai, menembus hutan juga, melalui jalanan yang sewaktu-waktu celeng bisa menyeberanginya. Akibat sopir yang selalu memainkan musik dengan keras sepanjang perjalanan ini khilaf, menerjang genangan air tanpa berpikir bahwa bagian kap mesin tidak tertutup dengan sempurna. Aki mobil basah terkena air dan tidak mampu memercikan listrik untuk memancing mesin hidup. Mobil macet, kami berusaha mendorong dalam hujan deras. Di tengah hutan tanpa ada sinyal handphone, beberapa penumpang sempat panik. Saya mencoba menenangkan Intan dan Che. Lalu ikut mendorong mobil. Tapi sia-sia, si kijang memang kelelahan dan istirahat. Akhirnya kami dipindah ke mobil hilux yang tadi masih menunggu penumpang di Masohi. Untungnya ada yang kosong yang mau berbagi kesumpekan dan ketidaknyamanan menumpang angkutan umum di tengah suasana hujan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;Tidak lama dari tempat kami macet, tadi akhirnya kami sampai ke Lestetu. Penyeberangan speedboat yang akan membawa kami ke dermaga Pelaauw. Anda mungkin membayangkan tempat ini adalah sebuah tempat dengan ada dermaga besar. Nyatanya ini hanyalah pantai biasa dimana kapal merapat belum tentu dengan sempurna. Kapal hanya akan berhenti agak di lautan, dan kami harus memberanikan diri masuk ke laut sebelum kami akhirnya nanti kami naik ke perahu. Semua dalam suasana hujan, agak deras. Saya melihat ke muka Che yang mulai pucat. Agak sedikit khawatir bila Che jatuh sakit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;Setelah perahu penuh, maka dua buah mesin tempel lalu dihidupkan. Bersiap membelah selat Seram. Pengaman utama di sini hanyalah keyakinan, cadik perahu dan mesin&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;berikut operatornya. Andakaikan semua itu tidak mampu menahan gelombang, maka jelas terbaliklah kami yang tanpa pengaman pelampung. Syukur bagi kami yang mampu berenang mungkin masih akan bisa mengambang. Akan tetapi yang tidak bisa berenang bisa jadi mereka akan menjadi kenangan di tengah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;selat Seram. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;Speedboat bergerak laju, dengan gagah membelah selat Seram. Ombak dibelah, untungnya dengan pengalaman berarung jeram maka ombak-ombak ini tidak membuat perut saya mual. Saya masih melihat ke Che yang seperti berdzikir atau menggigil kedinginan. Tapi pucat masih terlihat di wajahnya, serta seluruh jaketnya yang basah. Sementara Intan, masih sehat. Pengalaman operasional air tentunya bisa membuat Intan menjadi lebih tabah menghadapi perjalanan yang memang menegangkan ini. Hampir 45 menit lebih kami membelah lautan akhirnya Dermaga Pelaauw mulai nampak, keramaian kota kecamatan ini lamat-lamat nampak dari Lautan. Lalu asisten dari sopir speed berkata, untuk melempar sauh. Artinya kami sudah siap mendarat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span style="font-size:13.0pt;font-family:&amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;color:black"&gt;***&lt;br /&gt;Mendaratkan kaki di Pelaauw, memandang ke sekeliling.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Antah Berantah. Benar-benar tidak ada yang kami ketahui selain tujuan kami ke Kariu di rumah bapak Frederick, dan nomor handphone dari ketua Gemmpa Satelit Pulau Haruku, Leon. Mencoba mengamati, sambil meladeni pertanyaan-pertanyaan dari tukang ojek yang mulai menanyakan tujuan kami. Kami menunggu dijemput oleh teman-teman dari Gemmpa satelit pulau Haruku. Akhirnya tak berapa lama setelah Leon menelepon, akhirnya rekan-rekan datang. Mereka juga naik ojek. Kami akhirnya naek ojek menuju rumah Bapak Frederick. Tak jauh sebenarnya Kariu ini, hanya sekitar 10 menit mengendarai sepeda motor. Salah satu yang memesona saya sedari tadi adalah membayangkan kehidupan di sini. Kehidupan dalam bahasa elite orang Jakarta mungkin akan bilang kehidupan di sini sebagai seaside living, dan yang terbayang dalam pikiran saya sudah ke snorkeling yang saya bawa dan akan saya manfaatkan untuk bersnorkeling ria di birunya selat Seram. Akan tetapi agaknya itu bonus yang sudah saya bayangkan, senyatanya begitu memasuki negeri Kariu dan melihat adanya bekas bangunan gereja yang sedang dibangun kembali menunjukkan adanya bekas luka yang masih tersimpan luka yang akan kami selami dalam penghidupan kami di sini setidaknya hingga 10 hari ke depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 17px;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-line-height-alt:5.0pt"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-7262407454248672883?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/7262407454248672883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/05/haruku-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7262407454248672883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7262407454248672883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/05/haruku-i.html' title='Haruku (I)'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-4210762967146938514</id><published>2011-05-15T02:21:00.000-07:00</published><updated>2011-05-15T03:04:40.809-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='grenengan'/><title type='text'>Grenengan : Jatmika</title><content type='html'>Perkenalkan nama lelaki itu Jatmika, dan dia hidup dalam dunia Abadi. Abadi adalah dunia di mana nafsu diizinkan dan angkara murka dilarang. Padahal angkara murka sendiri adalah nafsu. Inilah Abadi, dunia dengan struktur yang paradoksial. Paradoksial adalah gabungan antara paradoks dan sial, antara ketidakcocokan dan nasib buruk. Seperti ekspektasi terlalu tinggi dan langit yang runtuh. Apakah mungkin langit runtuh janganlah berekspektasi di sini, kecuali anda seorang paradoksial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatmika hidup mengumbar angkara, tapi dia menuai pahala. Setiap kali dia berkata dia menjadi nabi yang akan diikuti semua pengikutnya. Kata-katanya adalah kebenaran dan keniscayaan. Dia adalah kepastian ketiga di dunia ini, setelah kematian dan ketidakpastian. Pagi-pagi dia sudah berkotbah di televisi yang jika tidak menghadirkan siaran mistis dan sinetron mendayu-dayu pastinya menghadirkan siaran olahraga dan tawa. Semua orang ternyata terhibur dengan ini semua. Dengan kenyataan yang tidak relevan dengan hidupnya. Tapi mau apa di kata, semua ahli dan ahli dadakan didatangkan dalam talkshow di Televisi lalu bercerita tentang segala teori. Tapi pada kenyataannya, lihatlah mereka terlalu lapar untuk menjadi Ideal dan ahli-ahli humanistis akan langsung menyerang. Tapi Jatmika tidak peduli dia tetap ada di Televisi pagi dan berkotbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Selamat Pagi. Mari kita melihat diri kita sendiri. Sebelum kita bicara. Karena bisa jadi yang bicara di sini sekarang adalah angkara murka. " Lalu kotbah itu selesai. Seketika semua stasiun Televisi menyiarkan ulang kotbah itu, semua radio menjadikan sebagai sebuah pesan suara. Dan tiba-tiba Baliho dan Slogan untuk membayar pajak berubah menjadi kata-kata dalam kotbah pagi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatmika, selalu saja dianggap titisan Tarto, presiden kedua yang dingin, jahanam, dan brilian itu. Maka banyak yang menyebutnya Bapak Jatmika, kata 'bapak' yang disematkan menunjukkan perbedaan kelas dan kasta, antara yang terhormat dan terlaknat. Tapi di sana mengandung khianat. Tapi itu biasa terjadi di Abadi yang Paradoksial. Lalu ketika semua itu semakin biasa, maka kata paradoksial pun tak lagi bisa diterima. Maka dunia ini adalah dunia yang ini dan itu tidak perlu lagi dipermasalahkan. Tapi tak mungkin itu terjadi di Abadi. Dunia ini adalah masalah yang tak akan selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dia memecah pagi ini, dan peluru masih saja menerjang menembus bos teroris paling jahat yang pernah disiarkan Televisi,  Romansah in London. Tapi Jatmika tetap berkotbah pagi ini dan kotbahnya akan diikuti setiap pengikutnya di dunia Abadi. Walaupun dunia ini diancam akan dicuci otak oleh Organisasi Laundry Otak (OLO), Jatmika tetap menjadi sabun yang dengan angkara murka akan mencuci kembali pemikiran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Jatmika, dan kami yang hidup di dunia ini bersamanya hanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grenengan&lt;/span&gt;. Karena dia bukan nabi ternyata, karena dia juga bukan presiden di dunia ini.  Dia hanya biasa saja di dunia ini, tapi di dunia Abadi dia berkuasa. Mengapa? Karena dunia ini sesungguhnya lebih hebat dan mengerikan, atau semacam paradoksial lebih keras dari Abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hanya grenengan saja&lt;/span&gt;!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-4210762967146938514?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/4210762967146938514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/05/grenengan-jatmika.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/4210762967146938514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/4210762967146938514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/05/grenengan-jatmika.html' title='Grenengan : Jatmika'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-4121455607639142038</id><published>2011-05-15T01:51:00.001-07:00</published><updated>2011-05-15T02:20:46.592-07:00</updated><title type='text'>Grenengan : Grenengan</title><content type='html'>Grenengan mungkin bagi anda yang tidak menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, ataupun jika Ibu anda adalah seorang Jawa tapi anda tidak pernah dan tidak merasakan hidup sebagai seorang Jawa yang berbahasa Jawa, atau yang paling parah adalah bagi anda yang Jawa tapi ilang Jawane, tentu istilah Grenengan akan terasa asing.  Terasa anda akan bertemu sebuah kata yang tidak pernah mungkin terpikir dalam imaji anda, tapi kata ini ada. Seperti itu pulalah grenengan, dia itu tidak nampak ada, tapi dia ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grenengan - desau yang keluar semacam huh, atau ngiau yang tidak diucapkan secara langsung, hanya lirih, tapi biasanya keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-4121455607639142038?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/4121455607639142038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/05/grenengan-grenengan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/4121455607639142038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/4121455607639142038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/05/grenengan-grenengan.html' title='Grenengan : Grenengan'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-7532838419726262295</id><published>2011-05-10T00:53:00.001-07:00</published><updated>2011-05-15T17:34:26.072-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rerasan'/><title type='text'>Tentang Suatu Hari Di Bulan Maret</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; "&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Aku tidak ingat persis kapan mereka melantikku untuk menjadi nahkoda muda&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;kira-kira di bulan Maret,  yang kurasa sudah berlalu hampir dua tahun lamanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Tapi aku ingat persis kata-kata mutiara dari seorang ibu dan ayah yang sangat bijaksana&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;yang anaknya akan kubawa serta mengarungi samudera yang entah akan berakhir dimana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Tentang harmoni dan keseimbangan. Aku sangat terlambat menyadari makna dari kata-kata&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;yang menggema di ruang kelurga dengan interior Jawa tertata sedemikian rupa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Bismillah, itu pula kata-kata suci yang pernah ditulis seorang kawan, dalam surat pendek dalam kata&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;yang tergopoh-gopoh dia berikan padakau usai kuliah. Aku rela kuliah demi mendapatkan jawaban darinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Jawaban yang ternyata akan membuat hidupku lebih berwarna hingga Maret tahun ini tiba.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Bismillah, kata itu pula yang akhirnya kuucapkan dalam-dalam sebelum memulai menjadi nahkoda&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;setelah sebelumnya berkali-kali mengucapkan Inalillah.Karena  ini semua&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;maka kusarankan padamu untuk mengucapkan dua kata itu, kala kau memulai segalanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Akhirnya aku merasa menjadi nahkoda muda yang gila yang berambisi menjadi juara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;"Ambisi hanya ambisi jika kita tidak menjadi gila" kataku bangga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Tapi arti perjuangan dan manusia tidak sebatas pada batasan kata gila&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;karena manusia itu mahkluk yang berdimensi tak berbentuk dan berdinamika lebih dari logika.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Maka sejauh apapun yang kau lakukan yang bisa saja membuatmu menjadi gila, dapatkanlah makna&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;karena lupa akan makna maka kau tidak akan mendapat apa-apa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Dan tentang suatu hari di bulan Maret maka akhirnya aku berterimakasih pada mereka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;yang menjadikanku nahkoda muda yang gila, dan seluruh awak yang tak berdimensi tapi penuh makna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Mungkin hari itu 18 Maret, atau 17 maret karena wanita penulis surat itu selalu menulis 17 agustus dan merdeka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Maka kini dia sudah merdeka, lebih cepat daripada aku yang masih mengurusi manusia pengejar makna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Lalu 18 maret 2 tahun sesudah itu, dan yang membuatku selalu bertanya adalah selalu saja Maret, mengapa?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Apakah mungkin aku berjodoh dengan bulan ketiga?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Tapi tentang angka tiga ini pun tidak ada yang terlalu istimewa, karena pada akhirnya angka hanya akan menjadi angka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;kecuali kau letakkan rumusan matematis di sana maka dia akan memiliki makna yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Aku rasa tidak perlu banyak-banyak ku umbar rumusan dan kata-kata&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;karena pelayaran baru sudah akan tiba seiring angin salah musim yang tiba-tiba menggoda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;" Kamu mau berlayar bersamaku?"  tanyaku pada seorang wanita yang duduk menatap kota&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;" Kau akan kemana?" dia lalu balik bertanya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;" Ke suatu alasan yang dapat menjelaskanmu mengapa aku mengajakmu serta." jawabku sederhana&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;" Bawa aku ke sana." jawabmu, dan lalu kita mulai berkemas. Oh tidak, kini aku mulai menggunakan kata kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; text-align: left; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Karena aku tahu, kau ada. Semoga kau selalu ada, dari Maret yang telah menjadi April, dan begiu seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 100%; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-7532838419726262295?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/7532838419726262295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/05/tentang-suatu-hari-di-bulan-maret.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7532838419726262295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7532838419726262295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/05/tentang-suatu-hari-di-bulan-maret.html' title='Tentang Suatu Hari Di Bulan Maret'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-3461192681192440558</id><published>2011-03-17T11:20:00.001-07:00</published><updated>2011-05-15T17:36:24.723-07:00</updated><title type='text'>Sambil Menunggu Hujan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; "&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;menunggu memang tidak mengenakan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="border-left-width: 5px; border-left-style: solid; border-left-color: rgb(221, 221, 221); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 15px; padding-bottom: 0px; padding-left: 15px; "&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;kata-kata itu tercekat di rongga otakku saat kusadari bahwa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;aku sedang menjadi tanah kering di sebuah kemarau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Panen masih jauh, tapi hujan sudah reda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Serangkai &lt;em&gt;memedhi &lt;/em&gt;sawah bicara tentang rindu,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;" Tanah kering ini rindu kekasih hujan"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;maka seperti itulah lalu aku mengerti, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;mengapa Dewi Sri hadir di setiap ritus &lt;em&gt;wiwit.  &lt;/em&gt;Karena dari &lt;em&gt;tandur&lt;/em&gt; hingga &lt;em&gt;ani-ani&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Sang Dewi berbagi kesuburan bagi yang mengerti cara bersyukur pada Gusti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Dan ternyata menunggu adalah kata yang kau kenal juga dalam daftar katamu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Seperti kata hujan, sebagai sesuatu yang demikian sering kau minta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Kau sendiri adalah kekasih hujan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Serangkai &lt;em&gt;memedhi&lt;/em&gt; sawah bicara tentang harapan, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;" Datangkanlah kekasihmu, wahai kekasih hujan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Karena kau adalah kekasih hujan, maka hujan akan datang jika kau minta."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Lalu aku si tanah kering itu, ketika hujan turun maka kusiapkan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;setiap ruang terbaik untuk menyimpan semua kisah yang dia bawa dari awan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Sang Dewi sudah tahu apa yang akan dia perbuat pada tubuhku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;sehingga lalu akan menjadi &lt;em&gt;subur kang sarwa tinandur.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Dalam setiap keping yang jatuh kukumpulkan kepingan yang terbaik&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;lalu kuberikan pada Dewi Sri untuk membentuk sebuah Tiara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Tiara ini akan kuberikan untukmu kekasih hujan. Sebagai tanda terima kasihku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;atas pertemuan dengan hujan. Karena bukankah hujan jatuh ke tanah, dan menyatu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;sambil menunggu hujan dan kekasihya di sebuah kantin.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-size: 11px; "&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-3461192681192440558?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/3461192681192440558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/03/sambil-menunggu-hujan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/3461192681192440558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/3461192681192440558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/03/sambil-menunggu-hujan.html' title='Sambil Menunggu Hujan'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-1447752174966579631</id><published>2011-02-23T00:17:00.000-08:00</published><updated>2011-05-15T17:38:03.309-07:00</updated><title type='text'>Kepada Peri-peri Hutan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; "  &gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;HUTAN KELABU DALAM HUJAN&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;kau pun kekasihku&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;langit di mana berakhir setiap pandangan&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;bermula kepedihan rindu itu&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;temaram kepadaku semata&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;memutih dari seribu warna&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;hujan senandung dalam hutan&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;lalu kelabu mengabur nyanyian&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;em&gt;(Sapardi Djoko Damono)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Membuka catatan tentang sebuah pertunjukkan teater yang dimainkan oleh Keluarga Rapat Sebuah Teater di Societet dengan sebuah puisi dari Sapardi Djoko Damono. Penyair yang bagi anda yang mengaku penikmat puisi Indonesia namanya tentu menjadi salah satu tajuk referensi yang wajib dibaca. Mengapa saya petikan sajak tersebut, tak lain tak bukan karena memang malam ini Hutan menjadi sebuah panggung yang digelar dan dipertontonkan. Pentas yang dari latar tempatnya sudah menghasilkan haru yang berdesak-desakan di dalam imaji saya. Ya, hutan adalah tempat yang sedemikian berkesan, karena memang setengah dari masa muda dan segenap pergulatannya tumpah ruah di bawah rimbun cemara.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;Hutan Kelabu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Lamat-lamat memasuki gedung Societet yang sudah mulai gelap, penari baru saja menyelesaikan tarian dan wanita dengan baju khas suku Dayak sedang berkotbah. Cerita tentang legenda hutan dan pemilik segenap tanaman. Lalu cerita segera dimulai. Sekonyong-konyong sudah pagi saja, di hutan dan sebuah papan perapian. Sesosok wanita muda muncul dari perkemahan, memandang dunia yang sudah mulai terjaga. Lana nama wanita itu, dan segera saja dia berkesah tentang bagaimana malam dan kehidupan pagi yang sudah dimulai, menjadi pongah dan gelisah ketika menemui dirinya sendiri terjaga di pagi. Seolah pagi demikian menyeramkan, namun secara tiba-tiba pula lelaki yang pagi itu masih memiliki energi cukup untuk berjalan-jalan keliling hutan datang mengagetkan Lana. Ialah Alang, lelaki yang akan menjadi tempat Lana merangkulkan tangan di sepanjang pertunjukkan. Lalu setelah itu sebagaimana fragmen yang biasa terjadi dalam film-film ataupun sinetron, kemudian Alang memberikan setangkai bunga yang dipetiknya di hutan. Lalu sedikit merayu si Lana, spontan Lana yang cukup kesal dikagetkan menolak dan membuang bunga itu. Bunga putih yang malang yang sudah tercabut dari hidupnya dan mati sia-sia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Berdialoglah mereka, lalu satu persatu anggota perjalanan, yang ternyata adalah perjalanan penelitian hutan itu kemudian bangun. Don si pemimpin penelitian, terbangun dan langsung saja menghantam Lana dan Alang yang sudah merusak tidur paginya. Memang cukup mengejar-ngejar dan mengira-ngira waktu bangun manusia-manusia ini karena memang tidak bisa saya lihat dan baca dengan jelas waktu yang tergambar. Sehingga kurang bisa saya temui alasan hari pertama bangun dari tenda dan isinya adalah kemarahan, jika memang bukan orang yang pemarah memang rasanya agak sukar marah-marah di pagi setelah tidur panjang malam dalam hutan. Tapi memang begitulah Don yang goyah dan menutupi goyah dengan amarah. Lalu Rajah terbangun pula, keluar dengan wajah angkuh. Segera saja memberondong segenap orang yang sudah bangun dengan nasehat-nasehat, maklum seperti tergambarkan dialah yang paling senior. Sementara itu yang paling terakhir bangun, adalah Karna. Menyitir nama wayang, Karna entah dari Kumbakarna atau dari Basukarna, yang jelas dengan badan kurus dan gelap gaya bicara waton jeplak, baju urakan menjadi yang terakhir bangun. Lalu dengan wajah gontainya menyenandungkan kata-kata, setelah itu kelimanya saling berdialog. Lalu sepertinya rasa lapar menyerang di pagi hari. Lalu beranjak memasak dan sekonyong-konyong mati lampu dan setting seperti memasuki sebuah lorong waktu dan berpindah ke 7 hari kemudian.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Memang tidak ada tulisannya ala sinetron-sinetron, tapi kemudian menjelma sebuah setting 7 hari kemudian. Wajah yang mulai lusuh. Emosi yang sudah menyala, pertarungan pikiran yang mulai terjadi lalu pada detik ini mereka mulai bertanya-tanya tentang tujuan mereka ke sini. Setelah tujuh hari hidup dalam lindungan peri-peri hutan, lalu terjadi adu argumentasi. Don si ketua rombongan yang ternyata hidup dan memimpin di bawah bayang-bayang Rajah, lalu Lana dan Alang sebagaimana tadi sudah saya bilang bahwa akhirny Alang menjadi tempat  Lana merangkulkan tangan sepanjang lakon berjalan. Lalu untuk apa makhluk bernama Karna hidup? Adalah untuk membuat suasana agak sedikit segar, mungkin jika tanpa ada Karna dialog akan segera mati. Karena betapa seriusnya orang-orang ini berada di hutan, seperti diperbudak ambisi, dan mereka lupa menikmati betapa hutan ini demikian indah. Lalu berdebatlah mereka, akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan lokasi mereka ini tempat melakukan penelitian.Tiba-tiba, dedaunan gugur,i suara raksasa penunggu hutan murka menggema dan mereka di dakwa dosa. Dosa sudah menjamahi hutan dengan niatan tidak tulus. Ketakutan dan kepanikan melanda, lalu mereka segera pulang ke Basecamp. Tetapi Rajah, melihat sesuatu di antara tumpukan kayu. Matanya menjadi nanar, meski tidak jelas apa yang dia lihat di balik kayu. Lalu Don memanggillnya mengajaknya pulang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;Peri Hutan Menari&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Lalu dari belakang tempat duduk penonton, si penunggu hutan muncul. Berteriak. Sayangnya, teriakannya membuat kaget dan seorang teman agak jauh langsung saja misuh karena kaget. Memang membuat saya cukup tertawa.  Kemudian si penunggu hutan ini bergerak ke panggung, di atas sudah menunggu penunggu hutan yang lain lalu mereka beradu tarian. Memadukan yang padu, dan menentangkan yang tidak padu. Setelah itu tak lama kemudian dua peri penunggu hutan menari. Kemudian dipadukan dengan tarian dari penunggu hutan, terkadang mereka beradu seperti berkelahi tetapi sesungguhnya saya yakin keduanya dengan setia dan tulus mencintai hutan ini. Peri hutan yang sepertinya sedang galau jika dipilihkan sebuah diksi yang agak ke kinian.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Kemudian si perempuan dengan baju Dayak muncul lagi. Setiap kali dia muncul selalu saja mendengungkan dialog-dialog yang penuh analogi, yang bahkan saya tidak mengerti, terlalu berat atau mungkin tidak terlalu jelas. Setiap kali ekspresi dengan nada-nada yang cepat dan artikulasi yang cepat tapi tidak jelas apalagi yang disampaikan adalah analogi-analogi. Sungguh gaya yang diangkat tidak memberi kesempatan pada penonton untuk mengurai makna, dan menjebak kami dalam tanda tanya. Padahal katanya dia dalang. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Lalu terjadi kembali kejadian pagi, seperti biasa kehidupan pagi para peneliti masak dan ngobrol. Setelah itu si Rajah mengajak membicarakan diskusi untuk rencana penelitian dan eksekusi kegiatan mereka. Lalu sorot lampu kepada mereka surut, kemudian di settingan panggung lain lampu menyorot tajam. Perlahan sesosok tubuh hidup berjalan perlahan, sambil menggumam tidak jelas seperti sesosok gila yang biasa berkeliaran di jalan. Kali ini ajaibnya dia hidup di hutan. Kemudian dengan penuh dengan jiwa katarsis dia berteriak-teriak, memeragakan dua tokoh yang berbeda di dalam dirinya. Siapa dia asal-usulnya seperti apa tidak ada yang pernah tahu. Hanya dia selalu menyebut tentang bencana. Pada akhirnya 5 orang peneliti ini setelah mendengarkan dan menjalankan ide serakah Rajah bertemu dengan sosok lusuh ini, dan terjadilah perdebatan antara mereka dengan sosok ini. Hingga akhirnya, sosok ini ektase dan terjatuh. Ketika sosok ini terbangun langsung saja dia memberi peringatan tentang bencana.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Lalu Dalang masuk kembali ke dalam pertunjukkan kali ini dipanggul oleh 4 orang lelaki berpakaian serba hitam. Seperti biasa dia tidak memberi kesempatan kami mengurai makna. Setelah itu 2 penunggu hutan dan 2 peri hutan kembali menari lagi. Lalu ada sesosok orang dengan ponco dan topeng  mencoba mengambil pusaka, pusaka yang berada di tempat rajah memandang sebuah kayu dengan seksama. Begitulah, pusaka itu bisa diambil.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;Kembali Pagi dan Selalu Saja Pagi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Pagi pecah kembali. Seperti biasa aktivitas pagi. Lana selalu menjadi yang pertama bangun. Kali ini agak di luar kebiasaan si Karna sudah bangun meski hanya dari dalam tenda dia bersuara. Alang seperti adegan pembuka tiba-tiba datang dengan ponco, dan kemudian memberi bunga. Lalu segenap pasukan peneliti tumpah ruah di pagi itu kecuali Karna. lalu tiba-tiba Karna datang dan muncul membawa sebuah karung. Isinya ternyata pusaka, Lana terkaget karena dia mengira Karna masih di tenda. Lalu terjadi pertengkaran di antara mereka. Kemudian dua penunggu hutan datang, Peri hutan datang. Karna diseret penunggu hutan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Lampu gelap kembali. Lalu 3 orang membawa tas datang kembali. Bergerak lucu, ala kartun. Lalu bertemu Karna yang kini sudah menjadi gila. Fase penutup yang cukup membangunkan karena saya temui beberapa penonton tertidur di bangku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;l&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;alu kelabu mengabur nyanyian&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Lalu kelabu menabuh nyanyian, kisah kelabu yang dipertunjukkan dalam hutan tempat yang demikian teduh dan damai. Ketika keserakahan yang berkuasa dan amarah yang mengutuk ke dalam hati, maka saat semua tidak terkendali saat itulah kekuatan alam yang akan bicara. Seperti sebuah pepatah Jawa yang menggema perlahan seiring lampu yang mulai terang, &lt;em&gt;" sopo wani ngalah, luhur wekasane. sopo tumindak serakah nemu rekasane &lt;/em&gt;".&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Lihatlah bagaimana Rajah yang pada kemudian tidak puas dengan segala kondisi sebagai peneliti akhirnya terdorong berbuat serakah. Efeknya demikian besar, akhirnya niatan awal penelitian menjadi bergeser. Begitulah godaan kehidupan terasa begitu menyayat nalar dan rasa. Betapa seorang peneliti yang lekat dengan gelar kehormatan akademisi, saja masih bisa keblinger. Apalagi para Penguasa di sana? pada akhirnya mungkin semuanya harus berakhir menjadi gila seperti seorang Karna,&lt;em&gt; " amenangi jaman edan ora edan ora keduman."&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Mungkin semua itu bisa dicegah ketika kita masih mendengarkan nyanyian dari si Peri Hutan. Fragmen tarian antara si penunggu hutan dan  peri hutan, lamat-lamat terlihat seperti sebuah pertarungan antara nafsu jahat yang diwakili penunggu hutan dan hati teduh yang diwakili peri hutan. Setiap lentur dan gerakan tarian seperti mengajak kita untuk menerawang jauh. Tidak ada kata -kata,  ia hanya  membisikan sesuatu pada kita. Tidak untuk kita baca, dengar, atau ucapkan tapi untuk kita rasakan dengan hati. " &lt;em&gt;jamane kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange"&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;lalu kelabu mengabur nyanyian.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;Terjebak Dalam Lorong Waktu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Menonton Ouroboros seperti menonton sebuah lorong waktu yang panjang. Pergantian lampu sebagai tanda berganti babak dan berganti waktu dimainkan sepanjang pertunjukkan. Sehingga pada akhirnya menjadikan pertunjukkan ini disetting beberapa set tempat, dan permainan lighting untuk mengatur gelap terang. Akan tetapi, pertunjukkan ini terjebak di lorong waktu yang dia ciptakan sendiri. Lorong waktu yang serupa dengan Ouroboros itu sendiri, menjadikan kejadian dan setting yang melingkar-lingkar.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Panjangnya alur waktu yang penuh dengan diskusi dan hari yang terus berganti, memang sulit diterjemahkan dalam tata panggung, karena tidak mungkin jua rasanya mematikan lampu kemudian menjalankan tulisan berjalan : 7 hari kemudian. Karena hal itu hanya mungkin terjadi di sinetron, sementara yang terjadi di Ouroboros ini adalah sebuah lorong waktu yang demikian cepat, melesat dari pagi pertama hingga suatu setting di hari ke tujuh. Pergantian sekali klik dengan lampu mati, lalu dunia sudah berganti. Hebat memang, tapi sangat mengganggu pertunjukkan bagi saya. Karena pergerakan setting waktu sekonyong-konyong begitu saja, dan tanpa perubahan setting tempat dan tokoh yang cukup berarti.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Saya mulai menduga-nduga sebenarnya apa yang diharapkan dari penulis naskah dan si sutradara terhadap lorong waktu ini. Karena menurut saya, jika tidak dengan sangat cermat, detil, dan hati-hati, bisa jadi justru akan terjadi kebocoran alur waktu yang menyebabkan jalan cerita menjadi tidak sinkron. Beberapa hal, Ouroboros ini nyaris terjebak, salah satunya adalah di awal pertunjukkan ketika sekonyong-konyong dari hari pertama menuju ke hari ke tujuh selebihnya masih cukup aman. Meski secara umum terkesan begitu-gitu aja, padahal alangkah menariknya jika terjadi permainan alur di sini. Mengingat kembali bahwa Ouroboros ini adalah semacam kejadian yang berulang, maka mengutak-utik alur waktu tidak sekedar maju lurus sepertinya menjadikan pertunjukkan semakin menarik. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Tetapi tetap lebih menarik jika karakteristik naskah ini dijadikan sebuah film. Sehingga sekat-sekat waktu bisa ditembus dan dimainkan dengan lebih gamblang. Tidak terbatas pada permainan lampu atau dinding dingin Societet. Karena memang agaknya karakteristik naskahnya butuh ruang waktu. Karena bagi saya jika ruang waktu tidak terpenuhi kehadiran sosok lusuh akan menjadi lucu, bagaimana dia bisa hidup di hutan sekian lama? Apakah sedemikian surealiskah pertunjukkan ini? Bagi saya tidak, dan memang kehadiran Sosok Lusuh dalam Lorong waktu ini perlu dicermati sedikit lagi. Karena bagaimana dia bisa hidup di hutan sekian lama, jika dari awal bermain di tataran surealis, mungkin bisa diterima tapi dari awal genre pop sudah diusung sehingga agak sedikit bimbang rasanya. Lalu performa Dalang yang kurang menjelaskan justru menjadikan cerita sedikit mengambang, Tapi, sebenarnya bagi saya hanya kurang bermain saja di antara lorong waktu. Tapi hati-hati terjebak.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;Yang Muda Yang Bercinta&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Edi sang sutradara membawa masuk personil-personil muda, yang memang dari setiap karakter baik suara maupun mimik wajah maupun gerak masih terlihat bagaimana rasa belia mereka. Sebuah eksperimen dan pertaruhan besar sebenarnya. Bagi saya, penikmat yang membeli tiket seharga tiga belas ribu rupiah, saya tidak akan demikian peduli ini dalam rangka latihan ataupun apa untuk mendidik anak didik baru. Bagi saya yang saya butuhkan adalah sebuah pertunjukkan yang menghibur. Ya, memang menghibur malam itu tapi agak sedikit jengah juga dengan polah yang terlalu belia. Ya akhirnya terlihat pengalaman dan kemampuan yang juga harus dijual. Tapi keuntungan tersendiri, masuknya generasi muda ini tentunya memperkuat jajaran pasukan aktor di Keluarga Rapat Sebuah Teater. Setelah di sana masih ada orang-orang kawakan yang siap mengawal proses dan berproses bersama. Ah, satu lagi jajaran musik yang dikawal oleh Pity menjadi satu titik yang membuat pertunjukkan menjadi demikian hidup. Terutama bagi saya yang cukup menekan dada memang ketika mengiringi Peri Hutan dan Penunggu Hutan.  Rasa-rasanya memang proses kali ini penuh dengan gelora, yang muda yang bercinta.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;strong&gt;Kepada Peri- peri Hutan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Menutup ocehan saya, berangkat dari ketidaktahuan saya akan dunia teater. Karena memang ketertarikan saya pada dunia puisi. Sementara sepemahaman saya pertunjukkan Teater sebagai wujud olah jiwa sebuah naskah sastra secara dinamik dengan olah jiwa serta raga.  Catatan ini dilahirkan atas ketidaktahuan saya akan dunia Teater, dan jangan terlalu diperhatikan dengan demikian serius. Karena kadang bagi saya, persetan kata orang jika itu membuat kita berhenti berkarya, lawanlah!. Selamat atas kerja keras Keshia Sawitri sebuah naskah yang dalam yang akhirnya dipertunjukkan juga, tetap menulis tetap berkarya.  Selamat pula kepada seluruh personil pertunjukkan atas pementasan yang menghibur. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;Menarik satu pesan yang memang harus terus menerus disampaikan, bagaimanapun juga kita harus menjaga dan mengawal hutan tetap lestari. Andai  dalam hutan Ouroboros  itu kemudian terjadi hujan, maka kekasih hujan akan bersorak mendapati kekasihnya datang dan menyegarkan hatinya. Akan tetapi yang ada, adalah Peri-peri Hutan dan keteduhannya, maka terima kasih kepada Peri-peri Hutan yang tetap menyiram hati ini hingga tetap teduh. Mungkin tragedi memang tidak perlu terjadi jika kita mau bersyukur&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 1.5em; "&gt;NB : Sorry kalau direkaman handycam, terekam suara batuk-batuk ketika adegan Rajah keluar dari panggung. Ataupun diskusi ringan dan tertawa terpingkal-pingkal. Maklum mas Supra demikian mengundang malam itu. Hehe. Selamat juga pada mas Bagus Suryo Wirawan, piye gus sida po ora?&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-1447752174966579631?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/1447752174966579631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/02/kepada-peri-peri-hutan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/1447752174966579631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/1447752174966579631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2011/02/kepada-peri-peri-hutan.html' title='Kepada Peri-peri Hutan'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-2766021025835915976</id><published>2010-12-05T18:22:00.000-08:00</published><updated>2011-05-15T17:38:59.038-07:00</updated><title type='text'>Membaca Gus Mus, Membaca Perenungan</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span  &gt;Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat – Achmad Mustofa Bisri&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;      &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Kalau kau sibuk berteori saja&lt;br /&gt;Kapan kau sempat menikmati mempraktekan teori?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja&lt;br /&gt;Kapan kau memanfaatkannya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Kalau kau sibuk mencari penghidupan saja&lt;br /&gt;Kapan kau sempat menikmati hidup?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk menikmati hidup saja&lt;br /&gt;Kapan kau hidup?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk dengan kursimu saja&lt;br /&gt;Kapan kau sempat memikirkan pantatmu?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk memikirkan pantatmu saja&lt;br /&gt;Kapan kau menyadari joroknya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Kalau kau sibuk membodohi orang saja&lt;br /&gt;Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja&lt;br /&gt;Kapan orang lain memanfaatkannya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Kalau kau pamer kepintaran saja&lt;br /&gt;Kapan kau sempat membuktikan kepintaranmu?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk membuktikan kepintaranmu saja&lt;br /&gt;Kapan kau pintar?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Kalau kau sibuk mencela orang lain saja&lt;br /&gt;Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk membuktikan cela orang lain saja&lt;br /&gt;Kapan kau menyadari celamu sendiri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Kalau kau sibuk bertikai saja&lt;br /&gt;Kapan kau sempat merenungi sebab pertikaian?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja&lt;br /&gt;Kapan Kau akan menyadari sia-sianya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Kalau kau sibuk bermain cinta saja&lt;br /&gt;Kapan kau sempat merenungi arti cinta?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk merenungi arti cinta saja&lt;br /&gt;Kapan kau bercinta&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Kalau kau sibuk berkhutbah saja&lt;br /&gt;Kapan kau menyadari kebijakan khutbah?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk dengan kebijakan khutbah saja&lt;br /&gt;Kapan kau akan mengamalkannya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Kalau kau sibuk berdzikir saja&lt;br /&gt;Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikir?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk dengan keagungan yang dzikiri saja&lt;br /&gt;Kapan kau mengenalnya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Kalau kau sibuk berbicara saja&lt;br /&gt;Kapan kau sempat memikirkan bicaramu?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk memikirkan bicaramu saja&lt;br /&gt;Kapan kau mengerti arti bicara?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Kalau kau sibuk mendendangkan puisi saja&lt;br /&gt;Kapan kau sempat berpuisi?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk berpuisi saja&lt;br /&gt;Kapan kau memuisi?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;(Kalau kau sibuk dengan kulit saja&lt;br /&gt;Kapan kau sempat menyentuh isinya?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk menyentuh isinya sja&lt;br /&gt;Kapan kau sampai intinya?&lt;br /&gt;Kalau kau sibuk dengan intinya saja&lt;br /&gt;Kapan kau memakrifati nya-nya?&lt;br /&gt;Kalau sibuk memakrifatinya nya-nya saja&lt;br /&gt;Kapan kau bersatu dengan Nya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;“Kalau kau sibuk bertanya saja&lt;br /&gt;Kapan kau mendengarkan jawaban”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;----&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;membaca Gus Mus, membaca Perenungan, apakah ini Sufi? Jangan bertanya, jalanilah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-2766021025835915976?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/2766021025835915976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/12/membaca-gus-mus-membaca-perenungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/2766021025835915976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/2766021025835915976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/12/membaca-gus-mus-membaca-perenungan.html' title='Membaca Gus Mus, Membaca Perenungan'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-3306110063647080961</id><published>2010-09-05T14:56:00.000-07:00</published><updated>2010-09-06T08:29:27.415-07:00</updated><title type='text'>Berekspedisi : Sekretariat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua cerita ini akan dimulai dari sekretariat, yang sesekali lusuh dan lebih sering terlihat berantakan. Tempat dimana saya tidak bisa dengan gamblang melihat orang-orang yang ada di dalamnya sebenarnya menaruh hatinya ada di sini atau tidak.  Sekretariat adalah Jantung, dari proses yang demikian panjang, yang memompakan darah ke seluruh tubuh untuk menerima oksigen yang cukup. Maka dari itu 1, 5 tahun menyiapkan Ekspedisi ini banyak waktu yang dihabiskan di sekretariat. Entah pengurus maupun bukan pengurus, yang paling penting adalah ikut ngurusi dan ngrusuhi dalam jalannya pengurusan. Sehingga jelas menulis sebuah cerita tentang Ekspedisi tidak heroik rasanya tanpa menceritakan kondisi sekretariat menjelang ekspedisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menua di sekretariat, frasa yang tidak hanya berarti menua karena menghabiskan banyak waktu di sekretariat tapi lebih cocoknya adalah menua dengan kebanyakan kegiatan yang diawali dari sekret hingga ke dalam pelosok bawah tanah yang gelap dan berair sana. Bermula dari si orang yang mungkin diamini sebagai seorang konseptor, ataupun orang yang dengan bangga mengkritik para konseptor yang dianggap bukan realisator, dan juga didukung oleh orang-orang yang hanya sekedar joker saja. Tercetus banyak rencana kegiatan, yang pada akhirnya membuat kita akan tersita waktunya berada dalam lingkungan sekret, ada ataupun tidak ada hati di dalamnya. Meskipun demikian kemudian memang sekret juga bukanlah penjara yang memerangkap kehidupan pribadi seseorang, ketika seseorang mau datang untuk tetap menjalankan kegiatan itu suatu hal yang baik, tapi ketika mereka ingin pergi mengejar mimpi mereka dan tidak melanjutkan mimpi itu di sini ya juga silahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dari sinilah, orang-orang itu berusaha mewujudkan kegiatan dan motivasi untuk mewujudkannya pun beragam. Motivasi atau mungkin bahasan yang agak mengundang kontroversi adalah topik greget untuk mewujudkan. Hal ini memang  sangat personal, suatu halyang hanya bisa ditemukan oleh si individu itu sendiri. Jika pada mulanya memang tidak ada hati di sana, ya jangankan membicarakan greget, si orang itu masih mau berusaha agar kegiatan ini selesai itu sudah sangat baik. Atau yang paling seringkali muncul adalah persona seolah bermotivasi tetapi menyimpan sebuah samudera hati yang dalam dan tetap tak tersentuh apa yang dia ingini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;Sehingga, pada akhirnya membuat sebuah kegiatan sebaiknya adalah sebuah mimpi bersama, yang disemai dan dihidupkan perlahan-lahan. Jika itu sebuah rencana yang berjangka maka adalah penting untuk menularkan mimpi itu dari generasi ke generasi, kemudian menyiapkan pupuk yang baik dan juga serangkaian energi untuk tetap menyemainya. Hingga nantinya layak petik.&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lalu memainkan sebuah lagu dari Dewi Lestari, Grew A Day Older&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;See the sunrise&lt;br /&gt; Know it's time for us to pack up all the past&lt;br /&gt; And find what truly lasts&lt;br /&gt; If everything has been written, so why worry, we say&lt;br /&gt; It's you and me with a little left of sanity&lt;br /&gt; If life is ever changing, so why worry, we say&lt;br /&gt; It's still you and I with silly smile as we wave goodbye&lt;br /&gt; And how will it be? Sometimes we just can't see&lt;br /&gt; A neighbor, a lover, a joker&lt;br /&gt; Or a friend you can count on forever?&lt;br /&gt; How happy, how tragic, how sorry?&lt;br /&gt; The sun's still up and life remains a mystery&lt;br /&gt; So, would it be nice to sit back in silence?&lt;br /&gt; Despite all the wisdom and the fantasies&lt;br /&gt; Having you &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;close to my heart&lt;/span&gt; as I say a little grace&lt;br /&gt; I'm thankful for this moment cause&lt;br /&gt; I know that you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Grow a day older and see how this sentimental fool can be&lt;br /&gt; When she tires to write a birthday song&lt;br /&gt; When she thinks so hard to make your day&lt;br /&gt; When she's getting lost in all her thoughts&lt;br /&gt; When she waits a whole day to say...&lt;br /&gt; "I'm thankful for this moment cause I know that I&lt;br /&gt; Grow a day older and see how this sentimental fool can be&lt;br /&gt; When he ache his arms to hold me tight&lt;br /&gt; When he picks up lines to make me laugh&lt;br /&gt; Whan he's getting lost in all his calls&lt;br /&gt; When we can't wait to say : "I love you'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; If everything has been written down, so why worry, we say&lt;br /&gt; It's you and me with a little left of sanity&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;matahari sudah terbit, akhirnya memang inilah waktu untuk membungkus kembali apa yang sudah terjadi selama ini, jangan sampai tercecer agar kita tahu apa yang benar-benar telah terjadi dan yang tersisa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;" yang tersisa dari ruangan ini adalah sebuah kertas penuh dengan coretan,  yang tak berarti apa-apa, kecuali kita maknai."&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang semua sudah ditakdirkan dan semua sudah disepakati, mengapa kita harus khawatir. Inilah kita dengan sedikit kewarasan kini. Jika memang hidup terus berubah, mengapa kita harus khawatir, katakanlah ini masih kita, dengan senyum konyol dan lambaian perpisahan.  Lalu apa yang akan terjadi, terkadang kita hanya tidak bisa melihat, seorang teman sebelah tempat tinggal, kekasih, pelawak, atau seorang teman yang dapat kita andalkan selamanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;" yang bisa kita lihat dengan mata yang hanya dua, mungkin tidak seperti yang kita lihat dengan hati yang terbuka lebar. Benar kita terkadang hanya tidak bisa melihat, kalau dia ada."&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;bagaimana rasa senang, peristiwa tragis, dan penyesalan? Seperti matahari, kesemuanya itu tetaplah sebuah misteri kehidupan. Hmmm, sepertinya ada baiknya kita kembali diam. Akan tetapi semua kebijakan dan impian, membuatmu semakin dekat dengan hatiku. Lalu aku bersyukur, karena atas peristiwa ini membuatku mengenalmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;" kita hanya lupa bersyukur... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;betapa mungkin ruang ini bisa menjadi teramat menyenangkan, betapa mungkin ruang ini bisa menjadi teramat menjengahkan, tetapi ruang ini pun selalu, setidaknya ada yang membuatnya untuk tetap menjadi menyenangkan bagi dirinya sendiri, yang kadang menyakitkan bagi orang lain dan atau kadang juga menyenangkan bagi orang lain.  Dia mungkin bersyukur, ketika melihatmu menua di sini dapat memaknai, melihat dan juga bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Terlalu banyak kepadatan dan emosi yang menumpuk. Mengendap terlalu dalam seperti gunung api es, yang hanya kelihatan sedikit, tapi sebenarnya menunggu untuk memuntahkan isinya. Banyak urusan yang jauh dari kata selesai, yang akhirnya dianggap selesai atau dibiarkan tidak selesai. Tetapi, 8 tas carrier itu sudah terisi dengan peralatan dan juga logistik satu paket buku juga sudah disiapkan. Fisik dan skill sudah dilatih, rencana sederhana sudah ada. Tinggal memacking hati dan emosi baik-baik, karena bukan hanya si empunya 8 carrier itu saja yang akan dibawa hati dan emosinya tetapi hati dan emosi dari sekian banyak orang yang ada di sekretariat, yang terlihat maupun tidak terlihat. Sir Edmund Hillary, berkata " orang-orang yang pulang dari mendaki gunung selalu pulang dengan kebijaksanaan". Apa yang kamu cari di sana? Apa yang kamu ingin lakukan di sana? di dalam tubuh ini, sebuah mahkluk yang terjebak di dalamnya, bernama hati dengan tenang bicara : " Saya hanya ingin memaknai dengan sederhana, memaknai kesederhanaan dan menjadi sederhana dengan memaknai"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ternyata semua dimulai di sini...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-3306110063647080961?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/3306110063647080961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/09/berekspedisi-sekretariat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/3306110063647080961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/3306110063647080961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/09/berekspedisi-sekretariat.html' title='Berekspedisi : Sekretariat'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-8926345329625211622</id><published>2010-08-14T09:08:00.000-07:00</published><updated>2010-09-13T20:51:11.079-07:00</updated><title type='text'>POSITIV/ NEGATIV</title><content type='html'>Kios Penjual Majalah dan rokok di sudut Plaza kampus itu tampak ramai dijejali pembelinya siang ini, sebagai satu-satunya penjual rokok di lingkungan ini memang kiosnya menjadi jujugan dari seantero lingkungan kampus. Dulunya dia hanya menempati rombong kecil, buatan sendiri, sekarang dia menempati sebuah rombong besar atau kita biasa menyebutnya kios, yang dibangun dalam rangka renovasi pusat jajanan paling ramai di lingkungan kampus ini. Seperti perubahan rombong menjadi kios, perubahan pusat jajan yang dulu lugu, kini menjadi megah dan angkuh, seperti itu pula kehidupan demi kehidupan lain di kampus ini pun lambat laun ikut berubah. Dekorasi yang dilanjutkan dengan narasi demikian tiba-tiba meloncat-loncat di pikiran saya ketika siang itu duduk di plaza itu, sambil membaca koran, meminum segelas kopi susu, dan tidak lupa merokok. Tangan saya sibuk dengan handphone, membalas beberapa pesan yang masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan adalah hal yang pasti terjadi, kembali pikiran saya bergema. Bicara soal perubahan jika mau diambilkan contoh dalam raga manusia misalnya, perubahan fisik jelas merupakan suatu hal yang secara kasat mata dapat dilihat, atau hal yang mungkin kita harus memakai " kaca mata" dalam melihatnya misalnya perubahan kognitif dan mental seseorang.  Wah, bahasa-nya psikologi sekali, mungkin dari 'kaca mata' yang agak berbeda perubahan sebuah kampus dapat terlihat dari perkembangan statistika jumlah mahasiswa atau gedungnya, yang agak elite tentunya perubahan peringkat dunianya. Akan tetapi, seperti yang saya dengar dari kuliah Perkembangan,  kebetulan waktu itu saya masuk kuliah, bahwa Perubahan adalah suatu hal yang bisa berujung kepada hal yang positif dan negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang ilmuwan Psikologi, sebagaimana sebuah anekdot yang katanya kondang di era majalah Psychogama dulu, &lt;em&gt;psikolog adalah orang yang menonton pertunjukan tari bugil, tetapi  yang diperhatikan adalah penontonnya&lt;/em&gt;. Sekarang saya duduk di sini, bukan sedang melihat tari bugil atau video bugil, tetapi saya sedang menonton perubahan kampus, bukan kampusnya yang saya lihat sekarang ini tapi saya sedang menonton orang-orang di dalamnya. Saya sedang berada di tempat yang menurut saya adalah monumen perubahan yang paling terlihat, Plaza Humaniora, judul baru yang tetap tak mampu merubah judul lama Bonbin. Nama baru itu tak segera familiar dan lebih akrab nama lama yang sudah mengakar puluhan tahun, demikian pula bangunan yang ada juga sudah berusia puluhan tahun, baru kemudian diganti dengan bangunan baru. Orang-orang dengan cepat menyesuaikan diri dengan bangunan baru di sini, bangunan baru yang lebih sedap dipandang mata. Kemudian mereka juga disuguhi jenis makanan yang lebih beraneka ragam dari sebelumnya termasuk juga harga yang ikut 'menyesuaikan' dengan fasilitas  baru yang jauh lebih mewah dari fasilitas lama yang agak kurang sedap dipandang mata ( beberapa orang bilang kumuh), dan  mereka pun lebih cepat menyesuaikan juga. Beberapa pedagang ada juga yang mengeluh karena satu dan lain hal, tetapi tetap saja prinsip bussines must go on harus tetap dipegang karena disanalah dan dari sanalah mereka hidup. Tapi, mengapa penyesuaian yang demikian bisa dibilang cepat itu tidak dibarengi dengan perubahan pengucapan nama tempat itu sesuai dengan Plakat barunya yakni Plaza Humaniora, dan tetap saja penyebutan Bonbin lebih Populer?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya ada beberapa hal yang menarik yang bisa saya tonton. Perubahan bisa diterima secara afektif, psikomotorik, dan kognitif tapi bisa juga tidak diterima ketiganya. Jajanan dan fasilitas yang ada bisa dengan mudah diterima, tanpa perlu waktu lama karena penjualnya pun masih sama, beberapa baru kadar perubahannya hanya pada bentuk dan jenisnya. Pengucapan nama adalah hal yang belum bisa diterima, kadar perubahan ini agaknya cukup istimewa karena jelas ini merubah banyak hal, karena kebiasaan penyebutan nama itu terkait dengan jejak rekam kognitif yang apabila sudah direkam dengan demikian baik akan susah untuk dilupakan. Tapi, tidak tertutup kemungkinan juga bisa berubah, dengan model tertentu modifikasi perilaku hal tersebut bisa diubah tapi butuh waktu. So, perubahan butuh waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada pula yang baru, yang sedang dikritisi habis-habisan juga oleh beberapa orang, tetapi beberapa lainnya lebih memilih tidak peduli. Isu Portalisasi kampus dan segenap pirantinya, termasuk diantaranya Kartu Identitas Kendaraan dan Karcis Berbayar. Jelas ini sebuah perubahan.  Banyak pro dan kontra, yang kontra mengajak menolak melalui tulisan ataupun aksi-aksi. Yang pro pun demikian adanya. Yang menerima atau terpaksa menerima dari golongan Pro dan Kontra, akhirya harus mengurus KIK yang memang mau tak mau harus dilakukan agar lancar dan tidak terkena pengorbanan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka semua dihadapkan kepada pilihan yang sulit terhadap perubahan ini, mereka harus tetap menjalankan perubahan ini. Saya berpendapat demikian karena agaknya sudah sulit untuk merubah perubahan ini sesuai dengan pendapat yang kontra dan menolak. Raksasa UGM sudah membuat keputusan yang harus dijalankan, dan memang tidak ada aksi mahasiswa yang berhasil menggulingkan perubahan ini. Satu titik point lagi, perubahan pun bisa dipaksakan. Yang satu ini paling populer di Indonesia, cara-cara yang agak sedikit kasar diterapkan. Seperti penggunaan helm, bukan karena kesadaran akan keselematan tapi karena takut ditilang. Ini juga perubahan yang dipaksakan. Seperti halnya juga KIK agak sedikit dipaksakan, tapi berbeda dengan helem, KIK lebih banyak belum teruji manfaatnya dan masih terlihat mudaratnya, orang menerima karena memang harus diterima meski tahu masih banyak mudaratnya. Mungkin saya orang yang kontra karena adanya kemudaratan itu, tapi saya mengurus KIK karena saya malas direpotkan oleh hal itu dikemudian hari.  Saya harus "menerima" sebagai bagian dari system UGM, tapi saya tetap harus jujur saya tidak setuju karena adanya ketidakbermanfaatan dan pemborosan yang saya sebut sebagai mudarat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebagai penutup tulisan saya ini, bicara perubahan adalah soal waktu, soal menerima atau tidak terima. Mungkin awalnya kita kaku sulit menerima tapi bisa jadi waktu akan membuat kita menerima walaupun terpaksa atau dengan senang hati. Perubahan pasti terjadi kita harus siap menghadapinya, karena perubahan  itu bisa jadi positiv atau negativ. Jika perubahan positiv yang biasanya dekat dengan kenikmatan saya rasa kita sudah sangat siap, karena tentunya itu sesuai dengan motivasi dasar manusia yakni menghindari sakit atau mencari kenikmatan. Tapi bagaimana jika itu negativ??&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-8926345329625211622?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/8926345329625211622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/08/positiv-negativ.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8926345329625211622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8926345329625211622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/08/positiv-negativ.html' title='POSITIV/ NEGATIV'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-6969216975757401387</id><published>2010-08-09T00:44:00.000-07:00</published><updated>2010-08-15T20:51:24.741-07:00</updated><title type='text'>Antara Ayung - Telaga Waja : Part. II Perjalanan Menuju Bali</title><content type='html'>Kereta api berangkat perlahan, dan memang sangat perlahan. Lalu lintas pedagang asongan hilir mudik dari stu gerbong ke gerbong lain. Tak lelah mereka berdiri dan berjalan menjajakan jajanan yang menghidupi mereka hari ini dan esok hari. Usaha dan perjuangan yang dilakukan agar periuk nasi tetap terisi dan dapur tetap mengepul. Beginilah rasa perjalanan kelas ekonomi, kenyamanan adalah barang mewah. Tapi, jelas ketidaknyamanan ini tidak menyurutkan langkah kami. Perjalanan panjang menuju stasiun Banyuwangi. Tempat kereta ini akan berhenti, kami berangkat dari stasiun pertama hingga stasiun terakhir, memakan waktu kurang lebih 14 jam perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Ciella nyaris ketinggalan kereta di stasiun Surabaya Gubeng untuk turun membeli makan, tapi ketika makanan sedang disiapkan, tiba-tiba kereta berangkat. Tergesa-gesa kemudian segera meminta tukang penjualnya untuk cepat menyiapkan, dan akhirnya kami tidak ketinggalan kereta dan kami dapat makan. Lalu pecel telor ceplok itu bisa jadi yang terenak yang kami rasakan sepanjang perjalanan ini. Dengan adegan lari-lari mengejar kereta, dan 6 perut kelaparan yang menunggu kami. Hmm, mungkin hanya 5 perut lapar, karena Yoga tidak menampakan kelaparan. Hanya memasang muka datar tanpa ekspresinya seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/TGiwjCE-acI/AAAAAAAAADY/jd0eG5AaXpc/s1600/IMG_1993.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/TGiwjCE-acI/AAAAAAAAADY/jd0eG5AaXpc/s320/IMG_1993.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505844660360079810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di Banyuwangi, dengan wajah datar dan tak berdosa seperti bayi lahir yang masih polos, kami melihat tempat ini bagai sebuah antah berantah. Maklum tak seorang pun dari kami yang tahu daerah ini. Bergegas kami mencoba mencari tempat untuk berteduh malam ini. Ternyata petugas stasiun menawari kami sebuah tempat menginap, tentunya bukan penginapan tapi hanya selasar stasiun yang tentunya tidak senyaman penginapan, tapi cukuplah membuat kami lelap malam ini setelah memakan nasi goreng merah dengan porsi ekstra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/TGiyvqFNooI/AAAAAAAAADg/TD4jHVGlDqs/s1600/IMG_2013.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 179px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/TGiyvqFNooI/AAAAAAAAADg/TD4jHVGlDqs/s320/IMG_2013.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505847076280181378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Esoknya pagi-pagi sekali Kami bangun, karena bus sudah menunggu. Kami membonceng bus PT. KA untuk sampai ke Terminal Ubung, menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk. Sempat terjadi insiden di pelabuhan Gilimanuk, karena saya dan Justin tidak membawa KTP maka kami sempat tertahan di sekitar Pelabuhan. Kami kemudian berpisah dengan team yang lain, lalu mengurus segala sesuatunya. Tapi akhirnya kami dilepaskan dengan jaminan dari Wakapolsek Gilimanuk rekan dari mas Didith Ambara. Kemudian saya berdua dengan Justin Melanjutkan perjalanan ke Ubung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/TGiz6JYNPGI/AAAAAAAAADo/ipneq-atVZM/s1600/IMG_2061.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 179px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/TGiz6JYNPGI/AAAAAAAAADo/ipneq-atVZM/s320/IMG_2061.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505848355991665762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di Ubung, kembali saya merasa ini tempat yang antah berantah tetapi lega rasanya melihat ada seseorang dengan baju Palapsi sedang duduk menelpon, ternyata dia adalah Patang. Kemudian saya, dan Justin makan sambil menunggu pak Nyoman yang akan membawa mobil yang kami sewa. Setelah makan selesai Pak Nyoman datang. Lalu kami kembali masuk terminal. Membawa barang-barang yang masih ada di terminal untuk dibawa ke parkiran. Memompa perahu, lalu menaruh perahu barang-barang dan kayak ke atas mobil.&lt;br /&gt;Agenda kami langsung menuju kantor Sobek adventure di daerah By Pass Ngurah Rai, dengan berbekal peta yang dibeli Reza kami menyelusuri jalanan di Bali. Dengan sekali lagi tak seorang pun dari kami yang tahu jalanan di Bali. Akhirnya perjalanan di Bali Kami mulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- bersambung&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-6969216975757401387?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/6969216975757401387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/08/antara-ayung-telaga-waja-part-ii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/6969216975757401387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/6969216975757401387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/08/antara-ayung-telaga-waja-part-ii.html' title='Antara Ayung - Telaga Waja : Part. II Perjalanan Menuju Bali'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/TGiwjCE-acI/AAAAAAAAADY/jd0eG5AaXpc/s72-c/IMG_1993.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-7349657552739412345</id><published>2010-06-19T21:59:00.000-07:00</published><updated>2010-08-03T21:12:34.163-07:00</updated><title type='text'>World Class Ribet Univesrity</title><content type='html'>Semalam saya menaiki sepeda motor, memulai aktivitas nocturnal. Jenuh dengan hawa sok intelektual di Utara, maka saya putuskan melepas penat ke wilayah Selatan. Tak jauh saya hanya ingin melihat Alun-alun Kidul.  Lalu saya masuk ke dalam wilayah kraton tersebut, tidak sulit memang karena ini memang wilayah kraton yang terbuka, jalan yang notabene merupakan jalan kraton dibuka untuk dapat dilalui oleh masyarakat umum. Belum lagi tanah Kraton yang ada di dalam beteng kraton yang  boleh dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Keridaan hati Kraton dan Sultan, mungkin inilah penjalmaan dari sabda misuwur, " Tahta Untuk Rakyat". Tahta yang dijalankan untuk kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya, Kraton dan Sultan mau memanfaatkan tanah dan meminta rakyat untuk membayar setiap kali masuk dan tinggal di wilayah kraton, maka betapa besar keuntungan yang didapatkan Keluarga Kraton. Toh tapi nyatanya itu tidak dilakukan, bagi saya ini adalah keikhlasan yang demikian mengharukan. Belum lagi, ketika saya masuk ke dalam Alun-alun Kidul. Betapa banyak orang yang ada di sana, mencari secuil kehidupan yang mungkin terserak dari kantong-kantong pengunjung malam itu. Lagi-lagi, Kraton menjadi tempat hidup dan melanjutkan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya memarkir motor saya, dan duduk sambil melihat aktivitas masangin yang dilakukan oleh orang-orang. Kepulan asap tak lama kemudian mulai memenuhi udara wajah saya. Melamun sejenak. Anehnya di tengah lamunan saya, tiba-tiba seorang teman lama datang menyapa saya.  Sungguh memang pertemuan yang tidak terduga, saling berbasa-basi sejenak lalu mengobrol. Teman saya lalu bercerita tentang kampusnya. Kampusnya adalah sebuah kampus ternama di negara Indonesia. Universitas yang dari dulu terkenal dengan judul universitas kerakyatan - versi agak intelek dari judulnya universitas ndeso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya, sebut saja Damar, bercerita. " Akhir-akhir ini Universitas tersebut menjadi buah bibir kebanyakan orang, karena isu-isu yang diluncurkan kampus tersebut terkait pengelolaan kampusnya menimbulkan kontorversi. Mungkin petinggi-petinggi kampus yang sangat intelek dengan kebijakan yang intelek juga, sehingga tidak kompatible dengan kondisi masyarakat kampusnya yang mungkin kurang intelek sehingga kebijakan yang dikeluarkannya selalu disambut dengan kontroversi. " . Saya yang hanya orang tak berpendidikan ini pun langsung saja nerocos, " lha kok orangnya yang disalahkan jangan-jangan memang tidak intelek itu kebijakannya. ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kebijakan yang dikeluarkan sebenarnya cukup intelek, ah kata-kata intelek itu kesannya borjuis sekali, oke saya ganti. Kebijakan yang dikeluarkan sebenarnya merupakan kebijakan yang cerdas dan cita-cita yang indah. Contohnya, konsep educopolis bukannya sebuah ide yang bagus to, menciptakan kampus ramah lingkungan. Jadi kampus ini ga hanya punya banyak orang yang ngakunya mahasiswa pecinta alam tapi secara nyata pun mendukung gerakan cinta alam. Tapi saya tetap tidak setuju larangan merokok di kampus." Berbicara dengan nada agak kiri dan penutup yang cukup oportunis, ya soalnya dia juga perokok. " Lhagene dab, kalau saya simak pembicaraanmu sebenarnya kebijakannya tuh bagus lho. " saya bicara dengan nada sok tahu. " Cita-citanya sih keren dab, tapi aplikasinya dengan penerapan portalisasi, dan pembatasan kendaraan yang masuk dengan sistem berbayar itu lho dab yang kebanyakan tidak bisa diterima. Masak mau masuk kampus sendiri mbayar. Ga mbayar aja banyak yang mbolos, apalagi mbayar. Mungkin memang educopolis itu lama-lama menjadi cita-cita yang kapitalis.  Mungkin kampus ini pun semakin akan menjadi kapitalis saja, ketika biaya pendidikan pun makin semakin tinggi ditambah dengan masuk kampus membayar. " Damar menghelas nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Yah nasib bagi teman-teman yang kuliah di sana, dan nasib adalah kesunyian masing-masing jika merujuk kepada mas Chairil Anwar. Kalau menurutku, setauku dari  membaca koran yang ada di angkringan Hardjo. Pendidikan yang bagus adalah pendidikan yang mahal, bukan pendidikan yang murah. Ya, bagus kan pendidikan kampusmu itu semakin mahal jika diikuti bebarengan dengan peningkatan kualitas juga. Toh jikalau saya liat orang-orang kampusmu itu mampu kok. Buktinya semuanya berkendaraan sampai mau dibatasi kan jumlahnya? Kampus itu representasi dari manusia di dalamnya, ya nek kampusnya dicap kapitalis bisa jadi jangan-jangan karena orang-orangnya juga kapitalis. " Sedikit berbekal informasi dari koran saya mencoba mengimbangi obrolan Damar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kan juga tidak semua mahasiswa kampus itu orang kaya. Bagaimana solusi untuk mereka?" Damar mengudarakan kegelisahan. " Nek menurutku ya seharusnya ada subsidi. Subsidi dari negara untuk yang tidak mampu, dan subsidi silang dari yang mampu untuk yang tidak mampu." mengumbar Solusi, yang tiba-tiba keluar saja dari mulut.  " Yah semuanya menurut saya juga jer basuki mawa bea, mas dab. Segala sesuatunya itu ya butuh pengorbanan. Saya dengar cita-cita kampus menuju world class research university, ya tidak akan tercapai tanpa mengeluarkan dana yang besar. Urusan dana yang besar itu memang tidak bijak jika hanya di dapatkan dari memoroti mahasiswa, kampus harusnya lebih bijak mengembangkan jalan dan meretas kembali jejaringnya untuk mendapatkan dana di luar dana mahasiswa. Selain itu juga jangan semata-mata mengharapkan uang dari pembayar pajak. APBN masih terluka parah untuk menutup kebutuhan lain negeri ini, itu pun masih diamputasi para pelaku korupsi. Ya yang penting semuanya itu memang tujuannya untuk World Class Research University aja to dab..." selorohku dengan gaya birokrat. " Yah asalkan tidak  menjadi World Class Ribet University wae, kampus diportal mlebu mbayar, birokrasi njlimet, kuliah susah, oooalah urip kok saya angel.... " curhatan Damar di tengah malam ketika langit malam Alun-alun Kidul penuh dengan cahaya kembang api yang dihidupkan para penikmatnya. Batang ke empat sudah tinggal seperempat,  lama juga kami mengobrol. Hingga akhirnya pagi membuka mata, embun mengantar kami pulang. Sebelum pulang Damar berbisik, " jaluk rokoke lik...", dan saya berujar " wah iki, semua potensi modal adalah milik bersama yo, koyone kakean moco Das Kapital kowe... ". Senyum tersungging dari bibir tebal Damar, jauh dari bibir manis Cut Tari atau Sosok yang mirip Cut Tari di Video yang mengguncang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari sesudah pertemuan saya dengan Damar, saya bermain ke angkringan saudara Hardjo, Sp. TK ( Spesialis Tenggorokan Kering). " Opo Kom?" Hardjo dengan sapaan yang biasa dia lontarkan menyapaku. " Ek Jerus dab!" jawaban singkat saya yang sudah pasti Hardjo pahami maksudnya. Kemudian duduk, semende pada pagar tembok rumah Sakit Matamu. Sambil sesekali menyantap gorengan, serta tidak lupa merokok. " Jarene kampuse Damar, mlebu mbayar Le?" Ukara yang muncul dari bibir Hardjo sambil menyerahkan pesananku, nyaris membuatku tersedak. " Welah, kok reti dab, tahu dari mana ni?" tanyaku. " Walaupun gur dodolan angkring, saya ini pembaca setia koran Merbabu dab..." jawabnya membela diri. " Lha kalau kabar yang saya dengar memang begitu adanya, betapa sangat mengejutkan memang, dan sedikit membuat saya trenyuh... " jawabku mengurai aksara. " Jelang dos, masak mau masuk kampus saja mbayar, lha emang duit  mahasiswa sekian ribu sama duit negara milyaran rupiah itu tidak cukup apa buat membiayai operasional parkir? kalau emang ga cukup yo rasah dianake acara parkir mbayar barang. Kowe sekolah larang-larang je, isih ditambahi. Nek anakku sekolah di sana ya tak suruh protes, tapi yo ketoke ra mungkin anakku neng kono... lha wong bapake gur tukang angkringan... " jawaban Harjo yang meledak di awal lalu turun seiring dengan menurunnya self esteemnya. " Yo, ben to. Kan kampusnya isinya juga orang-orang kaya. " Kang Bagong penjual bensin eceran ikut berdiskusi. " Hlaa, tapi kan itu bertentangan dengan prinsip Universitas Kerakyatan to bos... " jawab Harjo yang akhirnya membawakan ukara dahsyat Universitas Kerakyatan. Pembicaraan menjadi seru, lalu Pak Sri Polisi yang tugas di Bank Masyarakat Indonesia langsung melontarkan kata-kata yang langsung menghentikan diskusi, " Kalian tu pada ngapain to? Lha wong kui wes urusane uwong Universitas sing mikirke ki para Professor, Doktor, Insiyur, Dokterandes, lha kalau kita kan gur SD, SMP, SMA, yo ra tekan ga sampai mikirnya ke sana. Uweslah percaya wae. Jangan lupa Jo, gaweke aku es lemon tea." Betapa pasrahnya kepada orang yang lebih linuwih pun muncul di sini. Memang demikian mengharukan dan mengasyikan, jengah dengan istilah-istilah intelektual di utara saya terhapuskan dengan mendengarkan celoteh orang-orang yang demikian kecil, dan ngrumangsani dirinya kecil, yang mungkin suaranya tidak sempat terekam atau cenderung dilupakan ketika mungkin kita keblinger dengan kekuasaan dan intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Saya yang cukup penasaran akhirnya lewat ke dalam kampus Damar. Kata-kata yang keluar dari Mulut saya adalah. " Subhanallah" saya merasa Indonesia sudah kaya kembali, mobil berturutan antre masuk kampus dan mendapatkan karcis. Saya merasa memang kampus Damar adalah kampus yang sangat kaya. Betapa tidak kaya, dia mampu membayari sekian puluh satpam, untuk menjaga gerbang dan duduk menulis nomor kendaraan bermotor. Investasi ratusan juta rupiah yang juga turut serta mendukung global warming karena kertas karcis tersebut tentunya mendukung penggundulan hutan juga. Wow luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian saya beristigfar, " astagfirullah" teramat jarang bagi saya yang agaknya agak jauh dari tiang agama mengucap dua kata-kata suci itu. Tapi menyaksikan pemandangan ini saya pun beristigfar. Saya masih melihat pengemis di kampus Damar, artinya negara saya belum kaya benar. Saya pun membaca tulisan-tulisan agitatif yang berisi bahwa rakyat miskin dilarang kuliah karena pendidikan yang mahal, saya pun trenyuh dan ngelus dada. Lha wong membuat system parkir yang demikian besar dan borosnya saja Universitas ini mampu, tapi kok masih saja ada keluhan tentang biaya kuliah yang mahal dan fasilitas bagi yang kurang mampu yang kurang memadai. Hambok, itu duit buat operasional parkir dipakai buat bea siswa mahasiswa, dapat berapa ratus mahasiswa ya?&lt;br /&gt;Jer basuki mawa bea, semunya butuh pengorbanan. Saya rasa itu adalah ungkapan kambing hitam. Bagi saya kampus ini sudah berubah menjadi raksasa yang sombong dan angkuh tetapi makin hari makin ompong saja. Intelektual yang kaya, tapi miskin intelektualitas. Saya rasa kampus ini kehilangan hati dan nyali, hati dan nyali untuk bicara kejujuran. Kampus yang licik dan oportunis. Saya rasa itu terlihat dengan diadakannya sosialisasi di musim liburan dan KKN yang otomatis pula sedikit mahasiswa di kampus, yang jelas berkorelasi positif dengan sedikit protes. Tidak ada perjuangan di sana, karena mahasiswanya juga sibuk dengan urusan politik dan eksistensi mereka sendiri, dan ketika dihadapkan pada satu persoalan kampus. Mereka runtuh satu persatu, karena tidak ada kesatuan hati dan semangat di antara mereka. Inilah era matinya perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya berteriak malu dari sini, " Hey Mahasiswa. Selamat datang di era keruntuhan Intelektualitas, Kerendahan Hati, dan Kemerdekaan. Selamat datang di era Pragmatis, Praktis, dan Siap Pakai. Selamat tinggal hati dan moral!" dan saya pun berteriak agak sedikit lantang dari sini, " Mahasiswa Bersatulah. Kita harus punya wadah pergerakan Baru, karena wadah pergerakan lama kita  sudah lama onani bersama kepentingan  politik, dan mereka lupa kita di sini juga punya suara untuk diorgasmekan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Saya sebagai mahasiswa UGM bersyukur, kampus saya 'belum' separah kampus Damar dan semoga UGM bisa menjadi kraton Intelektualitas, yang memberikan pengayoman kepada segenap rakyat sebagaimana Kraton Ngayogyakarta pernah memberikan pengayoman kepadanya, membesarkannya perlahan hingga akhirnya menjadi seperti sekarang. Akhirnya Saya hanya bisa bersyukur sebagai mahasiswa UGM. Masih ada secuil kebanggan di balik Almamater yang dipakai meskipun hanya tinggal secuil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-7349657552739412345?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/7349657552739412345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/06/world-class-ribet-univesrity.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7349657552739412345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7349657552739412345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/06/world-class-ribet-univesrity.html' title='World Class Ribet Univesrity'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-7278069512146698538</id><published>2010-06-18T10:12:00.000-07:00</published><updated>2010-06-18T17:57:12.841-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dolanan banyu'/><title type='text'>Antara Ayung - Telaga Waja : Part I.  Berangkat Mencari Sepercik Air Dewa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/TBwQAN7v3nI/AAAAAAAAADI/ecz-EvPkm9s/s1600/IMG_1978.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/TBwQAN7v3nI/AAAAAAAAADI/ecz-EvPkm9s/s320/IMG_1978.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484276042156727922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang sederhana, ketika mata mulai terbuka dan jarum jam tetap tak mau mengalah senantiasa menari di antara deret angka-angka. Tak peduli denganku yang masih berada di dua dunia, mimpi dan realita. Pagi yang sederhana dan teh hangat yang tak biasa. Teh hangat rasa Jogja yang pastinya akan saya rindukan setidaknya 6 hari ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi adalah aktivitas yang memperjelas koordinat saya sekarang. Sekarang saya ada di dunia realita. Seonggok tas dan segala ubarampe di dalamnya sudah terduduk dengan manis di kasur. Flanell biru, Kaos NGU Rafting, Topi Palapsi, Jeans Biru, dan Ikat Pinggang menjadi&lt;span style="font-style: italic;"&gt; wardrobe&lt;/span&gt; untuk keberangkatan kali ini. Sebuah petualangan kecil, mencari sepercik dewa, di antara deras jeram sungai Ayung dan Telaga Waja, di tanah Dewata. FUD 2010 BALI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan. Jauh dari rumah, dan keberangkatan sebuah perjalanan selalu meninggalkan haru tersendiri. Seperti tadi pagi ketika melihat wajah ibu dan bapak, penuh harap dan doa. Lalu di sekretariat hiruk pikuk pagi ini, sudah seperti ampas kopi dalam kopi panas seduh, menggumpal ke sana kemari segerombolan manusia. Saya yang agak terlambat pagi ini, berangkat dengan membawa oleh-oleh flu buat Bali. Seperti saya ungkapkan dia atas, keberangkatan sebuah perjalanan memang meninggalkan haru tersendiri, seperti saat dengan syahdu syair himnne Palapsi dilagukan dan dengan hangat sang bendera biru Palapsi memeluk wajah kita. Teriakan Never Give Up menutup ritus keberangkatan pagi ini. Reza Abdillah si pemimpin perjalanan lalu segera menginstrusikan saya ( Muhammad Septian), Brian Patang, Justin Larissa, Intan Kurniasari, Yasinta Ciella, Destiny Priandari dan tentu saja Yoga Sableng untuk segera mengangkat perahu, kayak, dan perlengkapan lain ke dalam motor dan mobil menuju stasiun Lempuyangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di stasiun Lempuyangan, Paduka Sri Tanjung belum duduk di singgasananya di Keraton Lempuyangan tempat kami berangkat dan nanti tempat kami pulang. Sembari menunggu Yoga membeli tiket dan lalu kami bersiap memasukkan barang-barang kami hingga denting lonceng khas stasiun kereta berbunyi pertanda kereta Sri Tanjung segera masuk ke jalur 1. Segera saja, langsung kami menuju ke dalam peron stasiun, menyiapkan segala alat untuk dimasukkan ke gerbong paling belakang kereta. Lalu barang-barang ditata dengan rapi di sana. Tak lama setelah semuanya tertata rapi, lokomotif sudah meniupkan belnya pertanda kuda besi itu akan segera berlari  membawa kami  menuju ke bumi Banyuwangi, tujuan terakhir dari perjalanan sang Paduka. Tapi persinggahan sementara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/TBwULPPS44I/AAAAAAAAADQ/AQEunk6pFBU/s1600/IMG_1979.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/TBwULPPS44I/AAAAAAAAADQ/AQEunk6pFBU/s320/IMG_1979.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484280629532222338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara pagi dan sepijar hangat mentari pagi yang mulai menua, meninggalkan sekretariat, Yogyakarta, serta orang-orang yang pagi ini jatah mimpinya terenggut oleh keinginan mengantarkan kami pergi, karena kecintaannya pada kami atau karena kewajiban bagi mereka. Pagi yang biasa telah berubah menjadi pagi yang haru dan syahdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-- bersambung&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-7278069512146698538?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/7278069512146698538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/06/antara-ayung-telaga-waja-berangkat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7278069512146698538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7278069512146698538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/06/antara-ayung-telaga-waja-berangkat.html' title='Antara Ayung - Telaga Waja : Part I.  Berangkat Mencari Sepercik Air Dewa'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/TBwQAN7v3nI/AAAAAAAAADI/ecz-EvPkm9s/s72-c/IMG_1978.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-5392302303484829117</id><published>2010-05-24T09:51:00.000-07:00</published><updated>2010-05-24T18:59:33.396-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dari Aksara'/><title type='text'>Tanggung Jawab Moral</title><content type='html'>kata-kata yang demikian terkesan berat. Serasa sebuah tugas mulia barangsiapa yang menjalankan adalah ksatria, ataupun brahmana suci yang mengemban titah mulia dari dewa-dewa kahyangan. Tetapi siapapun itu yang mengemban, tanggung jawab moral adalah sebuah urusan suci yang bagi saya hanya bisa dilakukan juga dengan kesucian hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat kepada binatang. Binatang itu  mengemban tanggung jawab moral ini dengan sangat mengesankan. Mereka bertanggung jawab atas buah karya gairah seks mereka yang lantas menjadi sebuah embrio. Mereka membesarkannya dengan sabar dan tak ada cerita mereka dibunuh ataupun dibelokkan oleh orang tuannya. Mungkin istilah para binatang itu adalah tanggung jawab instingtif, artinya insting mereka yang menuntun mereka untuk berperilaku demikian. Lalu yang muncul bukankah moral itu suatu yang instingtif pula? Lau pertanyaannya, jika hewan saja masih terkendali dengan isngtingnya apakah kita manusia tidak bisa dikendalikan dengan moralnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhkluk yang istimewa dengan segenap keistimewaannya itu yang membuatnya memiliki sebuah dunia semesta dalam dirinya. Lalu dunia semesta dalam dirinya itu mempunyai Tuhan bernama pikiran. Berhala yang sering disembah-sembah intelektual muda materialis, organisatoris teoritis yang memacu gairahnya pada kehidupan logika. Tapi dalam alam pikiran, atau sebut saja kognitif yang berpusat pada otak manusia itulah kendali utama dari manusia menancap seperti prosesor dalam komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang bisa saja membenarkan tindakannya dengan landasan pikiran, tapi semua orang tidak bisa semena-mena mengklaim tindakannya itu benar. Kontrol moral dan Lokomotif Pikiran seperti sepasang anchor yang dipasangkan, untuk menjaga kemaslahatan si empunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya tanggung jawab moral, bukan suatu hal yang harus ditagih, diminta atau diingatkan. Itu adalah sebuah panggilan hati, yang akan terpuaskan ketika bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Adakah kita masih memiliki hati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita lupa berkaca, dan khilaf tak segera berbenah. Semoga kaca itu tidak pecah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-5392302303484829117?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/5392302303484829117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/05/tanggung-jawab-moral.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/5392302303484829117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/5392302303484829117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/05/tanggung-jawab-moral.html' title='Tanggung Jawab Moral'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-3080377779394501077</id><published>2010-05-06T16:41:00.000-07:00</published><updated>2010-05-24T19:51:25.150-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lirik cantik'/><title type='text'>The Brandals - Komplikasi Cinta Transit</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komplikasi Cinta Transit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku datang dengan janji terikat di hati&lt;br /&gt;Kalau nanti kau tak akan berjalan sendiri&lt;br /&gt;Jangan pernah ragu langkahkan&lt;br /&gt;Kaki terus dekati&lt;br /&gt;Kuberi semua yang kau pinta&lt;br /&gt;Asal kau mau memberi&lt;br /&gt;Rahasia-mu yang tersembunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum puas habiskan waktu&lt;br /&gt;Aku disini hanya untuk-mu&lt;br /&gt;Lihat saja isi hatiku&lt;br /&gt;Semua terkuras Cuma untuk-mu&lt;br /&gt;O Jangan berhenti hanya sampai disini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau datang dengan harapan penuh ditangan&lt;br /&gt;Nyanyikan lagu bangkitkan berjuta kenangan&lt;br /&gt;Masih saja tersisa pertanyaan penuh curiga&lt;br /&gt;Percuma habiskan waktu di malam muram dan murah&lt;br /&gt;Menit-ku harganya juta-an rupiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribu pesan terkirim sudah&lt;br /&gt;Rindu jengkel bercampur marah&lt;br /&gt;Dompet-ku tipis, kuping-ku panas&lt;br /&gt;Cara-mu bercinta tidak ber-kelas&lt;br /&gt;O Jangan berhenti sampai disini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum puas jangan pergi dulu&lt;br /&gt;Engkau disini hanya untuk-ku&lt;br /&gt;Lihat saja isi hati-ku&lt;br /&gt;Semua yang tertulis cuma nama-mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O Jangan berhenti sampai disini&lt;br /&gt;Jangan berhenti hanya sampai disini&lt;br /&gt;O Sayang jangan berhenti disini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-3080377779394501077?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/3080377779394501077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/05/brandals-komplikasi-cinta-transit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/3080377779394501077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/3080377779394501077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/05/brandals-komplikasi-cinta-transit.html' title='The Brandals - Komplikasi Cinta Transit'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-2555524864073255814</id><published>2010-04-18T09:05:00.000-07:00</published><updated>2010-04-19T23:40:54.379-07:00</updated><title type='text'>Kritik Suwung, Lha Suwung Kok Dikritik?</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Melihat sebuah pertunjukkan teater, menikmati menjadi raja, karena memang penonton adalah raja yang bisa berkehendak sesuka hati. Dan si penampil adalah abdi yang harus membuat raja puas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pertunjukkan Teater, dihelat oleh Teater Gadjah Mada UGM dengan judul acara yang diangkat adalah Malam Ceria. Sebuah ajang pementasan oleh katanya hampir semua elemen teater di kampus Mahapatih Majapahit. Kali ini saya hadir karena kebetulan kelompok teater di fakultas ilmu jiwa, perilaku dan proses mental ( bc : psikologi) mendapatkan kehormatan untuk bisa menampilkan sebuah pertunjukkan di sini. Ini pengalaman saya yang kedua melihat Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST) memainkan pentasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pertunjukkan yang pertama saya lihat, di pertunjukkan yang kedua ini saya juga datang terlambat. Sayang sekali saya melewatkan openingnya. Ketika saya datang, Tuan Lim sedang berbicara, jika ditilik dari sudut pandang Freud mungkin dia sedang berkatarsis. Sorot lampu berpusat pada sesosok tubuh agak gempal berkulit putih dan berpakaian kaos putih, dan mengakui dirinya seorang Cina. Berbicara dengan lantang, dan membanggakan kehidupan masa mudanya. Ketika tiba-tiba lampu di sisi kiri panggung menyala, terdapat sosok hitam berada di samping settingan panggung tuan Lim, penecerminan dari settingan tuan Lim. Sosok hitam itu nampak begitu akrab dengan tuan Lim, semua gerakan dan perilaku tuan Lim dia pun ikut melakoni. Karena sesungguhnya itulah cermin dan bayangan dari perilaku tuan Lim jua. Cermin yang menampilkan sosok hitam dari tuan Lim yang putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah beradu suasana dengan dirinya sendiri. Tuan Lim mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi di lintas kehidupannya yang lalu. Bersama istri beda agamanya, Ny. Lim dan anaknya yang percampuran, itu menjadi seorang putri bernama Jessy. Berkonfliklah antara Tuan dan Nyonya Lim, mempermasalahkan keadaan dan mengkambinghitamkan idealisme. Kisah klasik yang bermuara kepada urusan perut dan emas. Jessy, si kecil yang selalu dianggap tidak paham memang tampak kurang mengerti dan memang seharusnya dan tidak seharusnya dipaksa mengerti keadaan orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon berakhir dengan doa-doa kematian, maksud saya doa-doa memohon untuk diberikan kematian Tuhan. Di sinilah ditunjukkan dengan gaya yang cukup satir, bahwa Tuhan akan mengabulkan apa yang kita minta. Meskipun dipertunjukkan dengan Tuhan yang menyiapkan segala kebutuhan untuk tuan Lim melakukan bunuh diri. Tuhan memang baik, semua alat yang diminta Dia beri termasuk juga pistol. Yang mengejutkan adalah tiba-tiba si bayangan hitam, hidup tanpa menjadi bayangan reflektor dari tuan Lim. Memecah kaca, dan kemudian lampu gelap. Terdengar suara ledakan dari pistol yang diberikan Tuhan. Terdengar teriakan nyonya Lim, memanggil nama suaminya, dan suara nyanyian kesedihan dari barisan musik. Lampu gelap, dan pertunjukkan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengkritik Memang Lebih Nikmat Daripada Menerima Kritik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sosok tuan Lim adalah aktivis di era mudanya. Meskipun kini ia tak lagi muda dan tergambar dalam fisiknya yang mulai rapuh dan renta.  Seorang yang kritis dan pengkritik, sejak muda darah itu sepeti telah terwariskan dalam tubuhnya. Etnisnya yang identik dengan pedagang tetapi sosok yang satu ini memilih menjadi wartawan. Yah, sepertinya dari pertunjukkan ini saya melihat, bahwa mengkritik memang lebih nikmat daripada menerima kritik. Seperti halnya dalam fragmen, Ny. Lim dan Tuan Lim dimana Ny. Lim pun puas mengkritik pekerjaan suaminya. Dan betapa tidak nikmatnya tuan Lim menerima itu semua. Lalu gantian, Ny. Lim yang dikritik juga oleh si Jessy, dan ketahuan juga wajah tidak mengenakan dari Ny. Lim. Lalu ketahuan juga, ketika si bayang-bayang ganti mengkritik tuannya, dan pada akhirnya mengakhiri cerita tuannya dan cerita pertunjukkan ini. Lalu, betapa nikmatnya penonton mengkritik juga pertunjukkan ini, karena tentunya penonton tidak mungkin menerima kritik dari pemain. Saya tertawa untuk kalimat terakhir di paragraf saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fragmen Ny. Lim yang sedikit merayu Tuan Lim, mengingatkan saya pada salah satu fragmen dalam lakon wayang. Seringkali muncul fragmen Destarasta Raja Hastinaputra yang buta, yang sering menerima laporan palsu dari Patih Sengkuni, dan ketika akan marah kelembutan dan kemesraan dari Dewi Gendari istrinya selalulah membuat hatinya luluh. Demikian juga penggantinya, sang putra Duryudana, dari keluarga Kurawa yang jahat dan menjadi penguasa dengan cara yang jahat dan licik untuk menghilangkan Pandawa, pun selalu takluk kepada bujuk rayu dari Banowati istrinya yang tidak setia. Akan tetapi tuan Lim, bukan Destarasta atau bahkan Duryudana. Lim hanyalah lelaki tanpa kekuasaan dan bukan raja, tetapi dia tetap berhenti pada titik keyakinan idealismenya. Hingga akhirnya, bayangan yang jengah bayangan yang seolah tidak pernah merasa sakit bayangang selalu diinjak-injak itu akhirnya berontak dan mengakhiri cerita. Andai bayangan dalam cermin bisa hidup dan berbicara, apa yang akan dia katakan pada kita? Berkacalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suwung &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sutradara dari Lakon ini adalah Hendy Kukuh, sosok yang saya ketahui memang sudah cukup lama berkutat di lingkungan pertunjukkan seni peran kampus Psikologi. Keshia Sawitri si penulis naskah juga bisa dibilang orang lama. Pemainnya, Tuan Lim, Reinaldi juga bisa dibilang orang lama. Yang lumayan baru rasanya, adalah Edi si Bayangan, Neno si Jessy, dan Koff si Ny. Lim. Pementasan yang sepengamatan saya dipersiapkan dalam waktu cukup lama.  Berkutat latihan di studio mereka (baca : kantin Fakultas Psikologi). Pentas kali ini pun tak lengkap rasanya tanpa hadirnya salah satu ciri khas pementasan KRST yakni iringan musik. Orang-orang samping panggung, di sudut yang agak gelap. Tetapi tanpa mereka pertunjukkan ini juga rasa-rasanya kurang bermakna. Sehingga salah satu yang membuat lakon ini tak se-Suwung judulnya ya karena pementasan musiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menurut saya, pentas kali ini miskin kejutan. Seusai pentas salah satu dedengkot KRST, saudara Bagus Surya Wirawan yang juga pacarnya Neno, langsung menanyai saya, " Pentase monoton ga?" .  Pertanyaan yang agak susah saya jawab. Maka saya jawab singkat,  " Tunggu Notes saya saja...". Ya, kata-kata saya itu saya anggap janji yang harus saya tepati.  Maka komentar saya atas pertanyaan saudara Bagus yaitu sesuai dengan yang saya ucapkan di atas. Pentas ini miskin kejutan, saya yakin kata-kata ini multi tafsir karena bisa diartikan monoton bisa diartikan kurang menggigit, bisa diartikan pula ya memang skenario tidak diciptakan untuk membuat kejutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak orang lain berkartasis, belum tentu menarik bagi orang lain. Bagi mereka yang mengaku menekuni ilmu Psikologi agaknya akan menjadi menarik, karena memang kerjaan agamawan Psikologi adalah menjadi tempat sampah, salah satunya adalah katarsisme itu. Akan tetapi bagi orang lain, ya bisa jadi  mereka terlalu bosan mendengarkan katarsisme semacam itu.&lt;br /&gt;Akan tetapi, memang gaya Aldi memainkan karakter ini menurut saya seharusnya tidak menimbulkan kebosanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, entah mengapa saya kurang bisa menemukan quotes-quotes yang menarik dari pertunjukkan ini. Mungkin saya rasa saya yang kurang mendalami. Tapi sekiranya memang tidak ada ya saya rasa, dari setting dan jalannya pertunjukkan sudah menjadi quotes visual yang cukup membuat hati bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kayon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengkritik memang nikmat, rasa-rasanya masih banyak yang ingin saya sampaikan. Tapi saya tahu media ini bukan sekedar pemuas kebutuhan saya. Tetapi juga pemuas kebutuhan orang lain pembacanya.  Dengan didasari pada sebuah pengamatan dari seorang yang penonton biasa, saya memberanikan menulis tulisan ini, bukan sekedar memenuhi janji saya pada saudara Bagus. Tetapi mungkin ada sesuatu yang bisa dipetik dari penggalan tulisan saya ini. Mengkritik memang nikmat, mengkritiki tulisan saya ini jika menghasilkan kenikmatan dan orgasme bagi pembacanya pun saya rasa itu menjadi amal ibadah tersendiri bagi saya.  Manteb Sudarsono pernah ngendika, " Lakon kok diatur,   sing penting lakone runtut urut, nek diatur nlitik ribet tapi lakone ra petuk go ngopo? Sing penting intine kecekel lakone runtut, maknane ono." Semoga menemukan sesuatu dari Lakon ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Finish)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tetap menulis tetap Membaca, karena tanpa menulis dan tanpa membaca, tak akan tercipta sebuah makna. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-2555524864073255814?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/2555524864073255814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/04/kritik-suwung-lha-suwung-kok-dikritik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/2555524864073255814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/2555524864073255814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/04/kritik-suwung-lha-suwung-kok-dikritik.html' title='Kritik Suwung, Lha Suwung Kok Dikritik?'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-4017903264612460654</id><published>2010-04-14T06:13:00.000-07:00</published><updated>2011-02-23T00:28:43.124-08:00</updated><title type='text'>Di Pinggir Batavia</title><content type='html'>&lt;h2&gt;di Pinggir Batavia&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;semalam kereta berhenti di pinggir  Jakarta&lt;/p&gt;&lt;p&gt;malam sangatlah setia menjaga lajunya&lt;/p&gt;&lt;p&gt;hingga tak  rela pagi membuncah di sela kaca&lt;/p&gt;&lt;p&gt;mungkin si malam terlalu cemburu  pada pagi buta&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ah malam, kau tak perlu terlalu cemburu&lt;/p&gt;&lt;p&gt;pagi  ini ribuan orang sudah terburu-buru&lt;/p&gt;&lt;p&gt;beradu cepat dengan pagi untuk  tiba di Jakarta&lt;/p&gt;&lt;p&gt;tak seperti tadi malam dimana mereka pulas kau  jaga&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;lalu pagi yang singkat cepat berlalu atau mungkin tak  ada pagi di sini&lt;/p&gt;&lt;p&gt;karena rasa pagi dengan cepat pula ditelan habis  oleh aroma Jakarta &lt;/p&gt;&lt;p&gt;tak tercium aroma teh hangat dalam gelas kaca  pagi &lt;/p&gt;&lt;p&gt;hanya wajah-wajah tergesa menempel di sela kaca kereta&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;dan  sepulang dari stasiun dalam fajar yang menggempur sisa malam&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kota  ini sudah berantakan dengan roda-roda yang menggilasi jalan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;oh  ,apa yang mereka cari di ujung jalan sana?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;di ujung jalanan yang  salah urus dan penuh nestapa&lt;/p&gt;&lt;p&gt;: terkadang mereka menyebutnya  penghidupan, terkadang saya sebutnya keserakahan, terkadang mereka  menyebutnya kebahagiaan saya berani menyebutnya air mata &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;(  Stasiun Bekasi, 19 Maret 2010)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-4017903264612460654?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/4017903264612460654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/04/di-pinggir-batavia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/4017903264612460654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/4017903264612460654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/04/di-pinggir-batavia.html' title='Di Pinggir Batavia'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-678866089809293672</id><published>2010-04-06T08:38:00.000-07:00</published><updated>2010-05-24T19:52:17.940-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='suara suara'/><title type='text'>Fight d' Sadness Together</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;uraian kata yang saya sajikan dalam lembaran virtual ini mungkin adalah sebungkus  kegelisahan yang  terus dionani oleh waktu, dan tumpah ruah dalam orgasme virtual ini juga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya bingung ingin membicarakannya dari mana. Sedikit alkohol dan nikotin tidak begitu membantu hari ini. Mungkin benar saya harus kembali memeluk agama saya, tapi jika begitu bukankah saya semakin menganggap benar agama adalah candu. Padahal saya  coba membantahnya habis-habisan, hingga titik ini saya sependapat dengan pendapat itu meskipun saya coba membantahnya. Lalu kemana segala galau ini harus saya tambatkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sisi Keras  :&lt;/span&gt; " &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oke kawan, coba kau cerna sedikit apa yang membuat hatimu segalau ini. Padahal dulu kau bisa sedemikian yakin melakoni apa yang kau pilih ini.&lt;/span&gt; " Saya masih bisu ketika dia bertanya seperti itu. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sisi Lembut  :&lt;/span&gt; "  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tole cah bagus, opo kang wus dumadi kui wus garising pesti kita namung sadrema nglampahi &lt;/span&gt;". Sedikit membuatku lebih  tenang tapi tetap saja hanya sehelaan nafas. Lalu tersungkur kembali, meradang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menghela nafas lagi lalu....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selintas lalu, memoar rasa yang pernah berkibar dalam hati mengingat sebuah perjalanan kasih yang sendu. Saya pernah mencintai seseorang yang benar-benar sangat berarti bagi saya. Dan malaikat harus bicara dan kami terpisah dalam asmara dua dunia yang jelas berbeda. Tuhan lebih menyayanginya daripada saya. Terima kasih engkau mempertemukan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak lalu, gadis kecil itu muncul dengan wajah Arab yang selalu dan terlalu berkesan. Mungkin perjalanan kita pulang sekolah, menyusuri jalan kecil menuju ke depan sebuah Pengadilan, tempat kau menanti dengan setia bis yang mengantarkanmu pulang, seperti aku pula aku menanti bis yang sama. Walau arah kita berbeda.   Saya masih mengingat dengan jelas, saat saya menitipkan sepucuk surat cinta untukmukepada sahabat saya. Saya masih ingat dengan jelas, saat menggegam tanganmu dan kita berpisah saat itu juga. Lalu seorang  gadis beda agama sudah memelukku, dan juga mengatakan perpisahan yang sama. Oalah Gusti, inikah Rencanamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kau berikan aku cinta kepada sahabatku sendiri. Kau  berikan aku sebuah asmara yang begitu membuatku sesak. Dan Kau akhiri dengan, lahirnya seorang bocah dari rahimnya. Oh, Gusti inikah caramu membuatku sadar, bahwa aku telah demikian tersesat dalam nafsu. Oh, Gusti, begitulah caramu menegurku, aku pun berbuat kesalahan yang sama dengan Ayah si bocah. Setidaknya, aku bukan ayah bocah itu, aku bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="font-weight: bold;"&gt;Seperti inilah kisah cintaku, yang sudah kukubur dalam peti dengan aroma formalin yang akan membuatnya abadi seperti mumi. Lalu segera kumasukan dalam makam, yang akan menjadi monumen tentang kegetiranku sendiri.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri kecil itu tiba-tiba muncul ketika aku mengobati lukaku, seperti sebuah cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seseorang yang kucari&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;berada di suatu cahaya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;di dalam peraduan yang tak nyata&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;dan di lautan rasa yang kadang hampa&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;namun kerinduanku padamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tak terbatas dalam batas&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;dan tak terkata dalam kata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebait syair yang pernah ku tuliskan secara sederhana untuknya. Kini ku menghela nafas lagi, ku telah meninggalkannya sementara waktu.  Meninggalkan segores luka yang tajam menggores hatinya. Berharap semoga dia mampu mengerti mengapa aku pergi. Saya tidak pernah berjanji untuk kembali, saya tidak berharap dia menunggu saya pulang. Meski akhirnya dia pernah berujar tidak akan menjalani kasih lagi kecuali dengan saya. Pada akhirnya kini dia telah bahagia. Kebahagiaan yang akan selalu saya rindukan. Seperti saat hujan gerimis menerpa tubuh kami di hutan Kali Kuning. Lalu dari bibir kecilnya dia berujar " aku sayang kamu  ". Hari itu juga saya sadar, dia mengasihi saya lebih dari  yang saya duga. Jangan menangis lagi ya, kini sudah ada yang akan menyeka air matamu dengan lebih layak, tidak dengan uang kertas seperti yang pernah saya lakukan. &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bahagaikanlah dirinya, dan bahagialah dirimu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.  Seka pilu di matamu yang hinggap lama di pelupuk matamu, kini saatnya&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Fight the sadness together&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ( not with me) but with him.  Biarkanlah yang sudah terjadi antara kita, menjadi secuil rahasia yang akan membuat kita tertawa  saat masing-masing dari kita duduk di bangku pelaminan nanti. Hanya saja, saya baru bisa memenuhi satu janji saya, membuatkan karya untukmu. Tapi boneka Naruto, dan 1000 conelo itu belum bisa saya penuhi. Mungkin akan menjadi hadiah pernikahan yang cantik untukmu nanti. ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Lalu, gosip yang selama ini beredar tentang mbak-mbak mapala ( istilahnya Damar) biarlah hanya menjadi gosip dan cerita menarik tersendiri di getir hidup saya ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menghela nafas lagi...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya berjanji pada diri saya, tidak akan menjalin asmara dulu sebelum saya menuntaskan amanah yang sedang saya pegang kini. Serasa sumpah Palapa, dan bagi saya lelaki pantang ingkar janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Segudang kegalauan ada di depan saya sudah. Hanya satu kata magis yang saya pegang kini, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NEVER GIVE UP!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-678866089809293672?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/678866089809293672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/04/fight-d-sadness-together.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/678866089809293672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/678866089809293672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/04/fight-d-sadness-together.html' title='Fight d&apos; Sadness Together'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-7043825524146353323</id><published>2010-02-05T03:48:00.000-08:00</published><updated>2010-02-05T06:01:01.629-08:00</updated><title type='text'>Membelah Lembah Menoreh dalam Riuh Jeram Sungai Bogowonto (II, habis)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2wjnZjjZvI/AAAAAAAAAC0/ve12MsVos4Y/s1600-h/Roll1_BB00149-R1-23-23A.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 216px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2wjnZjjZvI/AAAAAAAAAC0/ve12MsVos4Y/s320/Roll1_BB00149-R1-23-23A.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434758010111223538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riuh jeram memang selalu mengundang tanya dan mendongkrak adrenaline. Tiada cara lain untuk mendapatkan jawaban atas segala tanya itu selain dengan pengarungan. Segerta saja kami membongkar perahu yang berada di atas mobil, menurunkan piranti-piranti yang dikemas rapi di lantainya. Lalu dengan seksama perahu segera kami pompa kembali setelah semua barang yang ada di lantainya di keluarkan. Reja, kemudian segera membawa kayaknya menuju start point pengarungan yang berada sekitar 300 m dari tempat kami memarkir mobil. Lalu setelah itu barang-barang yang tidak perlu kami bawa kami tinggal dalam mobil. Kemudian berpamitan dengan pemilik rumah di mana mobil kami titipkan. Saya dan Yoga segera mengangkat perahu menuju start, sementara anggota tim yang lain membawa dayung, pelampung dan piranti yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2whrBTwX4I/AAAAAAAAACc/IdJO154uhAw/s1600-h/Roll1_BB00149-R1-02-2A.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 216px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2whrBTwX4I/AAAAAAAAACc/IdJO154uhAw/s320/Roll1_BB00149-R1-02-2A.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434755873298734978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di dam, bertemu dengan bapak Penjaga Dam, kemudian beliau menceritakan tentang kondisi sungai penuh dengan air seperti ini mungkin hanya akan bertahan sekitar 1 bulan.  Memang sungai Bogowonto yang berhulu di gunung Guntur ini hanya bisa diarungi ketika musim hujan karena ketika musim kemarau sungai akan menjadi sangat surut. Ketika musim penghujan seperti sekarang ini  luapan airnya mampu membanjiri daerah-daerah di sepanjang daeraha aliran sungai, bahkan beberapa tahun yang lalu mampu membuat jembatan Tambak nyaris roboh, karena tiang penyangganya terseret arus. Bencana seperti itu tentunya membahayakan bagi penduduk sekitar, banjir bandang tentunya membawa kerugian yang cukup besar. Hal ini pulalah yang harus kami waspadai dan tentunya para pengarung jeram lain, karena hal ini akan sangat berbahaya jika terjadi di tengah pengarungan. Tetapi di musim kemarau sungai ini akan surut, dan di pinggir sungai biasa dimanfaatkan penduduk untuk menanam palawija sebagai tambahan dan penyambung hidup di tengah keringnya sawah.  Saat ini debit air di TMA menujukan angka 35 cm, cukup normal kata bapak penjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kemudian kami bersiap melakukan pemanasan, lalu briefing tentang teknis pengarungan sejenak, dilanjutkan dengan doa. Sesudah itu ritual rutin setiap sebelum pengarungan, tos gaya Palapsi dengan teriakan " Never Give Up!!" membuat semangat kami meningkat secara berlipat.  Lalu kami turunkan perahu disungai jam menujukkan pukul 12.30 wib. Komposisi tim, Yoga dan Justin sebagai pendayung depan, Ciella dan Desty sebagai pendayung tengah, dan saya dengan pak Mei berada di belakang sebagai skipper perahu. Di awal kami harus menuruni dam setinggi kurang lebih 30 cm, tidak terlalu tinggi sehingga tidak berbahaya, sesudah menuruni dam, langsung kami disambut dengan riuh berisik jeram dan riak air berwarna putih dalam aliran sungai dalam balutan warna coklat muda ini. Inilah pengarungan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2whLtwyB3I/AAAAAAAAACU/UsBcqKvPM-g/s1600-h/Roll1_BB00149-R1-11-11A.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 216px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2whLtwyB3I/AAAAAAAAACU/UsBcqKvPM-g/s320/Roll1_BB00149-R1-11-11A.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434755335475824498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeram di depan segera di onsight atau pemilihan jalur oleh Justin dan Yoga dengan cepat jalur ditentukan lalu dengan komando dari Pak Mei, maka jeram pertama ini berhasil kami lewati dengan lancar. Demikian juga dengan kayak. Lalu sesudah jeram Dam ini kami lalui di depan langsung kami disambut jeram lagi. Memang karakteristik sungai ini adalah adanya jeram yang saling menyambung. Jeram-jeram di awal pengarungan banyak terdapat pillow atau batu yang tertutup air, serta terdapat drop-drop (bentukan semacam air terjun kecil dengan terdapat arus balik di akhir bentukan ini, biasanya karena adanya batu di bawahnya atau patahan sungai) kecil. Kondisi arus sungai di jeram deras akibat dari gradien sungai yang cukup tajam. Kemudian kami menemui jeram dengan gradien yang lagi-lagi cukup tinggi dan juga adanya tiga ombak besar di endingnya. Kami menyebut jeram ini Triple Standing Wave. Kayaker kami sempat terbalik di sini, karena kayak yang ditumpanginya membentur bentukan pillow sehingga membuat kayak menjadi tidak stabil. Hal ini membuatnya terluka di bahunya, tetapi Reja masih bisa melanjutkan pengarungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2witmJw3NI/AAAAAAAAACs/4ctOkir7WEs/s1600-h/Roll1_BB00149-R1-09-9A.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 216px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2witmJw3NI/AAAAAAAAACs/4ctOkir7WEs/s320/Roll1_BB00149-R1-09-9A.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434757017060302034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami melanjutkan perjalanan, karakteristik jeram masih tetap sama selama 1 jam perjalanan kami. Sepanjang jalan disuguhi dengan pemandangan sekeliling berupa hamparan sawah, dan pegunungan menoreh yang mengintip dari sela-sela dinding sungai. Air juga terasa segar, karena memang belum begitu banyak tercemari limbah buatan manusia. Kemudian kami menemukan jeram cukup besar, terdapat drop-drop besar, dan diendingnya terdapat drop dengan arus balik yang biasa disebut hole cukup besar, di jeram ini dituntut sekali kemampuan manuver perahu. Perahu kami meliuk-liuk diantara arus dengan teriakan komando dari belakang untuk pendayung depan dengan dibarengi dayungan sekuat tenaga dan pemilihan sudut arah perahu yang pas maka jeram ini bisa kami lewati. Sementara itu kayaker kami memilih untuk scouting atau berhenti kemudian menepi untuk melihat jalur di sungai dari darat terlebih dahulu. Tak lama kami menunggu kemudian Reja sudah turun. Jeram ini kami sebut Little Budil van Bogowonto karena bentukannya yang tidak beraturan mirip dengan jeram Budil di Progo Bawah akan tetapi tidak sebesar jeram Budil yang legendaris itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian jeram-jeram sesudah ini berkarakteristik panjang dengan gradien yang tinggi tetap banyak pillow. Terhitung ada 2 jeram yang cukup menarik, sebelum Jeram Little Budil van Bogowonto terdapat Jeram Stopper dimana di tengahnya terdapt stopper besar yang akan terlihat seperti ombak berada di tengah jeram. Sesudah jeram Little Budil van Bogowonto ini terdapat satu jeram panjang lagi yakni jeram T di sini Reja kembali melakukan scouting, karena ending dari jeram ini tidak  begitu terlihat. Setelah dari jeram ini, jeram-jeram sesudahnya tidaklah terlalu besar tetapi tetap menuntut kemampuan manuver perahu yang baik karena derasnya arus sungai dan ornamen di sekitar sungai yang banyak terdapat pillow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jam menunjukkan pukul 14.00 lewat beberapa menit. Ketika kami menjumpai pertemuan sungai dengan sungai Semo, dan jembatan gantung. Di sini seharusnya Justin turun untuk mengambil mobil. Tetapi kemudian mas Mogel mengisyratkan untuk terus saja hingga finish di dam Maron. Sesampainya di dam, ternyata rencana awal kami ubah. Kami akan melanjutkan perjalanan hingga bawah dam dan akan finish di jembatan Tambak. Maka kami melanjutkan pengarungan. Proses awal adalah dengan menuruni dam ini, jelas ini bukanlah hal yang gampang dan bisa dianggap sepele. Berbuat kesalahan di sini bisa berakibat fatal. Dan dengan tinggi kira-kira 3 meter ini, menyisakan boil cukup panjang di endingnya sehingga kami harus mendayung sekuat tenaga untuk lepas dari sana. Akhirnya dengan segala pertimbangan dari scouting jalur kami pilih jalur paling kiri, dengan boil paling rendah dan arus yang tidak terlalu deras rasa-rasanya jalur ini aman bagi kami. Dan memang kami berhasil melewatinya.  Demikian juga dengan kayaker kami, walaupun sempat terbalik dan membuat seorang kakek yang melihat adegan itu dari atas dam berteriak " astagfirullahaladzim ' dengan keras. Mas Mogel yang mendampingi kami berhasil merekam proses kami menuruni dam ini, dengan kamera analog yang Reja bawa dari Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2wgmfsWjeI/AAAAAAAAACM/MLqReKv5xQ4/s1600-h/Roll1_BB00149-R1-19-19A.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 216px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2wgmfsWjeI/AAAAAAAAACM/MLqReKv5xQ4/s320/Roll1_BB00149-R1-19-19A.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434754696043990498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jeram di bawah dam secara karakteristik memiliki debit air yang lebih banyak dan penampang sungai yang lebih lebar, sehingga jelas juga sungai menjadi lebih dalam. Jeram di bawah dam masih banyak karena gradien sungai yang curam. Ada satu jeram yang menarik, kami menyebutnya jeram Metal Standing Wave karena  terdapat empat buah ombak besar yang tinggi, sehingga perahu kami yang ringan sekali ini serasa terbang ketika melewati tengah ombak itu dalam posisi yang lurus. Adrenaline kami tergugah untuk menjaga perahu tetap lurus, jika miring perahu bisa terbalik. Dan Reza lagi-lagi scouting terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama sesudah jeram ini kami melihat jembatan Tambak, kondisi sungai tenang dan arus tidak begitu besar di finish point jembatan Tambak ini. Lalu kami menepi di kiri sungai. Segera mengangkat perahu. Membawanya ke tepi jalan Purworejo- Kaligesing, kemudian Justin bersama mas Mogel kembali ke start mengambil mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2wkKVqhazI/AAAAAAAAAC8/FGLPeQF07PI/s1600-h/Roll1_BB00149-R1-24-24A.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 216px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2wkKVqhazI/AAAAAAAAAC8/FGLPeQF07PI/s320/Roll1_BB00149-R1-24-24A.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434758610362133298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tim lain mempacking kembali perahu dan segala pirantinya. Selesai berkemas-kemas jam menunjukkan pukul 15. 55. Setengah jam sudah berlalu setelah kami finish, sekarang semua barang sudah siap dinaikan ke mobil. Kami menunggu mobil datang sambil menikmati suasana sore di kota kecil ini. Jalanan sempit, pasar Tambak, dinamika siswa pulang sekolah, dokar yang berebut jalan dengan angkot, jalan sempit ini juga bagaiakan lautan motor, riuh jalanan ini dipenuhi dengan bayangan dan harapan masing-masing orang yang melauinya. Mempermanis suasana gerimis sore ini. Seperti kami juga yang membawa segudang harapan. Pengarungan sudah usai, Justin telah datang dengan mobil saatnya kembali ke tempat mas Mogel, membersihkan diri dan menyiapkan diri untuk segera pulang ke jogja. Jam 19.00 kami langsung kembali ke Jogja. Dan pulang ke kota yang selalu membawa rindu ini pukul 21.30. Hari yang manis, di lembahan Menoreh yang selalu melambai-lambai dan mengajak kami kembali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-7043825524146353323?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/7043825524146353323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/02/membelah-lembah-menoreh-dalam-riuh_05.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7043825524146353323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7043825524146353323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/02/membelah-lembah-menoreh-dalam-riuh_05.html' title='Membelah Lembah Menoreh dalam Riuh Jeram Sungai Bogowonto (II, habis)'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S2wjnZjjZvI/AAAAAAAAAC0/ve12MsVos4Y/s72-c/Roll1_BB00149-R1-23-23A.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-1148378891392867482</id><published>2010-02-03T07:32:00.000-08:00</published><updated>2010-02-05T03:35:40.836-08:00</updated><title type='text'>Membelah Lembah Menoreh dalam Riuh Jeram Sungai Bogowonto (I)</title><content type='html'>Sebuah perahu karet buatan Amerika lengkap dengan segala piranti pendukung untuk kegiatan arung jeram yakni dayung, pelampung, serta helm beserta piranti pendukung lainnya sudah terkemas dengan rapi. Tidak lupa juga sebuah kayak plastik buatan Amerika juga sudah menangkring dihamparan lantai perahu. Segalanya telah siap untuk dinaikan ke atas mobil Kijang buatan tahun 89 berwarna hijau, yang pagi ini tanggal 1 Februari 2010 akan membawa kami, pengarung jeram dari Pecinta Alam Psikologi (Palapsi) UGM menuju  ke sebuah perjalanan petualangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berangkat dari sekretariat  Palapsi sekitar pukul 08.30. Beranggotakan 7 orang,6 orang akan berada di dalam perahu karet yakni Acheng ( Penulis), Pak Mei, Justin, Ciela, Desti, dan Yoga. Serta seorang lagi pemain kayak yakni Reja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arah perjalanan kami kali ini menuju ke barat, tepatnya sekitar 80 km arah barat propinsi Yogyakarta . Di kakinya pegunungan Menoreh, terhampar sebuah peradaban kehidupan di sebuah kota kecil yang memiliki banyak warna kebudayaan karena posisinya yang berada dalam garis batas kebudayaan. Perbatasan antara bahasa Jawa Yogyakarta dengan Banyumas, serta percampuran yang manis antara kerasnya kehidupan nelayan Samudera Hindia, rakyat pegunungan Menoreh, serta sekumpulan pensiunan dan purnawirawan, dan juga birokrat serta perwira yang masih hidup di dataran rendah yang tua dalam olahan jaman penjajahan Belanda. Ya, kota kecil yang penuh ragam ini adalah Purworejo. Di kota ini kami akan menuju ke rumah Mas Mogel salah seorang senior kami yang kebetulan tinggal di sini, di daerah pusat kota Purworejo tepatnya di dusun Plaosan. Sebelum kami akan melakoni petualangan kami di sungai Bogowonto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui perjalanan membelah jalur selatan Jawa selama kurang lebih dua setengah jam perjalanan maka sampailah kami di rumah mas Mogel. Jarum jam menunjuk ke arah jam 11 lebih ketika kami tiba di rumah mas Mogel. Kemudian kami disambut dan dipersilahkan masuk ke dalam rumah, yang ternyata sudah dipersiapkan hidangan teh hangat dan gorengan oleh keluarga mas Mogel. Sembari menikmati hidangan yang sudah disiapkan, kami mendiskusikan tentang rencana pengarungan ini dengan mas Mogel. Selain itu kamu berdiskusi juga tentang kondisi terkini mengenai sungai dan akses menuju ke sungai. Dengan pertimbangan agar waktu pengarungan tidak terlalu sore untuk menghindari banjir bandang yang sering terjadi di sungai ini ketika sore hari, maka kami memilih untuk menitipkan mobil kami di start pengarungan yakni di sekitaran dusun Krajan. Tepatnya di Dam Panungkulan.  Kemudian nanti setelah finish, Justin salah seorang wanita dan untungnya satu-satunya yang bisa menyetir mobil diantara tim kami akan mengambil mobil di start.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sekitar pukul 11. 25 setelah kami bersiap, berganti baju pengarungan maka kami lalu berangkat menuju ke Dam Panungkulan. Lokasi Dam memang cukup jauh dari jalan utama menuju arah Wonosobo. Jika dari arah Purwerojo akan menemui sebuah saluran irigasi dan di samping saluran tersebut terdapat sebuah jalan, berupa tatanan batu.  Tidak halus memang perjalanan ini. Jalan belum diaspal, sehingga jika menggunakan mobil tentunya pilihlah mobil dengan chasis yang cukup kuat sehingga akan mudah dalam melalui jalan ini. Jalan ini sehabis hujan memang tidak terlalu banyak lumpur yang dapat menahan laju mobil tetapi dengan kondisi jalan yang sempit yang hanya pas dilalui satu mobil dengan di sampingnya terdapat sungai irigasi cukup dalam tentunya harus dilalui dengan hati-hati dan Justin mampu melakukannya, dalam perjalanan sekitar 20 menit di jalan yang ekstrem ini dia mampu membawa kami dengan selamat menuju ke dusun Krajan tempat dam Panungkulan berada. Kami lalu menitipkan mobil ke sebuah rumah milik penduduk sekitar. Setelah sebelumnya berdecak kagum akan panorama sekeliling, dengan hiasan panorama alam gunung, sawah padi yang masih hijau lengkap dengan airnya, dan tentu saja riuh berisik jeram yang mengundang adrenaline bertanya-tanya, apa yang akan kami temui nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-1148378891392867482?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/1148378891392867482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/02/membelah-lembah-menoreh-dalam-riuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/1148378891392867482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/1148378891392867482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/02/membelah-lembah-menoreh-dalam-riuh.html' title='Membelah Lembah Menoreh dalam Riuh Jeram Sungai Bogowonto (I)'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-5027276263647552657</id><published>2010-01-18T20:38:00.000-08:00</published><updated>2010-01-19T21:44:47.112-08:00</updated><title type='text'>belajar dari kesendirian</title><content type='html'>malam ini serasa tak pernah usai dalam kasur empuk yang terasa bagai duri.  malam ini terlalu panjang dilewatkan dengan menghisap tembakau dan mengurai memori dan kemampuan berfikir tentang sesuatu yang nyaris menghinggapi pikiran setiap waktu. malam ini serasa sia-sia  dilewatkan dengan tertidur pulas dengan melihat langit-langit yang penuh dengan coretan tanggung jawab. malam ini terlalu kenyang akan asupan kegilaan yang menumpuk. malam ini haus rasa damai. Dan ketika pagi menjelang, sinar matahari terbit menyentuh relung hati dan perasaan galau. Adalah embun yang selalu membuatku tersadar, bahwa menyerah bukanlah pilihan. Ini jalan dalam belantara yang sudah kau buka. Ini luka yang sudah kau buat sendiri, dan seharusnya kau obati. Penyesalan, tak lagi berguna. Hadapilah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(suatu tempat, saat fajar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;original post : http://www.maskomzpalapsi.blogspot.com also appear in my facebook http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=299818813792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-5027276263647552657?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/5027276263647552657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/01/belajar-dari-kesendirian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/5027276263647552657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/5027276263647552657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/01/belajar-dari-kesendirian.html' title='belajar dari kesendirian'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-8392710481650684259</id><published>2010-01-06T05:19:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T08:43:59.582-08:00</updated><title type='text'>Belajar Kehidupan dari Riuh Jeram Elo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S0S6EquABEI/AAAAAAAAABc/nHO9yuEAgmM/s1600-h/PC260177.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S0S6EquABEI/AAAAAAAAABc/nHO9yuEAgmM/s320/PC260177.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423664440610391106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pagi ini sebelum matahari bangun dari tidur panjangnya, kasur tempatku berbaring dalam malam yang pendek namun penuh mimpi ini seolah sudah membangunkanku untuk segera bergegas melakukan banyak hal yang luar biasa. Jam 4.30 pagi, kulihat jam yang menempel manis di dinding putih ruangan ini. Lalu segera saja, aku membasuh diriku dengan dingin yang khusuk air wudlu pagi ini. Menjalankan solat subuh sebagaimana penganut muslim lainnya. Setelah itu, bergegas mandi. Sarapan dengan susu hangat dan segenggam nasi putih. Lalu menggendong ransel yang sudah terpacking rapi sejak semalam.  Bergegas menuju kampus, jam 06.15 berangkat dari rumah. Setelah itu, hawa pagi Bulaksumur sudah menyambutku dengan butiran air sisa hujan semalam yang masih tersisa di teras dedaunan. Mengecup mesra ke hamparan helmku. Sampai di Fakultas Psikologi tempatku biasa berkuliah jam menunjukkan pukul 06.25. Belum ada siapa-siapa di sekretariat Pecinta Alam Psikologi tempatku senantiasa bergulat dengan keseharianku. Baru beberapa saat kemudian, Reza datang, dan tak lama kemudian Nantha datang. Kemudian berturut-turut Yoga, Justin, Aldi serta Gerry pun kemudian datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja, kami segera mengangkat perahu Westpoint yang masih terbaring di peraduannya kami angkat untuk segera kami kuras anginnya dan kami lipat. Setelah perahu kami lipat, dan dayung serta pelampung dan helm sudah kami packing dengan rapi dan tidak lupa si kayak kuning yang anggun itu pun sudah siap kami angkut menuju ke sungai Elo di Magelang.  Pagi ini hari Sabtu tanggal 26Desember 2009 kami memang merencanakan sebuah pengarungan di sungai Elo Magelang. Kami bertuju berangkat mengendarai motor, karena alasan itulah maka perahu berukuran 3, 8 meter bermerk Westpoint buatan Korea ini harus kami lipat hingga akhirnya menjadi benda persegi berukuran 1 x 1m, dayung serta ubarampe lain pun kami bawa mengendarai motor. Jam setengah 8, setelah briefing dan doa sejenak dari project Officer perjalanan kami Reza. Segeralah kami berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arah yang kami tuju adalah utara, menuju ke kabupaten Magelang. Adapun start point pengarungan sungai Elo terletak di  desa Blondo. Sekitar 60 km utara kota Yogyakarta ataupun 60 menit perjalanan dari kota Yogyakarta. Banyak variasi moda transportasi menuju start point ini, jika dari Yogya kita bisa menggunakan bus Antar Kota Antar Propinsi Jurusan Yogyakarta - Semarang, dengan biaya dalam kisaran antara 10 ribu per orang.  Atau jika anda memiliki kendaraan pribadi anda pun bisa dengan mudah mencapai start pointnya karena memang bersanding bersebelahan dengan jalanan aspal desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke negeri utara kami lakukan dengan sederhana, saya dengan Yoga membawa perahu, Justin dengan Gerry membawa pelampung dan tas dayung serta helm, Nantha dengan Reza yang berada dibelakang memanggul kayaknya. Dan Aldi membawa carrier berisi perlengkapan pribadi kami. Membelah liarnya jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S0S8OAyY5aI/AAAAAAAAAB8/RQ0euxEixNA/s1600-h/PC120033.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S0S8OAyY5aI/AAAAAAAAAB8/RQ0euxEixNA/s320/PC120033.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423666800176457122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jam 08.30 kami sampai di start point, segera lipatan perahu dibongkar dan kemudian segera dipompa sementara driver motor untuk menitipkan ke tempat base camp arung jeram Mendut Rafting di sekitaran area finish  point di desa Mendut. Kemudian nanti dari finish point ini ke empat driver ini naik bus menuju ke desa Blondo kembali. Tepat jam 10.00 kami akhirnya berkumpul semua di start point segera melakukan pemanasan kemudian segera mengarungi sungai Elo ini. Berdoa kemudian melakukan ritual tos, dengan teriakan Never Give Up sebagai motto kami yang selalu kami banggakan. Dan riuh berisik jeram itu segera kami pecah dengan teriakan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S0S7tusA7bI/AAAAAAAAAB0/XlUXlzpp4Hg/s1600-h/PC260161.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S0S7tusA7bI/AAAAAAAAAB0/XlUXlzpp4Hg/s320/PC260161.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423666245562068402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlalu besar jeram dan deras Jeram Elo ketika kami melakukan start hari ini, jeram start saya lalui dengan membimbing Justin guiding perahu melalui jeram ini sebagai seorang skipper inilah salah satu bentuk latihannya. Sementara Nantha, Gerry, Aldi, dan Yoga melakukan latihan self-rescue dengan renang jeram di jeram start ini. Setelah itu kemudian para perenang jeram naik ke atas perahu dan perjalanan kami lanjutkan. Justin menjadi kapten perahu hingga jeram yang kami menyebutnya Jeram Jerambatan, kemudian kami latihan dengan ulang jeram dengan berbagai macam variasi jalur di sini. Bergantian antara saya, nantha dan justin. Di awasi oleh Reza yang bermain kayak hardcell merek Robson, dengan dayung H2O-nya. Setelah itu perjalanan dilanjutkan, debit air kami sadari meningkat cukup banyak hingga aliran sungai menjadi deras dan beberapa batuan di sungai Elo ini menjadi tertutup. Jika dilihat dari kelas sungainya memang sungai Elo ini ada di kelas  kesulitan jeram II- III Pada awalnya memang kami melihat Jeram dengan kelas II tetapi dengan meningkatnya debit air, tingkat kesulitan sungai pun meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S0S7LV_UCEI/AAAAAAAAABs/md_f8j7kBxM/s1600-h/PC260172.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S0S7LV_UCEI/AAAAAAAAABs/md_f8j7kBxM/s320/PC260172.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423665654816573506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeram di depan Jeram Batan ini menawarkan gemricik riuh jeram yang mengundang adrenaline, di depan jeram ini adalah Jeram Kedung Celeng yang merupakan salah satu jeram maskot di sungai Elo dan biasanya digunakan sebagai tempat mengambil foto. Setelah itu beberapa jeram kami lalui, sungai Elo yang berwarna coklat menawarkan pemuas adrenalin bagi para pecinta arung jeram tentunya. Mendekati jeram Kriting, atau biasa kami menyebutnya jeram Plintir, kami berhenti sejenak untuk scouting melihat jalur yang akan kami lalui. Kami memilih jalur kanan jalur yang kami namai Jalur Palapsi. Kemudian setelah dirasa cukup, kemudian kami mencoba melalauinya, dan saya sebagai kapten perahunya tetapi karena kesalahan sudut dan antisipasi saya yang kurang bisa mengukur kemampuan tim saya maka kami gagal melewati jalur ini dengan lancar. Perahu sempat tertahan cukup lama di batu dan nyaris kami terperangkap tapi untungnya berkat kesigapan kami bisa lepas dari perangkap yang menakutka tersebut.  Jeram Keriting ini juga merupakan salah satu maskot di sungai Elo. Kemudian setelah itu berturut-turut perahu kami menghajar jeram-jeram sesudah Kriting ini yakni Batu Teras dan jeram Rest, dimana ini juga merupakan Jeram yang khas dari sungai Elo. Sesudah itu kami lanjutkan perjalanan karena kami tadi sudah istirahat sejenak di Jeram Kedung Celeng. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 maka kami bergegas meninggalkan jeram Rest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S0S9ANyIjMI/AAAAAAAAACE/GgBfOsEjQr0/s1600-h/PC270382.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S0S9ANyIjMI/AAAAAAAAACE/GgBfOsEjQr0/s320/PC270382.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423667662658505922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jeram berikutnya memang tidaklah sedemikian besar. Tetapi ketika sudah sampai ke jeram Rodeo atu jeram Ngintir ini menjadi menarik. Jajaran standing wave membentuk urutan yang menarik. Dan cukup membuat perahu bergoyang syalala dalam dendangan jeram yang tak kalah lincahnya menari-nari ini. Saya menjadi kapten, kali ini saya guiding di jeram ini. Dan rekan saya yang lain renang jeram. Sesudah saya sampai di ending Jeram, saya melihat berturut-turut rekan saya muncul setelah menikmati kenikmatan yang pastinya luar biasa diombang-ambing gelombang. Dan si kayak kuning dengan manis pun meliuk-liuk dengan penuh pesona di tengah derasnya jeram ini. Tiga jeram besar berikutnya adalah Jeram Penyempitan dengan deras dan liarnya arus, serta jeram Jembatan dengan gradien dan tikungannya yang memukau, lantas pengarungan kali ini ditutup dengan panjangnya Jeram Finish, yang menuntut kita bereaksi secara cepat di sini. Lalu sampailah kami di titik finish. Segera kami angkat perahu kami, Gerry, Aldi, Nantha, dan Yoga mengangkat perahu itu menuju base camp arung Jeram Mendut Rafting sejauh kurang lebih 1 km dari finish point yang merupakan titik pertemuan antara sungai Elo dan Progo ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;Selesai sudah kami mengarungi sungai Elo, yang mengalir dari balik embun Merbabu kemudian mengalir sejauh ini hingga membelah belantara kota Mungkid Magelang. Menyelusuri kehidupan yang tercecer di sepanjang aliran sungai purba yang menjadi saksi bagaimana candi Mendut dan Borobudur dibangun dengan susah payah di era Syailendra. Dan hingga kini memberikan kehidupan bagi kehidupan di kanan kirinya. Termasuk para operator wisata rafting yang banyak tercecer di sekitar aliran sungai itu sendiri. Sayang perhatian dari pemerintah sekitar terasa kurang dalam membangun wisata ini, meskipun jutaan uang mengalir di derasnya sungai Elo setiap minggunya.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beristirahatlah kami malam ini, bersiap untuk pengarungan berikutnya esok hari. Sungai memang mengalirkan keajaiban, dan menuangkan kehidupan. Saatnya membangun mimpi. Never Give UP!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(original post : http://maskomzpalapsi.blogspot.com/ also appear in my Facebook, http://www.facebook.com/notes/muhammad-septian-dwi-susilo/belajar-kehidupan-dari-riuh-jeram-elo/277863088792)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-8392710481650684259?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/8392710481650684259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/01/belajar-kehidupan-dari-riuh-jeram-elo.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8392710481650684259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8392710481650684259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2010/01/belajar-kehidupan-dari-riuh-jeram-elo.html' title='Belajar Kehidupan dari Riuh Jeram Elo'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/S0S6EquABEI/AAAAAAAAABc/nHO9yuEAgmM/s72-c/PC260177.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-8509407436172638833</id><published>2009-12-30T18:32:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T19:12:48.393-08:00</updated><title type='text'>Gus Dur dan Refleksi Akhir Tahun</title><content type='html'>2009, nyaris berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah akhir tahun, 2009 menjelang obituarinya. Pemakaman tahun 2009 segera kita rayakan dengan gegap gempita di seluruh dunia dengan segenap pesta. Tahun yang penuh dengan lika-liku peristiwa. Sebelum memulai sebuah pemakaman layaknya sebuah kehilangan yang luar biasa biasanya kita lantas berpikir, apa yang sudah terjadi sepanjang tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2008 lalu saya tutup dengan sebuah pendakian ke Gunung Sumbing dan Sindoro. Dan Awal 2009 saya mulai dengan pendakian ke Gunung Raung, dimana pendakian itu sendiri gagal dan memberikan saya tanda mata 4 jahitan di lutut kiri saya. Tahun 2009 ini pula sebuah fragmen kehidupan saya yang luar biasa, saya mulai dengan menjadi seorang pemimpin dari sebuah organisasi tua yang besar, bernama Palapsi UGM. Tahun ini pula mencanangkan sebuah impian menuju Maluku 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bukan hanya saya saja yang mencanangkan impian di tahun ini. 3 calon pasangan Presiden dan Wakil Presiden, tahun ini pun mencanangkan hal yang sama, membangun visi menuju 5 tahun kehidupan bangsa dimulai dari tahun ini. Lantas pada akhirya Dr. Susilo Bambang Yudoyono, dan Prof. Boediono lah yang berhasil menarik simpati rakyat dan menjadi penguasa visi bangsa ini 5 tahun ke depan. Ke semuanya dimulai dari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leasson Learning, itulah yang selalu saya dengar. Kakak kelas saya, senior saya 9 tahun di atas saya mas Ratri Atmoko Benedictus begitu sering mendengungkannya, melalui sebuah peristiwa yang memalukan bagi kami, beliau sedikit banyak memberikan sesuatu yang berharga bagi kami. Tetapi, terlepas dari yang beliau (dan beberapa senior lain) berikan. Sesungguh berproses selama hampir satu tahun ini, memberikan banyakj pelajaran berarti. Kadang memang menyakitkan, dan saya rasa memang perlu menjadi menyakitkan karena yang menyakitkan itulah yang lebih sering membangun. Karena yang memanjakan dan melembutkan kadang justru memabukkan dan membuat kita lupa. Pada akhirnya, memang diperlukan keberanian, dan kekuatan untuk menghadapi yang menyakitkan, toh hidup ini tidak selamanya manis. Lebih seringnya, kehidupan ini penuh dengan tanda tanya. Dan seperti kata Soe Hok Gie, Kehidupan adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya. Ya, kehidupan 2010 meski penuh dengan rencana dan visi, sesungguhnya masih penuh dengan tanda tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bicara : cinta. Tahun yang absurd. Beberapa kisah kerap berakhir dengan kandas.  Mungkin, jika diceritakan di sini, kisah saya akan menjadi seperti lagu-lagu pop 2009 yang penuh dengan unsur cinta mendayu-dayu dan menyedihkan. Tetapi, kepathetican cinta yang saya miliki tidaklah cukup menjual untuk saya publish lebar-lebar. Intinya, saya cukup senang bisa mengungkapkan cinta saya kepada seseorang, meski saya tidak berharap dia menerima cinta saya. Karena saya benci membohongi diri saya sendiri. Terima kasih untuk wanita itu, sahabat saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang memulai sesuatu di tahun ini. Tapi banyak juga yang mengakhiri di tahun 2009 ini. Freddy Andreas Permana, mengakhiri karirnya sebagai Ketua Umum Palapsi di tahun ini kemudian saya gantikan. Jusuf Kalla harus mengakhiri karirnya sebagai Wakil Presiden. Dan kemudian beberapa orang harus mengakhiri karirnya. Beberapa pejabat dan anggota legislatif baik nasional maupun daerah, juga harus lengser keprabon karena kasus korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menarik, adalah kasus buaya versus cicak, yang dimulai dari Skandal Asmara, Antasari Azhar sebagai Ketua KPK yang dituduh membunung Nasrudin Zulkarnain. Menjadi sebuah pentas Teater yang penuh Intrik, dan pantaslah mendapatkan Oscar atas skenario yang terjadi. Persoalannya dalang dibalik segala peristiwa yang terjadi belum mau muncul untuk menerima penghargaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan Person of the Year pantaslah saya sematkan kepada Prita Mulyasari dan Facebookers seluruh Indonesia, atas apresiasi yang luar biasa mereka atas apa yang terjadi sepanjang tahun. Masyarakat Facebook, sebagian besar saya rasa adalah representasi kelas baru, yang mampu mendukung gerakan revolusioner. Meskipun saya melihat dan menduga ada aksi-aksi kontra revolusioner yang aneh semisal pada aturan penyadapan oleh KPK, yang dilakukan oleh beberapa pihak, yang mungkin berada di garis pembuatan kebijakan. ( baca : Depkominfo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustaqfirin,  Dr. Soegiyanto, keduanya dosen saya, berpulang keharibaan Sang Abadi. W. S Rendra, adalah kehilangan besar bagi saya tahun ini, karena di tengah kemegahan dunia sastra yang surut, kehilangan orang besar juga tahun ini.  Mbah Surip, menutup hidupnya di tengah puncak karirnya, saya bersyukur mbah Surip akhirnya tetap dalam kesederhanaannya meski kemegahan dunia di tangannya.  Dan, Gus Dur, menutup tahun ini dengan kepergiannya,( Gus sekarang anda bisa jalan sendiri) . Akhirnya pemakamannya, beriringan dengan pemakaman tahun 2009.  Persoalannya, adalah sekarang bagaimana orang-orang besar tersebut bisa kembali lahir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obituari 2009. Natalis, 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPTIMISTIC!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-8509407436172638833?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/8509407436172638833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/12/gus-dur-dan-refleksi-akhir-tahun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8509407436172638833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8509407436172638833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/12/gus-dur-dan-refleksi-akhir-tahun.html' title='Gus Dur dan Refleksi Akhir Tahun'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-8890372603249965326</id><published>2009-12-28T00:53:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T02:10:47.613-08:00</updated><title type='text'>kampus kaya</title><content type='html'>Hampir sekitar 3 tahun saya setiap pagi menghirup udara kampus yang penuh sesak dengan berbagai macam kehidupan di dalamnya. Romantika kampus, yang hidup selama saya berada di dalamnya semakin lama saya berada di dalamnya, saya semakin merasa kampus saya ini memang kampus yang kaya. Kaya, bukan hanya kampusnya yang saya maksud, tetapi juga manusia (intelektual) yang ada di dalamnya. Kampus yang makmur, dan dimakmurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa saya berkata kampus saya ini kaya. Setiap harinya kampus ini mampu berinvestasi di perusahaan penebangan kayu, dengan menyumbangkan berupa karcis parkir yang harus terbuang secara percuma setiap harinya. Lalu kampus ini bisa membangun sebuah gedung tinggi tiga lantai, yang kemudian akhirnya hanya teronggok sia-sia percuma, bukankah hanya orang-orang kaya yang mampu melakukan hal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa saya katakan manusia (intelektual) di dalamnya adalah orang kaya juga? Ya, karena saya rasa, parkir yang selalu penuh sesak dengan mobil-mobil, serta mode dunia yang menjelma ke dalam pakaian orang-orang di dalamnya. Lantas berbagaia macam piranti yang dimiliki oleh manusia-manusia tersebut dari handphone hingga laptop. Yah, ditambah lagi dengan gaya hidup yang bisa dibilang sedikit banyak tentu mengeluarkan sejumlah uang yang lumayan. Dan lagi, banyak orang yang bisa menghabiskan uang yang saya yakini dalam jumlah besar untuk mempromosikan dirinya, dan kelompoknya, melalui spanduk-spanduk raksasa dalam usaha perebutan massa. Wow, luar biasa kaya benar manusia (intelektual) kampus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, seandainya saya berangan-angan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;uang untuk karcis parkir, pengecatan jalan untuk lahan parkir, rambu-rambu lalu lintas, portal serta gedung yang teronggok tidak berguna itu dimanfaatkan untuk membiayai kuliah mahasiswa, berapa puluh atau bahkan berapa ribu mahasiswa yang tidak perlu susah-susah membayar kuliah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;uang yang dikeluarkan manusia-manusia (intelektual) tersbut dikelola dalam sebuah wujud organisasi sosial pengentasan kemiskinan masyarakat, tentunya tak perlu lagi ada pengemis, pengamen, dan pemulung di kampus, karena mereka bisa lebiah diberdayakan dan diangkat garis kehidupannya. Lalu seandainya dana untuk mempromosikan diri dan kelompoknya tadi digunakan untuk sebuah gerakan riset ataupun pengabdian masyarakat, betapa besar hasilnya untuk masyarakat luas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya kampus ini memang kaya, hotel dan radio serta sebentar lagi sebuah Rumah Sakit akan berdiri, betapa besar penghasilan yang di dapat. Yang semoga bisa dimanfaatkan untuk menambah koleksi lawas di perpustakaan, ataupun mengembangkan jaringan informasi teknologi yang seret di beberapa fakultas. Ataupun untuk menambah laboratorium dan atau membiayai penelitian-penelitian luar biasa selanjutnya. Saya rasa, kampus ini akan semakin kaya, akan teknologi-teknologi yang telah ia ciptakan, atas formulasi-formulasi yang telah di bentuk, dan teori-teori baru yang akan menggugah dunia. Menambah kekayaan yang pernah diciptakan kampus 250 besar dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akankah sosok sebesar, Prof. Sardjito, Prof. Teuku Jacob, Prof. Kusnadi, Prof. Amien Rais, Prof. Sutrisno Hadi, atau bahkan Hamengku Buwono X, Rendra bisa lahir kembali? Setelah kampus ini menyumbang Boediono. Ya, kampus yang kaya, yang melorot terus peringkat dunianya. Yang, berada dalam identitas kerakyatan yang semakin absurd. Oh Gusti, paringono dalan padang....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-8890372603249965326?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/8890372603249965326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/12/kampus-kaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8890372603249965326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8890372603249965326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/12/kampus-kaya.html' title='kampus kaya'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-8457175991573773390</id><published>2009-09-21T08:22:00.000-07:00</published><updated>2009-09-21T08:27:37.267-07:00</updated><title type='text'>Untukku by Chrisye</title><content type='html'>Kemana langkahku pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slalu ada bayangmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku yakin makna nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau takkan pernah terganti&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Saat lautan kau sebrangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Janganlah ragu bersauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Ku percaya hati kecilku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kau takkan berpaling&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Reff:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Walau keujung dunia, pasti akan kunanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Meski ke tujuh samudra, pastu ku kan menunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Karena ku yakin, Kau hanya untukku&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pandanglah bintang berpijar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kau tak pernah tersembunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dimana engkau berada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Disana cintaku&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;kembali ke Reff&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Walau ke ujung dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Pasti akan kunanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Meski ketujuh samudra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Pasti ku kan menunggu&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pasti ku kan menunggu&lt;/p&gt;Pasti ku kan menunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ku yakin, kau hanya untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Karena ku yakin, kau hanya untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Hanya untukku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-8457175991573773390?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/8457175991573773390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/09/untukku-by-chrisye.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8457175991573773390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8457175991573773390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/09/untukku-by-chrisye.html' title='Untukku by Chrisye'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-9116877492984128044</id><published>2009-09-17T08:31:00.000-07:00</published><updated>2009-09-21T08:32:05.755-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dari Aksara'/><title type='text'>Jujur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SrJsBnKENgI/AAAAAAAAABU/ktlxsJnXSfQ/s1600-h/307252-The-Nile-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SrJsBnKENgI/AAAAAAAAABU/ktlxsJnXSfQ/s320/307252-The-Nile-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382483279608034818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;perkataanmu memang tidak begitu menganggetkan di telingaku. Sudah ku dengar suara itu sekian lama, sudah kutahu itu sejak lama sebelum kasih ini disemai, bagiku kabar itu hanyalah sebuah terjal kecil dan bukan apa-apa dalam proyek raksasa yang sedang kubangun. Nil tetap mengalir meski Aswan membendungnya. Seperti Nil, air kasihku ini. Dan air inilah yang akan membangun Mesir serta Iskandariyah dan bermuara dengan cantik di Laut Tengah. Proyek raksasa yang akan kubangun akan menjadi seheroik sejarah Mesir, dan seeksotis Iskandariyah, dan Laut Tengah, adalah Lautan kasih tempat semua air ini akan melimpah, itulah kasihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetapi Aswan, Mesir, dan Iskandariyah tidak dibangun dalam sehari. Artinya mereka pun berproses serta bermetamorfosa, layaknya sebuah kupu-kupu sebelum menjadi cantik dan elok perlulah dia menjadi sesosok ulat yang ditakuti bahkan mungkin dibunuh. Seperti itulah juga kasihku, saat ini sedang bermetamorfosa dalam badai, yang bergantung pada selembar daun tempatnya menjadi sebuah kepompong. Dan daun itu adalah hatiku, yang bisa gugur sewaktu-waktu dan lalu kepompong itu tak akan pernah menjadi kupu-kupu.  Bagaimana menjaga daun itu, agar dia tetap tegar dalam badai dan di suatu pagi akan meneteskan embun yang menyegarkan sekitarnya? adalah sebuah cara dan misteri yang indah yang tak akan terjamah oleh indahnya kata manapun, seperti seorang buta yang tersenyum karena dia bahagia merasakan hidup meski indah dunia tak pernah tersentuh oleh matanya, adakah kata yang mampu menjawab senyumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;dan akulah sang petualang yang  sedang mengeksplorasi jiwaku sendiri, yang lelah dengan kejayaanku sendiri, dan dibuai egoisme yang mengental di setiap kata-kata jangan menyerah yang selalu kuucapkan dengan bangga, inilah ethnosentrisme hati yang nyata. dan akulah yang dingin, sedingin Everest yang bisa membuatmu mati. Tetapi dia tetap tegar dan dingin, dan menjadi Dewi bagi segenap Sherpa yang mencintainya, dan menjadi Mimpi bagi segenap petualang yang ingin memeluk puncaknya dengan mesra, intinya dia tetap akan dicintai. Lalu apakah ini yang akan menghancurkan proyek raksasaku, tidak inilah bagian penting menuju sebuah Mesir, inilah eksotisme tersendiri seeksotis Iskandariyah, dan dengan aklimatisasi yang teratur dan nyata ini akan sehangat Laut Tengah, Laut tempat air kasih tertumpah dan kapal yang sedang kulayarkan siap berlabuh dan melempar sauh untuk bersandar, di Iskandariyah. Dan dingin, tak akan selalu menjadi dingin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;menjadi seperti ini adalah keinginanku, inilah jalan hidup yang kukreasikan sendiri, menjadi seorang petualang untuk mengabdikan diri ini kepada jalan yang nyata untuk memuaskan gairah dan keinginan yang beku dalam hati dan cair dalam sebuah orgasme ketika puncak-puncak itu berhasil kuciumi, ketika lorong-lorong gelap itu berhasil kujamahi, dan air yang besar itu berhasil kupecah. Bukan sekedar agar aku terlihat kuat, bukan sekedar agar jiwa rapuhku tertutupi. Tapi karena aku ingin menjadi abdi, dalam sebuah kisah sederhanaku di bawah atap langit tempat mimpi itu akan menjadi nyata. lalu secara nyata kenikmatan intelelktual akan membuncah di setiapa kehidupan yang kutemui di sana. Dan akhirnya aku akan tersenyum untuk sebuah pencapaian yang indah&lt;/span&gt;. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku akan berakhir di sebuah belantara, dan setiap pagi buta embun akan menyusup masuk ke ragaku, dan dingin akan menusuk tulangku, tetapi aku tak akan lagi bisa berkata, dan aku akan tersenyum ketika setiap orang akan mengenangku sebagai seorang abdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah aku seorang pendaki gunung, yang pulang dengan sebuah pelajaran dari embun yang menetes di setiap episode pendakianku.  Dan tas yang kubawa selalu terisi oleh-oleh yang akan kubagikan bagi dunia dan kuabdikan bagi semesta.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Lalu kau masih bertanya tentang keseriusanku? Ya, aku serius dan aku mengasihinya. Selayaknya aku mengasihi rumahku, rumah gunungku, dan rumah keduaku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;dan optimisme itu tinggal tunggu waktu, akan binasa atau merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;visit my blog: http://maskomzpalapsi.blogspot.com/ also appear in my Fcaebook : http://www.facebook.com/topic.php?topic=24482&amp;amp;post=402129&amp;amp;uid=112637285384#/note.php?note_id=170831363792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-9116877492984128044?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/9116877492984128044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/09/jujur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/9116877492984128044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/9116877492984128044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/09/jujur.html' title='Jujur'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SrJsBnKENgI/AAAAAAAAABU/ktlxsJnXSfQ/s72-c/307252-The-Nile-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-3522748502177031365</id><published>2009-09-10T09:54:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T10:37:14.367-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dari Aksara'/><title type='text'>Malam Suci</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold; font-family: lucida grande; text-align: center;" class="verse" id="v7"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;malam suci&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="verse" id="v7"&gt;; bait yang memprosa&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="verse" id="v7"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="verse" id="v7"&gt;Sejenak kumerogoh kedalam gelapnya sanubari. Mencoba mencari setitik debu untuk bertayamum di dalam gelap. Namun setiap ku mencari yang selalu kutemui adalah air.  Limpahan, yang senantiasa menjadikan lupa. Tertiup anginlah sang debu dan segala niatnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="verse" id="v7"&gt;Kesempatan yang selalu terulang selalu. Tapi ada yang lain kini, bersama debu yang berbalik terdengar suara mengalir, yang lembut dan menampar sanubari yang lupa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="verse" id="v7"&gt;"Bukankah Kami telah melapangkan hatimu? Dan Kami telah menghilangkan bebanmu yang sungguh memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan nama mu. karena  sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka setelah usai bebanmu, bersungguh-sungguhlah dalam bekerja dan kepada Yang Chalik kau berharap."&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="verse" id="v7"&gt;bersimpuh malu untuk berujar, tiada kata terucap. Meski seringkali kembali lupa. Beginilah rona yang tergores di antara malam-malam suci, dan ingin berbisik lirih dalam hati luruh mengakui Kau yang sedekat nadi. Meski seringkali kembali lupa dan dengan debu kami kembali teringat, dan senantiasa berharap hanya debu. Meski Kau bisa mengirimkan badai...&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="verse" id="v7"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-3522748502177031365?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/3522748502177031365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/09/malam-suci.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/3522748502177031365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/3522748502177031365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/09/malam-suci.html' title='Malam Suci'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-1331926840001143463</id><published>2009-09-10T09:48:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T09:50:58.944-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lirik cantik'/><title type='text'>Adam Sandler - I ll Grow Old With You (OST The Wedding Singer)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;I wanna make you smile whenever you're sad&lt;br /&gt;Carry you around when your arthritis is bad&lt;br /&gt;All I wanna do is grow old with you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'll get your medicine when your tummy aches&lt;br /&gt;Build you a fire if the furnace breaks&lt;br /&gt;Oh it could be so nice, growing old with you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'll miss you&lt;br /&gt;Kiss you&lt;br /&gt;Give you my coat when you are cold&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Need you&lt;br /&gt;Feed you&lt;br /&gt;Even let ya hold the remote control&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So let me do the dishes in our kitchen sink&lt;br /&gt;Put you to bed if you've had too much to drink&lt;br /&gt;I could be the man who grows old with you&lt;br /&gt;I wanna grow old with you&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-1331926840001143463?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/1331926840001143463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/09/adam-sandler-i-ll-grow-old-with-you-ost.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/1331926840001143463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/1331926840001143463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/09/adam-sandler-i-ll-grow-old-with-you-ost.html' title='Adam Sandler - I ll Grow Old With You (OST The Wedding Singer)'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-8695519458718114454</id><published>2009-09-02T08:27:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T09:24:55.155-07:00</updated><title type='text'>Bapak dan Ibu</title><content type='html'>Frasa 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu&lt;br /&gt;aku hanya ingin&lt;br /&gt;kau tahu aku menangis&lt;br /&gt;dan kehabisan kata&lt;br /&gt;untuk berbicara tentang kasihmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu&lt;br /&gt;aku hanya ingin&lt;br /&gt;sungguh hanya ingin menangis&lt;br /&gt;dan mengucap doa&lt;br /&gt;atas perjuangan serta pengorbananmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frasa 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bapak, rambutmu telah memutih&lt;br /&gt;di setiap helai, adalah saksi kasih&lt;br /&gt;tak putus, tulus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bapak, keningmu makin menggurat&lt;br /&gt;di setiap gurat, adalah perjuangan berat&lt;br /&gt;tanpa lelah,  ikhlas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frasa 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan aku hanya terdiam&lt;br /&gt;setiap aku pulang larut&lt;br /&gt;bapak masih bekerja&lt;br /&gt;dan selalu bertanya&lt;br /&gt;" Sedino lungo ngopo?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan aku hanya menangis&lt;br /&gt;setiap aku pulang larut&lt;br /&gt;ibu masih terjaga&lt;br /&gt;dan selalu bertanya&lt;br /&gt;" mangan durung le? mangan sik..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frasa 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;betapa garis kasih itu menampak&lt;br /&gt;dalam setiap kerut, yang makin tampak&lt;br /&gt;namun kasih itu tak pernah surut&lt;br /&gt;betapa seorang anak ini yang ikut&lt;br /&gt;ikut makin tua, tapi belum menjadi apa-apa&lt;br /&gt;hanya bisa dan masih saja selalu manja&lt;br /&gt;seolah dirinya masih seorang kanak&lt;br /&gt;dan akan selalu menjadi kanak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frasa 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bapak, ibu&lt;br /&gt;anakmu ini bukan lagi bocah&lt;br /&gt;bocah kelas lima yang manja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bapak, ibu&lt;br /&gt;anakmu ini telah berkepala dua&lt;br /&gt;hanya mahasiswa belum apa-apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bapak, ibu&lt;br /&gt;anakmu ini ingin menguntai kalimat&lt;br /&gt;terima kasih yang hebat&lt;br /&gt;tapi tak ada kata sehebat&lt;br /&gt;kasih, perjuangan, dan pengorbanan&lt;br /&gt;setulus dan seikhlas&lt;br /&gt;kalian punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bapak, ibu&lt;br /&gt;anakmu ini ingin bersimpuh sejenak&lt;br /&gt;dalam tangis yang lirih&lt;br /&gt;memohon limpahan doa&lt;br /&gt;agar suatu saat nanti&lt;br /&gt;anakmu ini menjadi&lt;br /&gt;yang selalu kalian doakan&lt;br /&gt;yang selalu kalian dambakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada kalimat terindah selain syukur, aku bisa mengenal engkau berdua...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-8695519458718114454?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/8695519458718114454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/09/bapak-dan-ibu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8695519458718114454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8695519458718114454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/09/bapak-dan-ibu.html' title='Bapak dan Ibu'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-5641481358110883272</id><published>2009-08-27T09:46:00.000-07:00</published><updated>2009-08-27T09:48:21.501-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tulisan lama'/><title type='text'>Walau Lelah</title><content type='html'>&lt;div class="storycontent"&gt;     &lt;p&gt;Walau galau tak pernah padam&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dan resah enggan enyah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;menatap atap bumi kelam&lt;/p&gt; &lt;p&gt;hati isi sejuta lelah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;aku berhenti tapi mengapa?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;aku berpikir tapi untuk apa?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;aku terus tapi bagaimana?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;walau lelah, menyerah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;bukan pilihan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;walau lelah, kalah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;bukan impian&lt;/p&gt; &lt;p&gt;sejenak, sejenak&lt;/p&gt; &lt;p&gt;saja berhenti&lt;/p&gt; &lt;p&gt;berpikir lalu lanjutkan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;entah bagaimana&lt;/p&gt; &lt;p&gt;-hati galau-&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;http://komznocazta.blog.friendster.com/2008/10/walau-lelah/#comments&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-5641481358110883272?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/5641481358110883272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/08/walau-lelah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/5641481358110883272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/5641481358110883272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/08/walau-lelah.html' title='Walau Lelah'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-7606366205157043976</id><published>2009-08-27T09:41:00.000-07:00</published><updated>2009-08-27T09:42:31.359-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tulisan lama'/><title type='text'>Dari Kereta Api</title><content type='html'>&lt;div class="storycontent"&gt;     &lt;p&gt;dari sebuah perjalanan panjang, menuju sebuah tujuan yang masih teramat panjang untuk kuraih..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;catatan kecil, melihat setiap lekuk kehidupan manusia dalam sebuah pengharapan-pengharapan  dalam angan-angan yang menerawang sejauh dan sepanjang perjalanan itu sendiri, dan kulihat jua sebuah perjalanan alam yang berganti dari satu dan tempat lainnya, keindahan sebuah manusia di tengah kehidupannya yang entah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;lelah dalam perjalanan dengan moda transporrasi kelas bawah, menghampar sebuah pertunjukkan kelas, yang kuat yang akan menang. Dan yang rendah harus mengalah dikalahkan dengan kenyataan rendahan tentang kekuatan uang yang berkata…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dan kenyamanan akan menjadi sebuah barang yang mewah untuk orang-orang dalam moda transportasi rendah, yang tak meningkat kualitasnya akibat sistem yang dibangun atau perendahan sosial memang diizinkan di negeri ini,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;yang jelas, kemapanan adalah impian dari setiap orang dalam moda tranportasi ini, tak terkecuali penumpang, supir, orang-orang yang berada dalam sistem perjalanan, direksi, bahkan pengemis dan asongan yang berada di dalamnya pun mempunyai impian itu, atau setidaknya mereka mempunyai visi untuk ke sana, dan setidaknya mereka mempunyai mimpi, karena terpaksa atau karena hanya itu yang mereka bisa,,,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;setidaknya mimpi….&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dari artefak Blog FS : &lt;/p&gt;http://komznocazta.blog.friendster.com/2008/12/dari-kereta-api/#comments&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-7606366205157043976?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/7606366205157043976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/08/dari-kereta-api.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7606366205157043976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7606366205157043976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/08/dari-kereta-api.html' title='Dari Kereta Api'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-3657895977736793924</id><published>2009-05-12T22:32:00.000-07:00</published><updated>2009-05-12T22:41:49.970-07:00</updated><title type='text'>Epilog 34 Tahun Palapsi</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt;“ &lt;b&gt;MEMULAI LAGI MIMPI-MIMPI “&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Saya pernah berpikir, seandainya pada tahun 1982, mas Budil dan mas Gatot tidak meninggalkan kita semua, apa yang bakal terjadi? Apakah mimpi untuk berprestasi di air akan tetap ada, atau hanya semata-mata berhenti di situ karena kepuasan sesaat yang begitu dahsyat mungkin waktu itu. Sekali lagi saya hanya berpikir, dan faktanya adalah mas Budil dan mas Gatot telah meninggalkan kita semua, mendahului kita untuk berpetualang ke alam sang Chalik.  Sepeninggal beliau –beliau akhirnya muncul sebuah mimpi besar, Berprestasi di Air!&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Kembali mencoba untuk menikmati  ataupun memulai lagi mimpi-mimpi indah, dan kemudian mencoba untuk jujur dengan realitas. Sungai, agaknya selalu menghadirkan nostalgia tersendiri bagi segenap anggota Palapsi, yang menyitir kata-kata mas Listyanto  bahwa arung jeram menjadi ‘agama’ tersendiri bagi penggiat-penggiatnya sehingga menghasilkan dogma-dogma yang demikian menyihir dan terus menjadi sebuah ajaran yang melahirkan kisah-kisah yang menginspirasi bagi generasi-generasi sesudahnya ataupun menghasilkan mimpi-mimpi besar untuk melakukan sebuah kegiatan yang lebih dahsyat dan lebih memuaskan ‘birahi’ sehingga akhirnya berakhir dengan ‘orgasme’ di sana.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Mimpi di air itu masih ada. Tidak pernah menjadi surut dan menjadi grade &lt;i&gt;unrunable&lt;/i&gt; karena penuh stopper yang menghadang dan ataupun bahkan tidak ada airnya sehingga jelas perahu mimpi itu tidak dapat dikayuh lagi. Mimpi itu masih besar dan selalu menaik gradenya, dan selalu saja ada keinginan untuk menaikkan grade itu, seakan tidak puas hanya dengan satu mimpi maka kemudian muncul kembali mimpi-mimpi selanjutnya yang lebih besar.  Setelah berhasil menyelesaikan ‘hutang’ first descent Progo, muncul kembali kisah first descent Tripa yang cukup istimewa karena ada organisasi lain yang mengklaim bahwa mereka yang berfirst descent di sana, kemudian kisah first Descent sungai Karama yang menghasilkan kisah yang tak kalah unik, dan kisah first descent lain seperti Elo dan Bogowonto, atau yang paling gress pasca Ekspedisi Kaltim- Bengkulu 2004, ketika standing wave sungai Ketahun dan Manna di Bengkulu untuk pertama kalinya menyentuh dayung, perahu karet, dan kayak. Dan yang hebat, akhirnya mimpi untuk berarung jeram di luar negeri akhirnya bisa terwujud dengan terselenggaranya Ekspedisi Thailand 2008, sungai Mae Tang dan Mae Nam Pai. Dan kini sesudah itu kita mau kemana lagi?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Inilah untuk saatnya berbicara realitas yang lain, realitas yang harus disikapi dengan sebuah strategi yang taktis. Realitanya Mimpi itu masih ada, tetapi ada realita yang lain yang harus disikapi lebih lanjut.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Tren kekinian yang sedang in dan update, adalah terkait dengan masa akademis yang semakin pendek. Sebagai sebuah organisasi yang bernaung dibawah naungan Tuhan dan Naungan Universitas Gadjah Mada jelas adalah sebuah sunnah untuk lulus cepat, tetapi ketika lulus cepat itu akhirnya menjadi sebuah tren yang sedikit memaksa mahasiswa untuk lebih rajin dan taat kepada ‘agama’ kuliah tidak lagi seperti dahulu kala ketika ‘agama’ kuliah masih belum sedemikian banyak memberikan aturan-aturan yang membebani kehidupan umatnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Efeknya, ‘agama’ rafting dan mungkin caving, gunung, dan tebing mulai ditinggal ‘murtad’ umatnya, yang lebih memilih ‘agama’ kuliah. Akibatnya, organisasi pun semakin sedikit peminatnya, meskipun dari data peserta diklatsar dari tahun 2006, 2007, 2008, selalu diatas 20 orang, tetapi nampaknya jumlah yang bertahan dalam derasnya Jeram Palapsi setelah diklatsar tidak lebih dari jumlah jari dan jikalau lebih mungkin kisarannya pun hanya belasan saja dan itupun masih mungkin terhempas lalu, meng ‘intir’ sedemikian jauh dan mendarat di pantai lain, yang mampu memberi kesenangan, cinta, dan lebih memuaskan hawa nafsu lain yang itu tidak didapat di Pantai Palapsi yang menghadirkan mungkin kesibukkan luar biasa yang sedemikian menguras kehidupan pribadi anggotanya. Meskipun harus diakui proses yang luar biasa ini pun akhirnya menghasilkan orang-orang yang berhasil bertahan dan orang-orang yang bertahan ini adalah sosok-sosok yang tangguh dan berani menghadapi jeram, menghadapi badai gunung, menghadapi tebing-tebing tinggi, ataupun luweng-luweng yang gelap, dan satu lagi yang menarik berani melakukan sebuah penelitian dan pengabdian masyarakat. Persoalannya bagaimana mengolah orang-orang tangguh ini?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Kondisi Palapsi Kini&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Kondisi Palapsi kini yang penuh dengan haru biru tuntutan kuliah, akhirnya membawa Palapsi kepada kenyataan bahwa masa pengabdian anggota kepada organisasinya pun semakin menurun, dari yang semula bisa 5 tahun ataupun 4 periode pengurus atau lebih,  kini mungkin paling banter 3 periode pengurus yang berkisar antara 3 atau bahkan 2 tahun. Sehingga masa pengabdian yang semakin pendek jika tidak dibarengi dengan system pendidikan yang sesuai pun tentu akan menyebabkan terjadinya penurunan kuantitas maupun kualitas hasil belajar di Palapsi. Hal ini jelas menimbulkan efek besar bagi organisasi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Sejenak marilah kita pikirkan efek dari kuliah ini kepada organisasi	:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Adanya 	pola pikir Mapala = Kuliah Lama menjadikan sebagian besar mahasiswa 	ogah ikut dalam kegiatan Kepecintaalaman&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Waktu 	belajar di Palapsi yang semakin sedikit menuntut system pendidikan 	yang lebih cepat dengan hasil yang efektif dan efisien&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Kegiatan 	organisasi bentrok dengan kepentingan kuliah, contohnya : ketika 	tugas kuliah menjadi lebih penting daripada rapat pengurus ataupun 	rapat Ekspedisi.&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Melatih 	anggota organisasi untuk lebih memanajemen waktu&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;“ 	Apa yang didapat dari Mapala? Mending kuliah terus kerja lebih enak 	kan?”&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Orang-orang 	yang mengikuti organisasi, dan kemudian serius di dalamnya tidak 	lagi diragukan komitmennya.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Itu tadi baru kondisi Palapsi dengan hubungannya, dengan kondisi atasannya yakni Fakultas Psikologi UGM. Sekarang sedikit memberikan penjelasan kondisi Internal dari dalam Palapsi sendiri. Dengan lingkup pembahasan, Keorganisasian, Jumlah SDM, Skill SDM, Peralatan dan Keuangan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;b&gt;Keorganisasian&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dari Lingkup Keorganisasian Palapsi memiliki Struktur Organisasi seperti ini,&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SgpdPPbDNcI/AAAAAAAAABM/W-ItArxRXOU/s1600-h/n1124418029_30352383_2517532.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 373px; height: 528px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SgpdPPbDNcI/AAAAAAAAABM/W-ItArxRXOU/s320/n1124418029_30352383_2517532.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335179224993183170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Terdapat 5 bidang yang mengurusi roda kehidupan Palapsi,  tiap bidang memiliki pekerjaan dan urusan rumah tangga bidang yang harus diurusi.  Ketua, menjadi kepala yang membawahi ke lima bidang dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap laju organisasi. Sekretaris dan Bendahara menjadi actor yang berperan dalam urusan rumah tangga Palapsi, yang terkait dengan ‘dapur’ kesekretariatan dan pengelolaan ‘celengan’ kehidupan Palapsi. Bidang Operasional, sebagai organisasi dengan kegiatan di Alam, tentunya Palapsi memiliki bidang kegiatan yang mengurusi kegiatan di Lapangan Alam yakni Bidang Operasional. Bidang operasional, bisa dikatakan sebagai Ujung Tombak kegiatan Palapsi, karena di sanalah – di air, caving, tebing dan gunung - sebagian besar kegiatan anggotanya tersita, bahkan produk utamanya Ekspedisi pun berupa kegiatan bidang ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Sebagai sebuah bidang yang menjadi Ujung Tombak, tentunya membutuhkan dukungan yang cukup besar, saat itulah kemudian terbentuk bidang- bidang di luar bidang Operasional. Kini ada 4 bidang selain bidang Operasional yang ada di Palapsi. Bidang Non Operasional, difungsikan secara nyata sebagai pendukung untuk menunjang kebutuhan  kegiatan Operasional, ada dua divisi yakni divisi Perlengkapan dan Logistik dan divisi Pustaka dan Dokumentasi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Bidang Penunjang yang memiliki tiga fungsi utama yakni, hubungan organisasi dengan pihak luar, pencarian dana, dan kegiatan kejurnalistikan. Fungsi-fungsi itu secara organisasi penting, untuk menunjang kegiatan yang dilaksanakannya, baik terkait kegiatan operasional maupun di luar kegiatan operasional. Fungsi hubungan organisasi dengan pihak luar, termanifestasikan dengan adanya divisi Humas yang membiwarakan tentang sesuatu yang lagi ‘happening’ di Palapsi. Pencarian Dana, sejenak menarik nafas panjang, kegiatan Palapsi adalah kegiatan yang hobby yang cukup mahal, dan membutuhkan uang yang tidak sedikit sehingga jika hanya menggantungkan kemurahan hati fakultas yang memberi dana hanya murah juga jelas tidak bisa, apalagi jika hanya sekedar menggantungkan kepada kemampuan anggotanya yang kadang-kadang untuk makan saja harrus menunggu hari-hari tertentu. Sehingga organisasi pun, harus melakukan kegiatan Pencarian dana maka hadirlah divisi Dana. Kejurnalistikkan, cerita perjalanan kegiatan di lapangan jika dikemas secara menarik dan dalam bahasa jurnalistik yang indah agaknya dapat dinikmati secara istimewa dan orang-orang akan semakin tertarik untuk membacanya inilah kemudian fungsi jurnalistik menjadi penting setidaknya kegiatan bisa dinikmati juga oleh orang lain melalui cerita maka lahirlah divisi Jurnalistik.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Sebagai wujud aplikasi ilmu psikologi dan langkah nyata untuk mengabdi kepada sesama. Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, organisasi Palapsi jelas harus memfasilitasi pengembangan SDM yang ada di dalamnya sehingga diperlukan sebuah bidang yang mengurusi secara lebih terkait Pengembangan Sumber Daya Manusia ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dalam menjalankan roda organisasi, Palapsi memang bisa dikatakan sudah cukup baik, semakin terorganisir dan tetap melandaskan pada proses. Tetapi, sebagai sebuah organisasi yang tidak memberikan reward fisik secara nyata, dan menjalankan organisasi berlandaskan pada keikhlasan anggotanya. Akibatnya, jalannya roda organisasi pun menjadi sangat tergantung pada kadar ‘keikhlasan’ pengurusnya untuk tetap berada dalam ritme kepengurusan dan setia mengabdikan dirinya kepada organisasi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;belums selesai.... Epilog34tahun Palapsi....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://www.maskomzpalapsi.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-3657895977736793924?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/3657895977736793924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/05/epilog-34-tahun-palapsi.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/3657895977736793924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/3657895977736793924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/05/epilog-34-tahun-palapsi.html' title='Epilog 34 Tahun Palapsi'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SgpdPPbDNcI/AAAAAAAAABM/W-ItArxRXOU/s72-c/n1124418029_30352383_2517532.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-7564853581341196064</id><published>2009-03-09T21:18:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T21:25:25.382-07:00</updated><title type='text'>Sapardi Djoko Darmono</title><content type='html'>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana &lt;br /&gt;dengan kata yang tak sempat diucapkan &lt;br /&gt;kayu kepada api yang menjadikannya abu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana &lt;br /&gt;dengan isyarat yang tak sempat disampaikan &lt;br /&gt;awan kepada hujan yang menjadikannya tiada &lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sajak sederhana yang sarat makna, Sapardi begitu indah merangkaikannya sehingga mengaduk-aduk emosi bagi siapa yang membacanya, indah...&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-7564853581341196064?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/7564853581341196064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/03/sapardi-djoko-darmono.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7564853581341196064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7564853581341196064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/03/sapardi-djoko-darmono.html' title='Sapardi Djoko Darmono'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-1358485842456453997</id><published>2009-02-19T21:57:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T22:33:53.761-08:00</updated><title type='text'>Mencoba Melihat Ke Belakang...</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;kehidupan dimulai dari hari ini, dahulu, dan yang akan datang. Karena selalu yang terjadi 'hari ini' ada karena 'dahulu' dan akan mempengaruhi 'yang akan datang' walaupun yang sudah ada, kita sudah diprogram secara rapi oleh Si Pembuat, untuk melakukan apa yang sudah digariskan dan secara pasti kita pun diberi sedikit kebebasan dengan sebuah bahasa pemprograman yang luar biasa, yakni ' tidak akan berubah nasib suatu kaum hingga mereka merubahnya sendiri... "&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; font-weight: bold;"&gt;&lt;blockquote&gt;j&lt;span style="font-size:180%;"&gt;auh sudah hidup ini terlewati, sejauh selayang pandang dan seindah binar tetesan air mata ketulusan, i love my life because this is my life, 'nasib memang kegetiran masing-masing ' begitu kata Ch. Anwar dan begitulah aku meresapi dan menikmati setiap 'getir' dari nadi-nadi hidup yang selalu menyambung dan tak pernah putus, ' aku ingin hidup seribu tahun lagi... ' terkesan ambisius memang tetapi, hanya sekedar memaknai sebuah kesadaran tentang ' hidup hanya menunda kekalahan', apalah arti seribu tahun kehidupan tanpa sebuah kesadaran akan arti hidup itu? &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku berangkat dari diriku, dan aku akan kembali untuk diriku...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-1358485842456453997?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/1358485842456453997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/mencoba-melihat-ke-belakang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/1358485842456453997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/1358485842456453997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/mencoba-melihat-ke-belakang.html' title='Mencoba Melihat Ke Belakang...'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-539543221622638687</id><published>2009-02-18T08:43:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T09:14:57.053-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dari Aksara'/><title type='text'>Merancang Jauh Ke Depan</title><content type='html'>Visi itu adalah bahasa keren dari rencana jauh ke depan, mengasikkan memang mempunyai sebuah visi. Visi dimulai dari sebuah harapan, mimpi dan atau cita-cita. Sehingga visi, menjadi sesuatu yang secara motivasi tumbuh dari dalam untuk mewujudkannya, itulah visi.&lt;br /&gt;Keindahan dan seni dalam mewujudkannya, menjadi sebuah strategi tersendiri yang menuntut kelihaian dan sebuah ketaktisan dalam melakukan sebuah tindakan-tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya mulai berpikir, hidup adalah seni terindah dari sang seniman yang tak ternilai karyanya. atau saya muali kembali berpikir ternyata, faktanya hidup ini begitu indah untuk dinikmati sebagai sebuah karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks GOD!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-539543221622638687?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/539543221622638687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/merancang-jauh-ke-depan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/539543221622638687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/539543221622638687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/merancang-jauh-ke-depan.html' title='Merancang Jauh Ke Depan'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-4495016438712197953</id><published>2009-02-08T01:00:00.001-08:00</published><updated>2009-02-08T01:50:01.577-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='raung oh raung'/><title type='text'>Part VIII. Yogyakarta dan Glenmore</title><content type='html'>bangun pagi itu, hari ke 4 memulai ritual yang sama, memakai bajau basah, melanjutkan membuka jalur dengan pakaian yang mulai terasa menyengat baunya, tetapi itu tidak menyurutkan semangat kami, belum jua dingin gunung kami rasakan, kami akan terus naik dan akan kembali naik..&lt;br /&gt;berangkat dengan modal GPS, air, peta dan kompas, settya p3k kami berangkat pagi ini, membuka jalur, sudah cukup tertutup disini, mulai perlu dibuka lagi. Kami menemukan sarang lebah hutan juga, cukup besar dan kelihatan sekali banyak madunya, kami sempat menfotonya...&lt;br /&gt;kemudian aku dan nonod melihat jam ternyata sudah jam 8, setelah dipikir-pikir sepertinya lebih efektif jika kita kembali dulu jam 8, ini untuk makan begitu sesudah makan kami lanjutkan perjalanan kami, akhirnya kami turun.&lt;br /&gt;Kemudian kami makan nasi goreng, sesudah makan aku bertanya kepada nonod, apakah gantian atau tidak, sebenarnya saya suddah cukup lelah, namun kata-kata nonod melecut semangat saya, ketika dia bilang " kowe bacoker ngarep terus, aku ro lembah mengko navigator karo bacoker kedua " entah kepercayaan atau pemlokotoan, tetapi rasa lelah itu sedikit hilang, kami terus membuka, saking semangat membuka jalur jarak anatara aku dan lembah menjadi cukup jauh, hingga berkali-kali aku harus menunggu lembah, bahkan turun untuk menjemput mereka, karena saya merasa tidak aman dengan jarak sedemikian itu, kemudian kami segera melanjutkan perjalanan lagi, hingga titik sdsekitar 500m menuju camp 4, ketika akan memotong batang pohon yang melintangke kiri, ' tak' tramontina terlepas dari tangan saya dan mengenai kaki saya, saya langsung terjatuh...&lt;br /&gt;terlintas dalam pikiran saya, mengapa saya jatuh? celana saya sudah robek kemudian sambungan celana saya buka, dan terlihat sebuah luka yang cukup dalam saya bahkan berkata melihat tulang tempurung saya, ahhh... saya harus turun, sedih... saya hanya memandangi darah yang mangalir, dan mencoba untuk tetap tenang...&lt;br /&gt;memanggil Nonod untuk naik, " NOd p3k.. ", " SEk to, sabar..."  jawab Nonod, " Getihku ra iso mandeg.." balasku, dan Nonod segera berlari naik. Kupandangi Nonod, ketika datang lalu aku tersenyum, lukaku yang terbelah masih kututup sambil berusaha menghentikan darahnya, kemudian kubuka " Siap ya... ", "opo sih.." tanya Nonod, " Baa...." kuperlihatkan lukaku dan Nonod hanya bereaksi... " aduh... ra wani aku ceng...., nyo obati..." Nonod lalu langsung menaruh tas P3k, dan kemudian datang Lembah, sedikit ada harapan bagiku ada yang menolong ( nah disinilah sialnya), Lembah begitu melihat darah juga hanya berkata " aduh ceng...." dan akhirnya Lembah menjadi asisten saya dalam proses self rescue saya, dan Nonod turun mencari bantuan, setelah luka berhasil saya balut dengan perban kemudian saya berdua duduk dengan Lembah... saya hanya termenung, sejuta pikiran ada dalam pikiran saya, saya minum air, serasa meminum badai dalam ombang ambing lautan emosi yang mendalam... akhirnya saya merokok, rokok Djarum yang selalu tersedia di tas kecilku, dan inilah rokok yang rasanya sangat mengharukan bagi saya...&lt;br /&gt;lalu hujan turun, aku pakai Ponco, dan lembah juga, tetapi... tidak nikmat menunggu dalam hujan lalu aku mencoba untuk jalan turun, bisa ternyata meski dilarang Lembah, tetapi saya ingin jalan turun...&lt;br /&gt;kemudian, tak berapa lama saya jalkan turun rombongan penyelamat datang, mereka sudah bersiap mendragbar saya tetapi saya menolak karena saya tidak ingin itu saya masih bisa jalan saya kemudian membidai sendiri kaki saya... kemudian turun ke titik camp...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengalaman pertama saya, berjalan turun dengan luka saya coba untuk tidak memikirkan luka saya hanya menstimulasi diri saya untuk terus jalan, saya pacu alam bawah sadar saya untuk bisa bergerak dan menggerakan diri saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barulah di titik camp ini, rekan-rekan bivakinhg dengan ponco, kemudian Indra dengan kemampouan p3knya yang cukup kemudian mengobati saya, ini baru perawatan yang benar, lega rasanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian mendirikan Ponco, berdiskusi tentang rencana lanjutan setelah ini, debat panjang...&lt;br /&gt;akhirnya bulat untuk turun dengan mempertimbangkan banyak hal...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, ahh... kota itu membayangiku dengan semakin banyak pikiran...&lt;br /&gt;Glenmore, itu harapan yang kugantungkan kini setidaknya untuk menyelamatkan kakiku...&lt;br /&gt;aku hanya berjalan terus, hingga perjalan dari jam 3 hingga 9 itu jarang berhenti aku mencoba terus berjalan, hingga batas proyek pak Rosyid menjemput tim kami, bersyukur kami selamat...&lt;br /&gt;membawa kami ke rumahnya lalu makan dan segera saya dibawa ke UGD puskesmas Glenmore....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 jahitan saya terima, tanda mata dari Raung...&lt;br /&gt;belum seberapa mungkin daripada apa yang diperoleh Norman Edwin di Ancocagua, ataupun Mas Budil dan Mas Gatot di Progo, tetapi mereka saat itu pun masih tetap bisa menghidupkan mimpi-mimpi orang-orang sesudahnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini hanya wujud kecintaan gunung kepada saya, dan saatnya saya juga untuk mewujudkan kecintaan saya pada gunung, Raung mungkin belum mengizinkan saya untuk itu, tetapi mimpi ini masih saya genggam kuat-kuat untuk kembali ke sana, memeluk lagi belantara itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- TAMAT, untuk berlanjut ---&lt;br /&gt;ini bukanlah sebuah klimaks yang basah, akan ada sebuah klimaks yang lebih basah dan indah dari ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maskomzpalapsi.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-4495016438712197953?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/4495016438712197953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/part-viii-yogyakarta-dan-glenmore.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/4495016438712197953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/4495016438712197953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/part-viii-yogyakarta-dan-glenmore.html' title='Part VIII. Yogyakarta dan Glenmore'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-2044010046044484140</id><published>2009-02-07T08:20:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T08:39:02.700-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='raung oh raung'/><title type='text'>Pasrt VII. Tramontina oh Tramontina....</title><content type='html'>hari ketiga di Gunung, pagi-pagi hari sekali aku dan Lembah sudah bangun, untuk melanjutkan membuka jalur, memakai pakaian basah kami yang tidak pernah sempat kering karena ketika sudah kering karena panas tubuh kami tiap siang kami lalu kembali kehujanan, sehingga pakaian lapangan yang kami pakai ini baunya sudah tidak karuan apalagi harus memakai sepatu kami yang basah, maklum sepatu murah tidak waterproff sehingga kaki saya sempat membeku, dan nek wong jawa menyebtunya ngapal karena jemari kaki saya ngisut akibat basah sehingga tidak dialiri darah,, aku dan lembah membacok modal GPS yang akhirnya nyetel juga bisa online, dan kompas masih membacok membuka kembali jalan yang sudah cukup tertutup meskipun stringline biru masih banyak terlihat masih cukup banyak terlihat, sehingga cukup memudahkan kami, ketika melihat temnpat yang enak untuk berhenti kami berhenti sejenak kemudian segera mengemark titik itu di GPS, kami masih sekitar 700 m dari camp 2 Satubumi, dan ketika itu kami naik sedikit dan jam sudah menunjukkan setengah 8 kemudian kami turun untuk memenuhi perut kami dengan makanan, lalu kami waktu kembali ke camp, dan makanan sudah tersedia namun belum pada packing, selanjutnya kami makan dan packing... setalah itu jam 9, kami mulai berangkat dengan sistem alpine hingga titik terakhir kami, setelah itu aku, lembah, dan nonod membacok, membuka jalan. Waw, jalan yang sekarang sudah mulai menanjak sudah mulai sering melewati punggungan yang ngetrek dan sempit, bahkan yang cukup mengejutkan kami ternyata tim-tim sebelum kami memilih menyeberang dengan menggunakan pohon yang tumbang dengan menyebarangi lembahan sedalam hampir 5 meter, jelas tidak aman menurut kami dan akhirnya kami memilih untuk memotong lembahan itu dengan turun mengambil sisi kiri dari pohon itu, turunnya memang enak dan masih bisa dibilang cukup aman, tetapi naikknya cukup susah karena kemiringannya cukup curam, sampai di titik ini memang kami mengalami kebingungan sama halnya dengan tim Satub, beberapakali berputar-putar juga, mencari jalan untuk tidak menyeberang menggunakan pohon...&lt;br /&gt;dan setelah berhasil menyeberang itu kembali kami menemukan stringline biru dan akhirnya, kami bertiga terus membacok hari itu, kami camping hari itu di camp 3 satubumi, dan selanjutnya aku, lembah, dan nonod kembali membacok dan terus membacok, hingga tinggal 1, 2 km lagi dari camp 4 satubumi, kami mengamping dengan optimisme tinggi malam itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.. akhirnya tiba massa&lt;br /&gt;.. untuk memaknai&lt;br /&gt;.. waktu berganti&lt;br /&gt;.. bukan tanpa arti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- to be continued ---&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-2044010046044484140?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/2044010046044484140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/pasrt-vii-tramontina-oh-tramontina.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/2044010046044484140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/2044010046044484140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/pasrt-vii-tramontina-oh-tramontina.html' title='Pasrt VII. Tramontina oh Tramontina....'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-5566812000578896910</id><published>2009-02-05T04:24:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T04:50:11.704-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='raung oh raung'/><title type='text'>Part VI. Kemana Hangat Matahari?</title><content type='html'>HAri kedua di gunung Raung, 23 Januari, ritual pagi itu dimulai jam 4.30 bangun kemudian beberapa melakukan ibadah subuh, kemudian beberapa lain sibuk memasak terutama rekanita kami, our sister yakni riri, ade, dan zizi meskipun jika tidak ada mas ditdut yang setia membangunkan pagi itu pasti mereka bablas sampai siang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bangun, udara tidak terlalu dingin memang tetapi tidak juga hangat, matahari pagi enggan menembus lebatnya kanopi hutan raung, wow memang dahsyat sekali hutan raung ini.. suasana pagi yang benar-benar syahdu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian segera saja kami melakukan usaha yang sebenarnya tidak merubah banyak hal, tetapi daripada tidak sama sekali yakni menjemur baju di tengah gelapnya suasana pagi, pagi itu memang sedikit sinar matahari masih ada, aku coba membuka GPS dan mark dimana kami berada, ah ternyata memang benar-benar perjalanan masih jauh kawan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami masih akan selama berhari-hari melewati camp di tempat yang basah dan lembab seperti ini, dan akan bercinta dengan p-enuh darah dengan pacet-pacet dan yang sedikit menganggu adalah hewan kecil yang selalu beterbangan, kami sarankan membawa obat nyamuk dan atau lotion anti nyamuk jika anda tidak ingin rokok anda hanya untuk mengusiri hewan-hewan itu, meskipun kami sayang dengan alam tetapi jujur itu membuat kami tidak nyaman karena menimbulkan bentol-bentol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah... pagi itu kami ngaret karena biasalah kami setnya santai, tetapi terlalu santai dan menuruti beberapa orang yang malas-malasan, sehingga baru jam 8 kami selesai makan kemudian jam 9.30 baru selesai packing, maklumlah barang yang dibawa cukup banyak dan terutama para gadis, mana ada yang ribet kebetulan hari itu menstruasi pertamanya pada bulan itu, waduh.... pacet-pacet pasti puas sekali, tidak perlu tempel... langsung sedot... ha2... tapi jangan sampai menempel itu bukan jatah pacet tapi jatahnya 'naga'! ha2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian perjalanan pagi itu dimulai dengan alpine system, sampai titik terkahir kami melihat jalur setapak itu, ternyata jalur yang kami buka 2 jam lebih itu hanya kami lalui sekitar setangah jam! wow, kami membayangkan tim yang sebelumnya pontang-panting membuka jalur ini... pasti lebihj dahsyat lagi petualangan mereka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan ketika sampai titik itu, semi himalayan system kami pakai kemudian, dengan seksama kami bergantian terutama yang lelaki ganti-ganti membuka hutan, kemudian turun lagi ambil carrier, begitu terus menerus dan yang gadis langsung jalan saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan setelah snacking jam 12 hari itu langsung saja kami lanjutkan jalan, dan seperti biasa hujan turun, nah saat yang cocok untuk membabat suklur dan mengisi wadah air mineral kami untuk minuman hujan, setelah kemarin minum air ponco kami sekarang menemukan media yang lebih asik dan segar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan ketika waktu menunjukkan pukul 3, kami membuka tempat camping, dan hujan sudah mereda, waktu itu aku sampai di tempat camp 1 satubumi, terlebih dahulu kemudian disusul teman-teman yang lain baru selanjutnya mereka datang dan aku dan mas ditdut kembali untuk mengambil carrier... dan pembukaan tempat camp dilakukan indra dan teman-teman gadis kemudian, nonod, el, dan lembah membuka jalur...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami mendirikan camping, dan kemudian memasak, setalah saya dan mas ditdut datang di tempat camp itu tentunya karena waktu itu frame kami yang bawa. Kami lihat kembalki jalur kami sebetulnya ada bekas jalur orang tapi kami tidak melihat itu dan kami membuka jalur baru tetapi ini lebih haru, karena prinsip kami waktu itu hanya tembak utara, karena GPS tidak online, sehingga ketika di tempat camp tadi kami menemukan stringline, kembali kami berteriak hore! harapan itu kami jaga selalu dan kami tetap bisa hidup!&lt;br /&gt;meskipun harus naik turun lembahan, dan menyeberangi pohon tumbang yang terasa banyak sekali di Hutan ini...&lt;br /&gt;tapi kami tetap never give up!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari kedua ini, kembali mengemping, nikmat sekali rasanya matras dan pakaian hangat ini, karena pakaian basah yang kami pakai seharian telah kami lepas...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.. seruling alam memainkan lagu&lt;br /&gt;.. dalam galau hati&lt;br /&gt;.. desau angin raung&lt;br /&gt;.. membawa pesan rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- to be continued ---&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-5566812000578896910?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/5566812000578896910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/part-v-kemana-hangat-matahari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/5566812000578896910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/5566812000578896910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/part-v-kemana-hangat-matahari.html' title='Part VI. Kemana Hangat Matahari?'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-5551993979375595757</id><published>2009-02-03T19:22:00.000-08:00</published><updated>2009-02-03T19:51:56.086-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='raung oh raung'/><title type='text'>Part V. Akhirnya Pentas Itu Dimulai</title><content type='html'>malam itu tanggal 21 Januari 2009, setelah packing kami selesai. Nonod, melakukan briefing tentang rencana kami esok harinya, kami semua telah bersiap untuk melakukan pendakian ke gunung Raung esok harinya, ahh... malam ini menjadi malam terakhir kami berada di basecamp pak Rosyid.&lt;br /&gt;jam 06.00 22 januari 2009, kami mulai bangun. Saya segera bersiap, mandi di sungai, dan juga melakukan ritual suci ' boker' menguras perut untuk kenyamanan saja besok ketika berada di gunung, setelah bersalin dengan baju lapangan kami, ada perasaan deg-degan juga waktu itu. tetapi optimisme mencapai Puncak sejati waktu itu, masih kami pegang menjadi motivasi lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jam 08.00 setelah selesai sarapan, yang dengan hangat dan penuh keramahan disiapkan oleh mbah Putri dan bu Rahayu waktu itu, kami kemudian berfoto di depan foto tim, dan selanjutnya kami bersiap cek ulang barang-barang dan dilanjutkan dengan pamitan. Tim ojekers, dari masayarakat Glenmore sudah siap..&lt;br /&gt;jam 08.30 kami berangkat,  jalan menuju awal pendakian berupa makadam, dengan ojek jalan terasa sangat liar, so wild guys beberapa kali kami harus berhenti dari ojek kemudian membenahi carrier kami, bahkan carrrierku sudah jebol di sini - jadi saya sarankan untuk membawa repair kit secukupnya untuk carrier dan sepatu anda jika mau mendaki gunung ini.  Dan setelah melalui jalan ini, kami akhirnya sampai ke batas proyek jalan makadam dan merupakan titik awal pendakian gunung Raung ini. Saya jahit dulu carrier saya, kemudian setelah itu berdoa bersama dan membaca bacaan dari pak Rosyid, yah meskipun kami punya cara sendiri tapi tidak ada salahnya membaca sebagai wujud penghormatan terhadap local wisdom masyarakat sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.00 Pendakian dimulai, kami menyusuri jalan setapak yang ada, meskipun di data dari Satubumi sejak awal dikatakan sudah buka jalur, tetapi kini jalan setapak sudah ada meskipun beberapa kali kami harus mengeluarkan tramontina kami untuk membuka jalur yang sedikit tertutup, jalan setapak ini terbangun dengan indah hingga titik yang kami sebut Regol Alas, karena ada sebuah pohon beringin, yang bercabang 5 yangseperti menjadi regol,  atau gerbang menuju hutan, kami menggunakan sistem alpine dan kadang-kadang himalayan, waktu itu masih coba-coba system yang ok, kami beristirhat sekitar jam 12 untuk snacking, makan beberapa makanan ringan untuk mengganjal perut, dan setelah jam 12 ternyata hujan datang cukup deras, meskipun tidak begitu menggangu kami karena hutan cukup rapat dan hujan kadang tidak tembus ke dalam hutan ini. Setelah itu kami terus berjalan dengan rute yang tidak begitu ngtrek dan jelas rute awal bukan sebuah shock therapy, asiklah buat jadi pembiasaan sebelum pendakian sesungguhnya.. jam 15.00 kami baru sampai ke titik regol alas, yang selanjutnya menjadi camp kami hari itu sekaligus camp pertama kami. Selanjutnya kami sempat bingung disini, GPS e-trek Garmin yang kami bawa tidak online sehingga kami harus, melakukan sebuah teknik by compass dengan mengambil sudut arah utara 0 derajat, dan kami mulai membuka hutan, sore itu ketika kami membuka hutan bertemu, di tengah perasaan yang campur aduk, kami kembali bertemu marka biru, stringline biru entah siapa yang meninggalkannya yang jelas ini memberi secercah harapan buat kami, setidaknya pernah ada yang lewat jalan ini, bahkan yang lebih surprising lagi kami menemukan jalan setapak, tampaknya tim sebelum kami sangat bersemangat membuka jalur bahkan hingga kami menemukan banyak marka, dan jalan yang lebar, baru setelah berjalan beberapa saat dalam hujan itu, kami kehilangan jejak lagi dan waktu itu sudah cukup sore, jam 5 akhirnya kami kembali ke camp..&lt;br /&gt;Camping pertama, wuah beberapa teman di camping sudah memasak dan sibuk, di tenda biru, dan di tenda oren dua jejaka sedang sibuk mengamati sekitar apakah ada pacet atau tidak, aku Lembah dan Nonod segera ganti baju, dan hujan mulai reda, tidak ada hujan malam ini, bintang indah sekali dan setelah makan nasi dan sayur-sayuran dan telor serta sosis waktu itu kami lalu briefing dan segera setalah itu kami tidur, menyiapkan energi untuk hari ke dua....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bidadari&lt;br /&gt;menghampiri dalam sunyi&lt;br /&gt;dalam sunyi&lt;br /&gt;menghantarkan indah mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- to be continued ---&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-5551993979375595757?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/5551993979375595757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/part-v-akhirnya-pentas-itu-dimulai.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/5551993979375595757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/5551993979375595757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/part-v-akhirnya-pentas-itu-dimulai.html' title='Part V. Akhirnya Pentas Itu Dimulai'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-3448513425155612170</id><published>2009-02-01T19:35:00.000-08:00</published><updated>2009-02-01T20:28:21.439-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='raung oh raung'/><title type='text'>Part. IV  Kehangatan Masyarakat Glenmore</title><content type='html'>Kami tiba siang itu di rumah Pak Rosyid, di dusun Sumbermulyo. Sambutan masyarakat Glenmore dan Keluraga pak Rosyid terasa sangat hangat sekali, kemudian kami segera diajak makan bersama. Mereka selalu menganggap kami tamu sekaligus keluarga yang harus dijaga dan dilayani dengan sebaik-baiknya. Begitupun juga kami, sebuah kehormatan bagi kami bisa menjadi sebuah bagian dari keluarga yang santun dan penuh kehangatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal kami lakukan disini, dari main bola dengan Kris dan Rudi, yang kadang-kadang diganggu Kevin, Kris dan Kevin adalah putra dari Pak Rosyid dan Bu Rahayu, Kris sudah SMP sedang Kevin baru 15 bulanm dan sedang asik-asiknya belajar banyak hal baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami terbiasa mandi di sungai, airnya masih asli, dan karena di Jeding milik pak Rosyid tidak ada tempat buat PUP kami terbiasa melakukannya di sungai juga, wah seru pokoknya.&lt;br /&gt;kecuali yang cewek, mereka mandi di jeding, tapi PUPnya tetap di sungai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami belajar banyak hal dari Pak Rosyid yang kaya pengalaman, sebelum kami naik kami diberi rapalan untuk masuk hutan dan si El diberi semacam jimat,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya, kami bersiap untuk berangkat setelah 2 hari bermalam di tempat pak Rosyid....l&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-3448513425155612170?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/3448513425155612170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/part-iii-kehangatan-masyarakat-glenmore.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/3448513425155612170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/3448513425155612170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/02/part-iii-kehangatan-masyarakat-glenmore.html' title='Part. IV  Kehangatan Masyarakat Glenmore'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-1720580266487540388</id><published>2009-01-31T00:19:00.000-08:00</published><updated>2009-01-31T00:35:21.107-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='raung oh raung'/><title type='text'>Part III. Kalibaru - Glenmore</title><content type='html'>tanggal 20 januari waktu itu, kami sudah beredar di sekitaran Kalibaru, setelah semalam bermalam di Polsek Kalibaru, kami merencanakan untuk berangkat ke Basecamp gunung Raung rumah Pak Rosyid di dusun Sumber Mulyo, Margomulyo, Glenmore pada hari ini, kami rencanakan memakai taksi milik Pak Kastur, tetapi entah mengapa pak Kastur yang kami ketahui tinggal di warung Enggal stasiun Kalibaru, tiba-tiba menghilang yang jaga warung juga tidak mampu memberi banyak keterangan kecuali hanya bilang pak Kastur sudah tidak di warung lagi dan sedang sakit di rumah...&lt;br /&gt;nah, warung Enggal ini cukup recomended bagi kita-kita yang backpakcer, bahkan warung-warung sekitar stasiun pun demikian juga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu kita turun dari stasiun biasanya langsung disambut tukang ojek yang menawarkan diri, tetapi harus tenang dan berhati-hati, jika anda ingin ke jalur Kalibaru tawarlah hingga sekitar 10 ribu rupiah per orangnya, dan jika ke glenmore, usahakan hanya 15 ribu saja, karena ongkos taksi jika dicarter 9 orang juga segitu. Taksi ini bukan taksi mercy yang anda kenal, taksi disini adalah sebuah colt yah angkotlah bahasa gaulnya, dan biaya ojek disini IDR 10.000 adalah untuk 1 orang, bukan 1 motor... jadi bersiaplah untuk 1 motor untuk 2 atau lebih orang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami kemudian mendapatkan taksi dengan biaya 15 ribu per orang kemudian menuju ke arah Timur dari stasiun Kalibaru yakni ke arah Glenmore, kami berhenti sejenak di polsek Glenmore untuk laporan bahwa kegiatan kami akan segera dimulai, setelah sebelumnya kami telah building raport terlebih dahulu waktu survey. Dari stasiun ke Polsek ini makan waktu kurang lebih 20 menit, jadi jangan coba-coba jalan jika tidak ingin kaki anda kecapekan. Kemudian dari Polsek ada pertigaan, kami ambil ke arah utara ke arah pasar Glenmore, kemudian disini bertemu pak Rosyid yang memang bertugas di sini, kemudian langsung beranjak ke rumah pak Rosyid, yang memakan waktu kurang lebih 1 jam, dari pasar Glenmore- Perkb. Glenmore - Sumbermanggis jalan aspal sudah halus, tidak seperti waktu saya dan nonod survey jalannya masih berbatu dan tidak nyaman apalagi tukang ojekknya nekat kami berdua diboncengnya walhasil bocorlah bannya. Kemudian dari Sumbermanggis- Sengonan - Sumbermulyo merupakan jalan off road yang seru, dan becek ketika hujan turun,, dan setelah perjalanan yang cukup jauh itu akhirnya kami sampai di rumah pak Rosyid...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nyanyian lembah Glenmore ala Satubumi itu pun menyambut kami,, kehangatan mulai terpancar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- to be continued ----&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-1720580266487540388?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/1720580266487540388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/01/part-iii-kalibaru-glenmore.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/1720580266487540388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/1720580266487540388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/01/part-iii-kalibaru-glenmore.html' title='Part III. Kalibaru - Glenmore'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-2623015685688649176</id><published>2009-01-29T22:55:00.001-08:00</published><updated>2009-01-29T23:20:34.735-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='raung oh raung'/><title type='text'>Part II. 14 Jam Di Kereta Sri Tanjung</title><content type='html'>kami berangkat dari Lempuyangan jam setengah 8, pagi itu membawa berbagai harapan yang kami taruh bersama di dalam rangkaian carrier, yang kami letakkan di atas tempat tas kereta Sri Tanjung ini. Kereta yang mengambil nama seorang raja Banyuwangi yang perkasa hingga bahkan penguasa-penguasa Majapahit maupun selanjutnya Mataram tidak mampu menaklukkannya ini,&lt;br /&gt;namun sayang kini harus takluk oleh Argo Bromo, Argo Lawu, Sancaka, atau bahkan Prambanan Ekspress, karena sebagai sebuah kereta kelas 3 mau tak mau akhirnya sang Raja harus berhenti, mengalah laksana abdi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun kereta ini 'selalu' setia menjemputi tiap penumpangnya di tiap stasiun, penumpang-penumpang yang ingin menikmati kemewahan yang disuguhkan sang Raja, yang mungkin hanya mampu memberi hiburan musik dengan gitar, dengan ketipung, ataupun dengan kencrung, yang hanya mampu memberi angin melalui jendela, dan menyediakan makanan yang selalu hilir mudik, dan minuman juga hilir mudik sepanjang jalannya sang Raja, inilah kemewahan dari sang Raja, yang kadang memberi sejenak udara panas dengan kamar mandi yang cukup layak untuk ukuran layak, tapi untuk ukuran Raja, kamar mandi seperti itu adalah sebuah petaka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di dalam kereta setiap orang berinteraksi satu sama lain, ibarat sebuah pasar, gerbong ekonomi selalu menyatukan setiap elemen yang ada di dalamnya. Setiap orang yang larut dalam mimpi-mimpi mereka sendiri tiap orang yang mempunyai pengharapan masing-masing, dalam kelelahan, kekhawatiran, tetapi mimpi itu tetap terjaga dengan rapi, yah setidaknya mereka masih bisa bermimpi, atau itu yang hanya mereka bisa? di dalam setiap botol yang mereka bawa dan setiap lapak asongan yang mereka angkut, atau setiap lagu yang mereka nyanyikan, setiap butiran nasi yang mereka tawarkan, dan setiap stasiun yang kami lewati kami menaruh sebuah pengharapan yang besar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kereta ekonomi ini berjalan, pelan berjalan selalu berjalan entah selamat entah tidak, tetapi setiap orang yang terlibat dalam system perjalanan ini pasti menjaga sepenuhnya perjalanan ini, ahh... kereta ekonomi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak terasa 14 jam sudah kami berada dalam kereta ini, akhirnya... terowongan Panjang Kali Baru sudah menyapa kami pertanda kami sudah dekat. Stasiun Kalibaru kami jejakkan kakimu kepadamu pukul 21.45, perjalanan yang penuh makna jika kita mau meresapinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;soto madura untuk malam ini, di utara stasiun terasa nikmat, dan kehangatan mushola Polsek Kalibaru terasa indah untuk menjadi teman kami tidur malam ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- to be continued ---&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-2623015685688649176?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/2623015685688649176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/01/part-ii-14-jam-di-kereta-sri-tanjung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/2623015685688649176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/2623015685688649176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/01/part-ii-14-jam-di-kereta-sri-tanjung.html' title='Part II. 14 Jam Di Kereta Sri Tanjung'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-8007149213743077980</id><published>2009-01-29T01:16:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T23:19:33.545-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='raung oh raung'/><title type='text'>Sebungkus Cerita Dari Raung 19-28 Januari 2009</title><content type='html'>Part I " Pertunjukkan Dimulai!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raung adalah sebuah gunung di Jawa Timur, dengan ketinggian sekitar 3342 mdpl. Membentang di antara kabupaten Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso. Ada beberapa jalur pendakian untuk ke sana, diantaranya jalur Sumber Waringin, Jember yang merupakan jalur Umum, Jalur Kalibaru yang dibuka oleh Pataga Surabaya pada tahun 2002 yang menuntut kemampuan artificial tinggi, dan jalur Glenmoire yang dibuka Mapala UI tahun 2005 dengan menembus lebatnya hutan basah antara 5 hingga 7 hari, dan tim FUD Palapsi waktu itu memutuskan untuk memakai jalur Glenmore, yang baru 2 tim saja yang berhasil mencapai puncak sejati, yakni tim Mapal UI tentu saja, dan Tim Satubumi, dan tim kami yang akan mencobanya, meskipun kawan-kawan sudah tahu hasilnya apa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berangkat dari Lempuyangan, memakai seragam FUD Palapsi, berwarna abu-abu dan di antar oleh segenap keluarga Besar Palapsi, kami berangkat pertama dengan menaiki kereta Sri Tanjung yang akan menjadi sekret kami kurang lebih selama 14 jam ke depan,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami ber sembilan, Nonod, Achenk (saya), Lembah, Ditdut, El, Indromi, Zizi, Ade, dan Riri, dengan wajah tegak, menerawang jauh menuju belantara Raung...&lt;br /&gt;tak sabar rasanya waktu itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- to be continued ---&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-8007149213743077980?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/8007149213743077980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/01/sebungkus-cerita-dari-raung-19-28.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8007149213743077980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/8007149213743077980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/01/sebungkus-cerita-dari-raung-19-28.html' title='Sebungkus Cerita Dari Raung 19-28 Januari 2009'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-1770752894361848639</id><published>2009-01-13T22:09:00.000-08:00</published><updated>2009-01-13T22:26:18.720-08:00</updated><title type='text'>...</title><content type='html'>Lelah melangkah&lt;br /&gt;menjejaki setapak basah&lt;br /&gt;hujan mencumbui tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu angin dingin&lt;br /&gt;perlahan merasuki&lt;br /&gt;tiap jengkal ketakutan&lt;br /&gt;merabai hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masihkah semangat&lt;br /&gt;itu hidup&lt;br /&gt;dan menjadi api&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekeliling tampak sendu&lt;br /&gt;tak kurasa haru&lt;br /&gt;dan dingin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-1770752894361848639?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/1770752894361848639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/01/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/1770752894361848639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/1770752894361848639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/01/blog-post.html' title='...'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-7644002379844697585</id><published>2009-01-07T22:09:00.000-08:00</published><updated>2009-01-07T22:28:03.902-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dari Aksara'/><title type='text'>Palestina</title><content type='html'>perang di atas tanah suci, bukan berarti lantas itu sebuah perang suci, terlepas dari berbagai anggapan tentang perang itu sendiri di masing-masing kubu. Perang hanya menyediakan derita, dan pemenang yang keluar adalah serdadu terluka yang kesulitan memaknai kemenangannya. Meskipun demikian perang harus dilakukan, sebagai cara untuk mencari keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan tanah suci, Yerusalem, Palestina (atau Israel?).  Menjadi saksi sebuah perang yang berkobar, entah dari jaman Kristus, hingga kini jaman Bush. Beribu jendral, menabuh genderang dan lalu berjuta korban tercipta, atas nama sebuah ambisi. Entah apa yang menarik dari dalam tanah Yerusalem, kecuali Tanah yang Dijanjikan, Masjidil Aqsa, Gereja Betlehem, sehingga demikian banyak orang berusaha menaklukannya tak jarang dengan darah meskipun kita tahu ketiga tempat itu berakar dari sebuah ajaran yang mulia yang mereka sebut dengan agama, yang saya percayai tidak mengajarkan pertumpahan darah. Dan perang yang muncul tidak lain hanya sebuah manifestasi ambisi dan kehausan akan kekuasaaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik, adalah buatan manusia sementara agama adalah ciptaan Tuhan, pencampuradukan keduanya bisa berubah fatal, kecuali menjalankan politik dengan agama semurni-murni apa yang diajarkan agama tentang kepemimpinan dan kenegaraan. Dan itu berarti politik busuk harus dihapuskan jika akan menjalankan agama seutuh-utuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sehingga, tidak perlu lagi air mata kepada bayi, dan korban tak berdosa lainnya, dan tak perlu lagi ada dendam untuk kematian yang sia-sia. Jika kita mau belajar untuk menghargai dan menghormati manusia dan agama sebagaimana Tuhan menempatkan kita pada tempat yang terbaik sebagai manusia. Tapi apa daya kita bukan Tuhan, kita selalu penuh dengan kesalahan. Bukan mencari pemakluman tapi mengajak untuk lebih bijak dan memaknai lebih dalam arti yang terpendam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-7644002379844697585?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/7644002379844697585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/01/palestina.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7644002379844697585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/7644002379844697585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/01/palestina.html' title='Palestina'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1103598346400913052.post-6426949501878031958</id><published>2009-01-07T21:55:00.001-08:00</published><updated>2009-01-07T21:58:14.321-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dari Aksara'/><title type='text'>Mengurai Aksara dalam Badai</title><content type='html'>dalam badai, kecil. Badai-badai yang menghantarkan ke dalam sebuah simbolisasi makna, berlanjut kemudian menyapu ke setiap lekuk aksara yang terurai, dan tersadari sebuah tulisan tak bermakna tanpa aksara di dalamnya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1103598346400913052-6426949501878031958?l=maskomzpalapsi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/feeds/6426949501878031958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/01/mengurai-aksara-dalam-badai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/6426949501878031958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1103598346400913052/posts/default/6426949501878031958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskomzpalapsi.blogspot.com/2009/01/mengurai-aksara-dalam-badai.html' title='Mengurai Aksara dalam Badai'/><author><name>Acheng Komz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06555834588896872605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_0sF8fvm6k3U/SWWX-MDXgnI/AAAAAAAAAAM/uHaRYuGnz50/S220/IMG_9444.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
